Minggu, 10 April 2016

Tentang Rasa, Jogja dan Kehilangan


Bukankah Yogyakarta memang begitu? Ia adalah rindu, ia adalah benci. Diam-diam, kita jatuh cinta kepadanya.[1]


            Pluit sudah dibunyikan dan kereta sebentar lagi berangkat. Sebuah kuda besi tua yang sangat berisik suaranya meraung-raung seperti terlihat lelah. Orang berduyun-duyun dan ada beberapa berlarian mengejar kereta yang hampir berangkat. Diantara orang-orang itu, aku pun ikut berlari tergopoh-gopoh memasuki peron stasiun dan melesat menuju gebong. Kubuka tas dan segera mengambil tiket untuk mencari dan memastikan tempat duduk yang tertera disana. Yap, dapatlah kursiku bersebelahan dengan ibu-ibu muda. Aku sekali lagi memastikan tempat duduk dan ternyata benar. Tak berapa lama, datang sepasang suami istri mengisi tempat duduk depanku. Yah, kereta yang aku naiki adalah kereta ekonomi AC, dimana setiap penumpang harus duduk berhadap-hadapan dan berhimpitan. Setelah mengatakan permisi dan memastikan tempat duduknya, sepasang suami istri ini meletakkan barang-barangnya dan kemudian duduk. Barang yang dibawa cukup banyak, beberapa tas dan tentengan-tentengan tas plastik.
            Selang beberapa detik, kereta itu segera berjalan. Gerbong yang aku naiki cukup penuh karena memang sedang bertepatan dengan libur panjang. Artinya, hari jumat merupakan tanggal merah dan waktu yang sedikit ini dimanfaatkan untuk berlibur, pulang dan sebagainya. Bagi orang-orang yang bekerja dan punya kesibukan, libur beberapa hari akan sangat berarti sekali. Beberapa orang sudah terlihat bercakap-cakap satu sama lain. Model kereta ekonomi yang mempunyai tempat duduk yang saling berhadapan dan cukup sempit untuk meluruskan kaki memang seolah membuat mereka sekedar menyapa, atau bahkan mengobrol. Ada pula yang cuek dan memasang headset dan memejamkan mata.