Senin, 10 Oktober 2011

Nuun. By the pen and what they inscribe.

Oleh : Hasby Marwahid
Ilmu pengetahuan semakin berkembang pesat, apalagi di abad yang serba modern ini. Teknologi ciptaan manusia mengalami kemajuan yang cukup significan dalam segala aspek dan mengisi peradaban manusia, tentu dengan segala dampaknya. Manusia semakin cerdas dan kritis dalam membangun peradaban ini. Dari zaman ke zaman, abad ke abad, silih berganti, dari barat ke timur dan sekarang ke barat lagi (Yunani-Romawi masa klasik, Islam dengan Dinasti-dinastinya dan sekarang Eropa dengan peradabannya).
Tidak bisa kita pungkiri dampak dari hal ini adalah tulisan. Ilmu pengetahuan lahir karena tulisan. Kecerdasan memang ada pada otak, karena manusia diberi akal oleh Allah, akan tetapi jika pemikiran brilian tersebut tidak dituangkan dalam tulisan hal ini akan menjadi absurd. Cobalah kita membayangkan dunia tidak ada tulisan/buku? Karena dalam sejarah tingkat mengenal tulisan tersebut menjadi tolak ukur maju atau tidaknya sebuah peradaban, tentu dalam arti secara global.
Tradisi menulis yang dipunyai oleh orang-orang barat dan timur berdampak pada kemajuan intelektual sekarang ini. Mari kita coba menengok masa silam di mana para ilmuan Islam menuangkan gagasan-gagasan mereka dalam sebuah tulisan. Masa Dinasti Abbasiah mengalami puncak kejayaan di bawah pemerintahan Harun Al-Rasyid (786-809 M). Pada masa ini kesejahteraan social, kesehatan, ilmu pengetahuan dan kebudayaan berada pada zaman keemasan karena ketika itu Baghdad menjadi salah satu pusat ilmu pengetahuan dunia..
Zaman ini melahirkan ilmuan terkemuka seperti Al Kindi, Ibn Sina, Al Farabi dan lainnya dengan berbagai karyanya dalam bidang filsafat, kedokteran dan masih banyak lagi. Selanjutnya pada masa Bani Ummayah di Cordova (Spanyol) muncul Abu Bakr ibn Thufail, Ibn Rusyd. Proses penterjemahan karya-karya dari masa Klasik (Yunani-Romawi) dan karya-karya lainnya yang  kemudian dikembangkan lagi. Apalagi setelah tahun 300 H ditemukan kertas membuat pengembangan ilmu pengetahuan semakin meluas. Dengan demikian peradaban Islam pada waktu itu mencapai puncak kejayaan.
Terlepas dari masa di mana kejayaan Islam mari kita melihat masa sekarang untuk menerawang masa yang akan datang. Menulis merupakan sebuah kewajiban yang harusnya dimiliki oleh umat Islam. Ali bin Abi Thalib pernah berkata, "Ilmu itu seperti hewan buruan, maka ikatlah ia (dengan menuliskannya)." Dalam Q.S Surat al-’Alaq ayat 1 sampai 5 sebagai wahyu pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad berisi penegasan tentang keutamaan membaca (iqra’) dan menulis (allama bi al-qalam).
Menulis berarti menyampaikan apa yang kita baca, entah itu setelah membaca buku maupun apa yang terdapat dalam pikiran kita. Dengan menulis kita dapat menyebarkan kebenaran, menyebarkan ide dan pemikiran, melontarkan gagasan, menyampaikan kritikan atau hanya sekedar memberi tanggapan. Sebaliknya, dengan tulisan seseorang bisa juga menyebarkan kebatilan, merusak moral, mem-provokasi, menghina, menghasut, memfitnah, dan berbagai propaganda yang akan membawa kepada kehancuran lainnya. Dengan tulisan juga, seseorang bisa mencoba merancang dan merumuskan bentuk peradaban dan masa depan impian atau kehidupan ideal yang masih dalam angan-angan.
Sesungguhnya mata rantai dari cara mengadabkan manusia dan kehidupan dimulai dari membaca. Ilmu dimulai dengan mengenal kata, kata menjelaskan benda, menjelaskan keadaan, menjelaskan maksud, ide, kata dapat menyusun pengetahuan menjadi ilmu. Ketika Allah SWT mengajarkan kepada Nabi Adam kata, yaitu nama-nama benda, pada saat itulah proses kata menjadi ilmu berlangsung. Semakin lama akal dimanfaatkan untuk memaknakan sesuatu maka makin hebat “kapasitas akal menjadi bertambah”. Bertambahnya kapasitas akal manusia itu berjalan seiring dengan majunya peradaban manusia.
Proses membaca dan menulis merupakan hal yang sangat penting untuk merangsang kapasitas akal manusia untuk terus menerus melakukan kegiatan yang dinamakan “berfikir”. Akan tetapi mata rantai tersebut tidak hanya membaca, menulis, berfikir saja. Masih ada satu lagi yaitu bertindak dan didukung dengan hati nurani. Pada masa ini, banyak manusia yang pintar, cerdas tapi tidak pada tempatnya. Perbuatan kejahatan seperti korupsi kolusi nepotisme (KKN), pembunuhan, ketidakadilan, penindasan dan lain sebagainya semakin marak terjadi. Mereka bertindak tanpa didukung dengan hati nurani, maka yang terjadi adalah kerusakan dalam segala hal.
Maka dari itu perbuatan mengadabkan dan membangun masa depan seperti yang kita dambakan harus dimulai dari diri kita sendiri. Proses membaca (reading habbit), menulis (writing habbit), berfikir dan disertai dengan bertindak harus kita mulai. Demi merebut kembali masa kejayaan Islam yang sekarang tinggal cerita. Pelajari sejarah dimana kita dulu pernah berada di puncak, kemudian diperjuangkan kembali. Bukan hanya dijadikan bahan bacaan yang makin lama makin usang terus kemudian didongengkan kesana-kemari. Oleh sebab itu dengan pena dan tulisan kita coba untuk menghadang dan melawan pembiadaban kehidupan dunia ini. Ketajaman pena itu lebih dahsyat dari ujung senapan, lebih tajam dari pedang, dan mampu menggerakkan manusia dengan karya dan idenya.

Nuun. Walqolami Wamma Yasthuruun
Munggur, 11 Oktober 2011
3:50 A.M


Referensi ;
Ahmad Azhar Basyir, Citra Masyarakat Muslim, BPFE UII: Yogyakarta, 1984.
Ajad Sudrajad, Filsafat Sejarah II, Diktat Kuliah, 2009.
Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam (Dirasah Islamiyah II), Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2003.
Ziauddin Sardar, Kembali ke Masa Depan, Syariat Sebagai Metodologi Pemecahan Masalah. (Terj: Helmy Mustofa dkk), Jakarta: Serambi, 2005.

0 komentar:

Posting Komentar