Minggu, 10 April 2016

Tentang Rasa, Jogja dan Kehilangan


Bukankah Yogyakarta memang begitu? Ia adalah rindu, ia adalah benci. Diam-diam, kita jatuh cinta kepadanya.[1]


            Pluit sudah dibunyikan dan kereta sebentar lagi berangkat. Sebuah kuda besi tua yang sangat berisik suaranya meraung-raung seperti terlihat lelah. Orang berduyun-duyun dan ada beberapa berlarian mengejar kereta yang hampir berangkat. Diantara orang-orang itu, aku pun ikut berlari tergopoh-gopoh memasuki peron stasiun dan melesat menuju gebong. Kubuka tas dan segera mengambil tiket untuk mencari dan memastikan tempat duduk yang tertera disana. Yap, dapatlah kursiku bersebelahan dengan ibu-ibu muda. Aku sekali lagi memastikan tempat duduk dan ternyata benar. Tak berapa lama, datang sepasang suami istri mengisi tempat duduk depanku. Yah, kereta yang aku naiki adalah kereta ekonomi AC, dimana setiap penumpang harus duduk berhadap-hadapan dan berhimpitan. Setelah mengatakan permisi dan memastikan tempat duduknya, sepasang suami istri ini meletakkan barang-barangnya dan kemudian duduk. Barang yang dibawa cukup banyak, beberapa tas dan tentengan-tentengan tas plastik.
            Selang beberapa detik, kereta itu segera berjalan. Gerbong yang aku naiki cukup penuh karena memang sedang bertepatan dengan libur panjang. Artinya, hari jumat merupakan tanggal merah dan waktu yang sedikit ini dimanfaatkan untuk berlibur, pulang dan sebagainya. Bagi orang-orang yang bekerja dan punya kesibukan, libur beberapa hari akan sangat berarti sekali. Beberapa orang sudah terlihat bercakap-cakap satu sama lain. Model kereta ekonomi yang mempunyai tempat duduk yang saling berhadapan dan cukup sempit untuk meluruskan kaki memang seolah membuat mereka sekedar menyapa, atau bahkan mengobrol. Ada pula yang cuek dan memasang headset dan memejamkan mata.
Tapi, dari beberapa yang aku amati sekilas, percakapan pecah dari kursi dan orang-orang di gerbong itu. Solidaritas dan keramahan orang-orang Indonesia setidaknya bisa terlihat dari sini. 
            Sementara, aku masih memejamkan mata, tapi otakku masih bergerilya kemana-mana. Badanku masih letih sehabis bergelut mengejar kereta. Aku jadi berpikir, bahwa ternyata hidup ini seperti orang naik kereta. Kereta tidak akan menunggu kita, tapi kita yang harus menunggunya. Jika tidak? Sesuai dengan jadwalnya, kita ditinggalnya. Ramai percakapan antar orang-orang digerbong mengantarkan tidurku. Semakin ramai aku semakin menjadi, mata mengantuk tapi otak terus bekerja, entah mendengarkan ataupun berpikir kemana-mana.
            Ya, kereta yang aku naiki terus melesat dari stasiun pasar senen sampai ke Yogyakarta. Aku menumpang kereta gerbong ekonomi, dimana tiket murah harus dipesan jauh-jauh hari. Paling murah kurang lebih sekitar Rp. 70.000,- sampai mencapai harga Rp. 280.000,- an. Kebetulan, karena dadakan aku mendapat tiket yang berada di tengah-tengah, sekitar Rp.150.000,- an. Kereta ekonomi AC menurut saya sudah cukup nyaman, tanpa ada ketakutan copet dan bau karena asap rokok. Kursi pun sudah sesuai dengan yang tertera di tiket. Berbeda dengan kondisi kereta ekonomi pada beberapa tahun silam, dimana orang mendapat tempat duduk masih dengan tagline siapa cepat dia dapat. Masalah keamanan pun tidak menjadi jaminan, pasalnya orang lalu lalang keluar masuk. Ada pedagang, ada pengamen, dan orang-orang asing lainnya. Meski tidak menolak hal itu, karena mereka juga punya anak istri yang harus dinafkahi, terutama para pedagang asongan. Nampaknya PT KAI merevolusi hal ini, sehingga kini gerbong kereta api ekonomi AC menjadi tampak nyaman. Bahkan, beberapa waktu lalu, ada penumpang yang kedapatan merokok di WC dan diketahui oleh Polsus (polisi khusus) kereta. Orang tersebut langusng diturunkan di stasiun terdekat, tanpa tolerasi. Bagus juga, meski saya juga merokok, akan tetapi hal ini juga menghormati orang-orang yang tidak merokok. Ada ibu-ibu apalagi di gebong tersebut banyak bayi juga.
            Keretaku sudah sampai di Yogyakarta, tepatnya di stasiun Lempunyangan. Kereta tiba hampir tepat waktu, hanya selisih beberapa menit dari jadwal yang tertera di tiket. Tiba juga aku di kota kelahiranku, kota yang sulit sekali untuk move on dari sini. Udara dan hawanya seolah menyiratkan kerinduan. Setiap sudut kotanya, suasananya, orang-orangnya yang ramah, dan kota ini banyak sekali kenangan. Kenangan masa kecil, remaja dan dewasa, sampai pada saat aku harus meninggalkan kota ini untuk belajar ditempat lain. Ada kenangan manis dan pahit yang tertinggal di kota ini, meski pun itu hidup memang harus melewati masa-masa itu. Hidup dimanapun seperti roda, kadang di atas kadang di bawah, kadang manis dan pun kita harus juga mencecap pahit. Seolah, dunia ini seimbang. Ada malam dan siang, ada baik, buruk, hitam, putih dan sebagainya. Tinggal bagaimana kita menyikapinya, barangkali. Yogyakarta, kata Joko Pinurbo, terbuat dari rindu, pulang dan angkringan. Atau mengutip dari Anis Baswedan, yang sekarang menjabat sebagai menteri Pendidikan dan Kebudayaan, bahwa semua orang yang pernah tinggal di Yogyakarta, setiap sudut kotanya itu romantis.
            Sembari menunggu kawan yang akan datang menjemput di stasiun Lempuyangan, aku menunggu di sebuah warung angkringan. Letaknya persis didepan pintu masuk stasiun, ada warung-warung berderet juga.
Nyuwun sewu, pak. Kulo mesen teh anget setunggal”, kataku pelan kepada bapak penunggu angkringan.
            “Njih mas”, katanya. “Badhe tindak nopo wangsul niki mas?”, kata bapak itu menimpali. Sebuah percakapan pun terjadi. Begitu ramah bapak ini, kangenku dengan Yogyakarta seakan terobati. Aku hanya sedikit memberi jawaban-jawaban atas pertanyaan ibu ini. Aku lebih banyak bertanya, tentang Yogya, tentang suasana sekarang dan yang tidak ditebak, tentang hidup. Bapak ini bercerita seolah aku ini orang yang sudah lama ia kenal. Gaya ceritanya begitu mengalir, mulai dari bisnis angkringan yang merupakan satu-satunya mata pencahariannya dan tentang keluarganya. Benar-benar sebuah percakapan yang menarik. Secara tidak langung, aku mulai mengkait-kaitkan benang merah dari cerita bapak ini. Bahwa, meskipun hidup ini berat, tapi kita harus terus berusaha dan juga berdoa. Namaya juga wirausaha, hasilnya tidak pernah bisa ditebak. Jika sedang ramai, bapak ini bisa menyisihkan untuk ditabung. Jika sedang sepi pun, meski hasil jualan sehari hanya untuk memutar modal kembali, dalam artian untuk jualan hari berikutnya. Kata bapak ini, punya anak dua laki-laki semua. Semua lulusan SMK, satunya masih nganggur dan satunya kerja sebagai cleaning service di sebuah Mall yang baru didirikan belum lama. Sedang istrinya, sudah meninggal sejak kedua anaknya masih mengenyam sekolah dasar.
            Kulihat bapak ini menyeka dahinya, meski malam ini dingin, nampaknya dia berapi-api menyampaikan ceritanya kepadaku. Diseduhnya sebuah kopi panas hitam pekat tanpa gula. Ditaruhnya didepannya dan kembali duduk dikursi. Sejenak ia memangdangi kopinya, bau kopi hitam pekat pun sampai ke hidungku. Wangi, sedap, dan tentu saja pahit. Diseruputnya perlahan kopi itu, dan ia mengambil sesuatu di kantongnya. Kulihat secara diam-diam, dia meracik rokok. Rokok yang istilahnya “linting dewe” atau tengwe, sebuah rokok yang diracik sendiri, mulai dari tembakau, kertas, cengkeh. Ia terus melanjutkan ceritanya, entah apa yang dceritakan. Fokus aku lebih kepada cara dia meracik rokok itu. Cukup lihai, dalam semenit rokok sudah jadi, kulihat dia menjilat pinggirnya, sebagai pengganti lem. Dikeluarkannya korek dari kantong celana, dan bapak ini membakarnya. Asap tebal membumbung di udara, seakan memenuhi sesisi warung angkringan itu.
            Tidak lama berselang, temanku datang dan segera masuk ke angkringan. Bersalaman dan sedikit berpelukan, sudah lama memang kita tidak berjumpa. Basa-basi menanyakan kabar dan sebagainya, dia pun aku suruh memesan minuman. Sembari santai dulu karena di luar sedang gerimis. Akhir-akhir ini, kata bapaknya, Yogyakarta sedang dirundung hujan. Biasanya hujan turun pukul 15:00 sampai malam hari. Kadang disertai angin dan dibeberapa lokasi juga terjadi banjir. Air meluap ke jalan raya karena parit yang semakin sempit dan tumpukan sampah yang menyumbat. Bahkan, beberapa hari lalu, turunnya hujan disetai dengan angin pun memakan korban. Tepatnya di daerah kebun binatang gembira loka. Pohon yang tumbang menimpa orang yang sedang berteduh dan pedagang yang biasanya berjualan disitu. Tidak jelas, berapa jumlah korban dari kejadian itu. Aku dan kawanku khusuk mendengarkan ceritanya. Tiba-tiba, batuk menghentikan ceritanya, bapak itu terlihat kepayahan. Ia menyeruput kembali kopi hitam pekatnya.
            Pandanganku kualihkan keluar, mengamati depan stasiun. Orang lalu-lalang keluar masuk stasiun. Ada yang datang dan ada yang akan pergi. Beberapa orang membawa oleh-oleh terlihat kelelahan. Ada yang membawa bakpia dengan ditenteng, dan beberapa lagi membawa barang-barang yang dibungkus dalam kardus. Ada pula, seorang bapak-bapak muda yang membawa beras, dipikul di pundaknya. Sementara istrinya menggendong anaknya sembari pula menenteng barang-barang. Beberapa lagi masih terlihat lesehan, mungkin menunggu jadwal kereta berangkat dan ada pula yang menunggu jemputan. Para taksi, becak, dan tukang ojek hilir mudik menawarkan jasanya. Kulihat disamping, temanku sedang asik mengutak-atik handphonenya. Sedang, bapak penjual angkringan terlihat melamun. Hujan masih turun dengan derasnya. Ada beberapa orang yang masuk juga ke angkringan, berteduh dan memesan minuman panas. Menyicipi nasi kucing, sate usus, dan beberapa gorengan.
            Sejenak berbincang dengan kawanku, mengambil sikap, apakah terus berteduh atau nekat menembus hujan untuk pulang. Rindu sekali aku terhadap rumah. Bapak, ibu, kedua orangtua ku, dan rumah tentu saja. Sudut-sudut rumah, keheningan dan ketenangan yang tidak aku dapati dimanapun. Belum lagi nasihat-nasihat ayah dan ibu yang mengalir begitu deras, seolah menjadi penyemangat kembali, bahwa hidup harus terus berjalan. Ketika putus asa melanda, atapun sepi dan sedih seolah terhapus dengan menginjak rumah dan bertemu dengan mereka. Temanku sudah bersiap memakai mantel hujan, motor sudah dihidupkan, dan aku segera membonceng. Perlahan menyusuri jalanan Yogyakarta, motor bergerak ke arah timur. Melewati jembatan lempunyangan, stadion mandala krida, jalan kusuma negara, melesat ke selatan, jalan gedong kuning. Dan, akhirnya melintasi ring road timur memasuki jalan wonosari. Aroma rumah sudah tercium dari jauh, bercampur dengan aroma hujan. Syahdu. Aku terus menatapi setiap jengkal tanah dan jalan yang dilewati. Seolah tidak ingin sedikitpun yang terlewatkan. Tiba-tiba, sudah sampai halaman rumah. Dan, hujan masih turun dengar derasnya. Tengah malam.
***
            Kepulanganku kali ini untuk menghadiri undangan kawan yang menikah, meski belum lama kemarin aku sudah pulang. Bulan Maret ini aku sudah pulang dua kali. Tapi, kali ini seolah aku harus pulang, entah. Pernikahan kawanku ini sepertinya harus aku hadiri. Sore hari kami berangkat bersama mempelai pria, yang juga kawanku. Tidak pernah menyangka juga, dia menikah secepat ini. Ya, memang sudah waktunya barangkali. Dengan mengendarai mobil, kami berangkat sedikit terlambat karena mempersiapkan alat-alat. Kali ini dia meminta bantuan kawan aku yang memang jago dalam membuat video wedding dan aku hanya membantu sebisanya.
            Jarak Sragen dan Yogyakarta memang cukup, tidak jauh tidak pula dekat. Ada pilu ada senang ada hambar yang tercipta di perjalanan. Yah, kawanku, diam seribu bahasa. Tidak seperti biasanya. Sosok yang periang, kelihatan tegang. Namanya Mano, bukan Manohara, itu potongan dari nama panjanganya saja. Orangnya tinggi, besar, dan rusuh. Entah kenapa, dia seolah biang kerusuhan. Ya, tapi kalau tidak ada dia seperti seolah sepi. Seperti sepi yang kurasakan dalam perjalanan ini, bukan sepi karena kawan, tidak. Hanya kekosongan saja, bukan yang lainnya. Kulihat kursi sampingku, temanku, namanya waasyi, mulutnya menganga dan matanya terpejam. Kuamati didepan, Mano menatap jalan, menyusuri setiap sekat-sekatnya. Disampingnya, pak sopir, entah siapa namanya, terus melajukan mobilnya, tanpa kata, tanpa suara. Diluar hujan rintik menuju deras. Dibeberapa tempat, banyak jalan berlubang dan tidak rata. Tapi, mobil terus melaju. Kerlap-kerlip lampu kendaraan, lampu-lampu jalan membuat mataku berkunang-kunang. Dan gelap.
            Akhirnya tiba di Sragen. Aku dibangunkan dari lelap mimpi, membuyarkan angan-angan dari fana ke dunia nyata. Aku terbangun, sehabis tenggelam kedalam lamunan sebuah perjalanan.[2] Mobil berhenti di sebuah hotel atau hostel, aku kurang paham. Sempat dibuat bingung, karena Mano memesan hotel yang kelihatannya klasik, sedangkan rombongan ayah dan ibunya tidak mau menempati. Katanya, angker, kesannya. Jadi, kamar yang dipesan sisa banyak dan dibiarkan kosong. Aku turun dari mobil, mengeluarkan tas dan peralatan-peralatan kamera. Menuju kamar dan menatap sejenak diluar. Ada yang unik dengan hotel ini. Sekilas memang, terlihat seperti hotel remang-remang. Benar, setelah aku masuk kamar, menaruh semua barang, aku tidak langsung merebahkan diri di kasur. Kamar tersebut berukuran sedang, ada 2 kasur, 1 almari, tivi 14 inchi. Cukup dingin karena kamar itu dipasangi AC dan masih juga ada kipas angin. Aku penasaran, sambil melepas baju dan menggantinya dengan kaos, aku membuka almari. Aku kaget bercampur ketawa bersama kawanku waasyi. Ada beberapa botol bir, minuman-minuman suplemen dan juga kondom. Benar memang, dugaan ibunya Mano sangat tajam. Aku dan waasyi hanya memegang pedoman, bodoh amat!
            Selepas mencuci muka, lelahku seperti tidak terasa lagi. Kubuka tas satu persatu dan lekas menyiapkan apa yang dibutuhkan untuk esok. Meski tidak begitu paham dengan video dokumenter dan lain-lainnya terkait wedding, aku diajari pelan-pelan oleh waasyi. Tidak terasa lama kami mempersiapkan, perut pun sudah terasa lapar. Mano masih sibuk hilir mudik mempersiapkan untuk hari esok. Sampai pada akhirnya, kami pergi sejenak untuk menutup kekosongan perut. Sisa malam itu, digunakan untuk istirahat bagi yang mengantuk. Aku masih terjaga, kebetulan membawa laptop dan beberapa buku. Aku melanjutkan membaca novelnya Haruki Murakami- Norwegian Wood. Epic, meski sedikit begitu setidaknya malamku sampai hampir pagi tidak sepi. Diisi oleh ceritera yang mengalir tentang dua sosok makhluk yang saling mencintai tapi tidak pernah bisa bersatu. Karena mental, atau punyakit. Akhir yang miris. Bukuku terjatuh tak terasa, dan aku terlelap lagi, sepertinya.
            Sayup-sayup adzan disertai kokok ayam membangunkanku. Perlahan aku buka mata, menatap langit-langit kamar, menengok kesamping. Ah, mempelai pria masih sibuk dengan mimpinya. Tidurku tidak nyenyak sama sekali. Kasurku berhadap-hadapan langsung dengan AC, pas di bawahnya. Sedang, selimut pun tidak ada. Bergerak ke kamar mandi, mencuci muka dan mengambil air wudhu. Sungguh berat sekali sholat subuh itu. Apalagi dengan kebiasaan sebagai manusia nocturnal, yang rutinitas malamnya seperti itu. Selesai, lekas aku rebah lagi dikasur. Jam menunjukkan pukul 05.00. ah, sebentar lagi matari terbit. Rencana bergegas ke acara nikahannya jam 05.30, karena mempelai putri harus rias. Biar tidak ketiduran, aku mengutak-atik hp, dan sambil sedikit berisik biar Mano bangun. Akhirnya terbangun juga dia dan sudah agak tenang, karena tidak lucu kalau mempelai prianya bangunnya kesiangan. Terlihat dia sholat dan dzikir dengan khusuknya. Sementara itu, aku menutup mataku pelan-pelan. Sampai pada, percikan air yang membabi-buta, tidak lain ulah mempelai pria, Mano.
            Mobil pengantar kami sampai juga di bakal lokasi pernikahan atau acara. Cukup megah dan luas. Tenda-tenda beberapa petak, kursi-kursi yang berjejar rapi, panggung bertabur bunga-bunga dan ada pula serangakaian alat musik gamelan lengkap. Sekilas mata memandang, seperti sebuah acara priyayi pada jaman kolonial. Sebuah acara para pembesar-pembesar Jawa beberapa abad silam. Aku terus berjalan dengan kawan ku waasyi, mencari tempat rias mempelai putri. Ya, ternyata disebuah ruangan atau rumah belakang panggung. Sekilas mata memandang, merasa heran. Pasalnya, ini rumah neneknya yang Sragen, beberapa tahun silam masih berbentuk rumah adat model limasan yang sangat sederhana dan klasik. Sekarang, didepan mata, terdapat sebuah rumah megah dengan arsitektur minimalis kekinian yang gilang gemilang. Jadi teringat legenda roro jonggrang, ah tapi ini dibangun secara cepat dan membutuhkan modal yang siap.
            Aku dan waasyi mulai mengeluarkan peralatan rekam dari tas, menyiapkan satu persatu alat-alatnya. Lalu berjalan pelan menuju ke tempat rias. Pengantin putri sudah dirias, melihat prosesnya sepertinya riasnya sudah berjalan kurang lebih setengah jam lalu. Aku menunggu sampai kepalanya menggunakan hijab. Ada beberapa hidangan tersaji di meja, seperti tape, gorengan, dan beberapa makanan ringan lainnya. Teh panas pun tidak lupa. Lumayan buat mengganjal perut dan tenaga seharian. Sampai, kita dipanggil masuk ke ruang rias. Aku mengamati cara kerja Waasyi perlahan, dari cara dia mengambil video, tekniknya, dan variasi lainnya. Mencoba paham dan mau tidak mau harus paham. Aku pun tak lupa mengamati cara perias itu bekerja. Perlahan, tenang, dan hati-hati. Hasilnya, luar biasa. Aku pun sampai tidak mengenali mempelai putri. Oiya, mempelai wanita ini juga temanku, satu SMA beberapa tahun silam.
            Prosesi yang paling sakral pun segera dimulai, yakni ijab qobul. Sebuah prosesi yang sangat penting dalam sebuah perkawinan, penyatuan dua insan menjadi sah secara agama dan negara. Meja sudah disiapkan, beberapa orang-orang berkepentingan duduk memutar. Ada saksi, wali, kedua calon mempelai, dan petugas KUA. Aku melihat dengan tegang. Pun, kawanku, Mano terlihat santai. Entah apa yang ada dipikirannya, semua seperti serius. Dan, manusia satu ini, Mano masih saja bisa bercanda-canda. Ya, mungkin itu tipikalnya. Manusia tidak bisa serius, santai, dan kocak. Latihan mengucapkan akad terjadi sekali, sebuah persiapan untuk ucap akad yang utama. Aku  lihat, petugas KUA menyiapkan berkas-berkas, dan menanyakan satu persatu syarat-syarat yang harus dipenuhi. Lalu, secara bersalaman dengan dibimbing KUA, kawanku dengan lancar sekali mengucap akadnya. Hanya sekali dan sukses. Aku bersorak, tidak menyangka, manusia satu ini cerdas juga. Lalu, KUA menuntun doa yang kemudian di amini oleh para hadirin. Disela-sela itu aku terus mengabadikan momen yang memang menjadi tugasku. Pandangan kulemparkan disekitarku, tenyata ada beberapa kawan-kawanku juga yang datang menyaksikan prosesi penting ini. Sambil melisan salam, aku menyalami satu persatu mereka. Ah, lama tidak bersua juga dengan kalian.
            Buku akad ditandatangi, satu persatu. Lalu pada mengambil gambar dengan kedua mempelai. Dan, setelah itu acara menjadi cair. Proses penyerahan “seserahan” dari pihak pria, dibantu oleh kawan-kawan. Seperti pasukan pengawal priyayi. Kulihat, Mano sudah berganti baju. Dengan pakaian hitam berhias makara klasik, dia terlihat seperti pembesar-pembesar jawa tempo dulu. Ya, memang hari ini menjadi panggung dia. Berjalan menghampiri mempelai wanita dengan iring-iringin keluarga dan kerabat menuju ke panggung. Seperti sebuah pertunjukkan drama, dengan tokoh utama mereka berdua, kita sebagai peran-peran piguran. Ada prosesi tradisi yang tidak dilewatkan. Ada siraman, pecah telur, dan beberapa yang saya tidak paham. Zeitgeist atau jiwa zaman daerah ini memang masih kuat dalam melestarikan tradisi. Sragen, secara geografis terletak di dekat dua poros kekuasaan budaya dan kuasa, yaitu kerajaan Mataram. Saya melihat, di Yogyakarta yang merupakan wilayah vorstenlanden dari Kraton Yogyakarta pun didaerah pinggiran sudah banyak yang tergerus dan bahkan hilang.
            Acara itu pun dihibur dengan penampilan ludruk. Cukup menarik, karena iringan lagunya tidak hanya menggunakan orgen tunggal, tetapi seperangkat alat musik tradisional lengkap. Tidak main-main, kata kawanku, malamnya setelah acara ini akan ada pertunjukkan wayang semalam suntuk. Sebuah hal yang hanya bisa dilakukan oleh kaum bangsawan kalo konteksnya kelampauan. Zaman dahulu, di Jawa, jika ada anak raja yang menikah, maka akan ada wayang dan pertunjukkan-pertunjukkan lainnya selama hampir satu bulan berturut-turut. Tradisi ini diikuti oleh para priyayi, yang secara tidak langsung melakukan copy paste budaya istana ini dan kemudian dibedakan beberapa hal. kelas bawahnya lagi tidak mau ketinggalan, kaum kawula juga membuat budaya yang seperti itu pula, akan tetapi lebih sederhana. Keunikan ini tidak lain karena masing-masing kelas ingin membuat sebuah identitas dan budaya tandingan yang membedakan satu dengan yang lainnya.[3]
            Dus, selamat untuk kedua kawanku. Semoga menjadi keluarga yang sehat, sakinah mawadah warohmah. Teriring salam dan doa.
***
            Hanya menginap sehari setelah acara itu. Padahal sebenarnya aku cukup tertarik untuk melihat wayang yang dihelat pada malam harinya. Tapi, raga harus kembali ke Yogyakarta. Pulang kerumah, bertemu dengan orang tua, membantu mereka, mengisi ruang-ruang kosong rumah. Kata kawan, nikmatnya merantau itu bahwa kalau pulang adalah sensasi. Bah! Betul juga, pulang menjadi penyemangat kembali, dari lelah dan ghalibnya ibukota. Jadi, Jogja menurutku, terbuat dari pulang, Rumah, dan orang tua. Ya, kawan-kawanku satu persatu sudah sibuk. Banyak pula yang sudah menikah, meski beberapa juga ada yang belum. Jadi, kepulangan ku kedepan mungkin akan langsung mendarat di rumah. Kawan-kawanku sudah melewati fase yang lebih tinggi satu langkah dari aku. Mereka sudah memiliki kesibukan dan kegiatan yang lebih, mengurusi keluarga. Istri dan anak, ya. Aku masih sibuk dan menyibukan diri dengan kesibukan-kesibukan kesendirian dan sepi. Melewati jalan sunyi yang tidak banyak orang lain peduli. History!
            Beberapa dasawarsa belakangan ini, aku merasakan perbedaan yang ‘aneh’ tentang Yogyakarta. Kenapa saya katakan aneh, sebab ada beberapa hal yang kini tidak aku temui lagi. Yogya yang damai kini seolah menjadi bising. Pasalnya, tidak lain tidak bukan disebabkan pembangunan. Pembangunan pusat perbelanjaan dan beberapa -yang mungkin sudah tidak bisa dihitung lagi dengan jari- hotel-hotel berbintang makin lama makin marak dari tahun ke tahun. Fenomena ini cukup mengejutkan, mengingat Yogya sebagai daerah yang dikenal kota budaya, pariwisata, dan pelajar. So, tidak bisa dipungkiri memang, pembangunan itu mendorong pertumbuhan investari daerah, akan tetapi menggerus hal-hal lain yang cukup hakiki. Ketenangan dan kenyamanan. Yogya sekarang seperti lahan basah para investor dan kemacetan terjadi dimana-mana. Gedung-gedung pencakar langit mulai tumbuh pelan-pelan, meninggi seolah lebih tinggi dan menutup Gunung Merapi. Pembangunan yang tidak jelas arah dan tujuannya. [4]
            Ketidakjelasan dari arah pembangunan ini dikhawatirkan mengikis keistimewaan dari Yogyakarta sendiri. Acuan dari pembangunan ini tidak mengacu dan berlandaskan sejarah dan budaya, tapi economy heavy. Mengutip tulisan David Efendi di situs selasar, ia berpendapat bahwa dengan kondisi seperti ini maka kelak akan terjadi dehumanisasi pembangunan.[5] Terlalu menuhankan teknokrasi dan modernitas yang dibalut dengan pengetahuan akan meminggirkan rasa manusiawi. Pada akhirnya, pembangunan tak manusiawi akan mengantarkan kepada kerusakan peradaban. Pada akhirnya, jika tak ada upaya emansipasi dan antisipasi gejala dehumanisasi maka sangatlah betul bahwa metropolis berubah menjadi miseropolis, kota akan menjadi kebun binatang yang isinya manusia. Miris memang membayangkan Yogyakarta menjadi metropolis megah yang mencerabut sejarah dan budayanya yang begitu kental, mengikis arti keistimewaan dari Yogyakarta sendiri.
            Perubahan-perubahan gaya hidup terutama didesa-desa sudah bisa kita lihat. Generasi-generasi muda menyambut perubahan dengan bertempik sorak, sedang kaum tua hanya bisa gigit jari antara meratapi, sedih, atau ikut mengalir bersama modernisasi tanpa filter. Aku sendiri berada di tebing curam, di bawah curug, bermandikan air limbah dan kenangan. Melemparkan ingatan beberapa tahun silam, hidup di desa yang terletak di pinggiran Yogya, aku masih merasakan bagaimana pelan-pelan kota ini berubah mengikuti zamannya. Memang bodoh untuk menolak perubahan, karena manusia yang dinamis pasti selalu melakukan inovasi dan kreasi. Terlepas dari itu, Yogyakarta adalah tempat berdamai dengan segala keluh kesah, mengobati resah gelisah menjadi bahagia. Ada banyak tempat yang bisa kita kunjungi seperti pantai, gunung, kuliner, dan wisata-wisata budaya lainnya. Aku pernah membaca sebuah surat kabar yang berisi tentang rencana kebijakan dinas Pariwisata DIY, bahwa pada tahun 2015 akan membawa Yogyakarta mendunia dengan konsep “bringing Yogyakarta to the world, bringing the world to Yogyakarta”. Hal ini berdampak pada munculnya obyek-obyek wisata baru yang dikembangkan, diperbarui dan dimunculkan.
            Entah apa istilah yang tepat untuk menggambarkan Yogya itu, apakah dia sebuah tempat atau kota, sebuah kenangan, atau sebuah saksi hidup, atas pelbagai pelik dan lika-liku hidup. Bagi sebagian orang yang pernah tinggal di Yogya atau memang asli sana, setiap sudut-sudut jalannya memiliki kenangan yang mereproduksi kerinduan yang terus menerus. Tidak peduli seberapa perubahan yang terjadi, tetapi Yogya selalu mempunyai sisi yang susah ditafsirkan. Bagi orang yang merantau meninggalkan Yogya untuk pergi jauh beberapa kilometer, atau bermil jauhnya, suasana Yogya terus memanggil untuk pulang. Disini aku menemukan arti bagaimana persahabatan, kedamaian, dan kenyamanan. Jangan bandingkan Yogya dengan Jakarta, tentu saja. Di Yogya, uang bukanlah ukuran segala sesuatu meski ia bisa memberimu apa yang kamu mau. Mengutip kata Arman Dhani, di kota ini pula kamu belajar bahwa uang bukan segalanya, mungkin ia bisa memberimu banyak hal. Tapi di kota ini, kebersamaan dan keberadaan teman yang selo, kurang pegawean dan punya energi iseng yang melimpah-ruah adalah alasan untuk tetap hidup. Di kota ini kalian akan menemukan keriangan-keriangan dungu, tolol, namun dirindukan. Tentang obrolan di angkingan, wedangan, warung kopi hingga perihal cerita lucu dan lelucon yang diulang-ulang namun tak pernah kehilangan kelucuannya.[6]
            Sekarang aku sedang berjuang di Jakarta untuk sebuah asa. Meski baru beberapa tahun tinggal di ibukota, saya merasakan beberapa hal tidak bisa saya dapatkan di sini. Kenyamanan, kedamaian dan ketenangan dari Yogyakarta. Lebih mudah mengubur segala sesuatu di Jakarta karena segala sesuatu disini seolah terlewat begitu saja. Barangkali hanya perasaanku saja. Bahwa Yogya bukan sekedar tempat. Disana aku mengerti apa arti pedih, miris, manis, pedih, susah, dan senang. Rasanya kita cecap pelan-pelan, aromanya menusuk sampai kerongkongan yang paling dalam. Bagaimana kisah-kisahku muncul dan tenggelam begitu saja, terhadap orang yang kita sukai, atau sekedar ingin mencintai. Aku tidak mengerti apa itu, yang jelas kabar terakhir dari kawan dekatnya, bahwa dia sudah hampir membuat ikatan dengan seseorang membuat hatiku sedikit pilu. Salah memang, membicarakan dan membayangkan orang yang kita sukai tanpa berbuat apa-apa. Hanya kekonyolan, ketololan, dan perasaan yang susah untuk diungkapkan. Katanya, Juli ! bulan ini menjadi sebuah penetuan untuknya. Ah, lantas aku harus menunggu dan terus mendinginkan perasaan yang lama-lama mendidih ini?
            Meski begitu, aku hanya bisa mengucap doa dan melisan salam. Jika pun engkau jadi bahagia kenapa aku juga tidak ikut senang. Siapa aku? Biarkan Yogya menguburkan perasaanku dalam-dalam. Melihat dari sudut ibukota yang berjarak bermil-mil jauhnya sambil melambaikan tangan. Setidaknya, aku sudah mencoba mengatakan, meski tidak langsung. Ya, setidaknya aku sudah menjadi setengah laki-laki yang berani. Mengatakan kebenaran perasaan meski berujung pahit. Namun apa daya, ya memang ini kebenarannya. Bagai embun yang mencair dan menetes deras dari sudut mataku, bukan matamu. You’re just too good for me. You’re just to good to be true. Ini mungkin ungkapan pendek yang bisa aku pegang, meski tidak kuat tidak menjadi soal. Bukan laki-laki kalau mengganggu hubungan orang yang sedang dilanda kasmaran. Aku tidak pernah menyesal pernah menghadirkan sebuah rasa baru dalam hidupku. Aku tidak pernah menyesal mengenal pernah memiliki cinta yang begitu nikmat, menghidupkan harapan-harapan meski kemudian pupus. Mungkin ini caraku yang begitu pelan dan seolah tak terlihat. Bagiku, cinta bukanlah sebuah bentuk kehidupan yang harus selalu dipuja.
            Biarkan, anggapanku bahwa cinta adalah milik mereka yang akhirnya menemukan satu sama lain dalam sebuah kesederhanaan . Berada dalam ruang kebebasan dengan atau tanpa ada segala sesuatu yang harus dipaksakan, siapa dengan siapa, siapa menjadi bagaimana. Biarkan rasa ini aku endapkan pelan-pelan, disimpan rapi dalam rak-rak hati. Bahwa aku pernah suka dengan seseorang, begitu saja, sederhana tanpa banyak liku. Alunan piano dari mas Gardika Gigih semakin membuatku ngilu saja.[7] Begitu tenang, pelan, dan aku terhanyut dalam tiap-tiap sentuhan lentik jemarinya. Aku tenggelam dalam lamunan sebuah perjalana, ya perjalanan hidup ini yang berwarna-warni. Aku menyesap kopi hitamku yang tanpa gula. Lebih baik begini memang hidupku. Sederhana, tanpa ada tambahan apa-apa barangkali. Sesederhana hujan yang jatuh ke bumi. Jujur dan tanpa bersandiwara. Percayalan, bahwa sepi itu indah dan membisu itu anugerah”, kata Banda Neira. Tabik !


Yogyakarta- Sragen-Piyungan-Depok
Hasby Marwahid





[1] http://mojok.co/2014/10/sinisme-untuk-yogyakarta/
[2] Lirik lagu Frau, Gigih, Puput- Tenggelam (ost-Home)
[3] Lihat, buku Kuntowijoyo. Raja, Priyayi, dan Kawula.
[4] Baca lirik lagu Hip Hop Foundation-Jogja ora didol
[5] https://www.selasar.com/politik/politik-urbanisme-dan-kota-manusia
[6] Lihat Arman Dhani, Jogja Berhati Mantan, http://mojok.co/2014/10/jogja/
[7] https://soundcloud.com/gardika-gigih-pradipta/sudah-dua-hari-ini-mendung

0 komentar:

Posting Komentar