Rabu, 02 Desember 2015

Dialog Sebuah Foto

“Mas, sepertinya kita sudahan dulu ya. Aku lelah hubungan yang seperti ini”, ucap wanita itu dengan cepatnya.
“Tapi kan, rencana yang sudah kita buat? Lantas?”, lelaki itu menjawab sekenanya. Pernyataan wanita itu bagai sebuah bom atom yang jatuh tepat di ulu hatinya. Tangannya menggigil dan tubuhnya lemas.
“Aku lelah mas, lelah! Kamu tidak tahu betapa tersiksanya aku dengan hubungan seperti ini”, sesenggukan wanita itu terus menjawab. Tangisnya meledak-ledak dan kata bercampur rauangan tangis. Suaranya menjadi bias dan tidak jelas.
“Aku bisa jelaskan dulu…”, tidak kalah hebat, lelaki itu terbawa oleh suasana. Tangisnya pun tidak dapat ditutupi meski dia terus mencoba tegar dan tidak terlihat cengeng.
“Tuuuutttt..tuuuttttt..tuutttt. bunyi telepon yang terputus. Tidak ada suara lagi. Hanya tangis masing-masing yang terdengar. Mereka mencoba memahami dan berdamai dengan tangisnya sendiri-sendiri. Telepon yang terputus itu seakan lonceng akhir dari terputusnya jalinan asmara dua insan yang direkatkan dalam sebuah komitmen dan cita-cita bersama. Hanya, telepon yang menjadi saksi, betapa nestapanya sebuah hubungan sirna. Hanya komunikasi maya, hanya suara-suara yang serak diiringi tangis yang mengalun menusuk ceruk-ceruk cakrawala.

Malam menjelma menjadi dingin. Gelap dan dingin. Persis. Mengisyaratkan suasana hati yang tak bisa digambarkan lagi dengan apa pun, kecuali memang remuk redam. Botam menjatuhkan dirinya ke tempat tidur. Matanya tidak henti-hentinya surut dari berderainya air mata. Ia tutupi kepalanya dengan bantal dan mulutnya meraung-raung. Berteriak. Mungkin dengan berteriak satu masalah menjadi tenang dan hilang. Tidak. Pikirannya tetap melayang-layang. Entah sadar atau tidak. Kejadian lewat begitu saja, tanpa sebab musabab yang jelas. “Ini membingungkan, apa salahku?” pikir Botam dalam hati. Sudah kulakukan semua yang aku bisa, sepertinya tidak sedikitpun aku mengecewakan. Kita sudah berjanji, kita sudah ikat janji itu dalam sebuah ikatan pikiran yang kuat. Sudah tali temali kedalam pikiran kita masing-masing. Ah jarak. Kenapa jarak yang mengecilkan cita-cita kita yang lebih Agung? Bukannya jarak menjadikan kita untuk lebih saling percaya akan kekuatan cinta, lantas setelah bertemu akan meledakkan kerinduan yang kering dengan pertemuan itu menjadi Maha dahsyat. Tapi?!”, Botam terus berpikir dalam hati disertai tangis dan sesenggukan. Nafasnya menjadi sesak. Hidungnya tersumbat air peluhnya.


“Syifaaaaaaaaa‼”, Botam berteriak samar karena suaranya sudah menjadi serak karena tangisnya.
Dia berdiri dan bangkit dari kasurnya. Membuka jendela karena kamar begitu pengap dengan isak dan air mata. Udara malam menusuk dan binatang-binatang yang bernama nyamuk menari-nari sesekali menghisap darahnya, bukan air matanya. Andai nyamuk bisa diajak berbagi dan pengertian, hisaplah air mataku ini. Bantu aku mengurangi getir ini.” batin Botam dalam hati sambil bersenderan di samping jendela. Malam begitu hening, lalu-lalang orang dan kendaraan sudah begitu sepi. Orang-orang sudah nyenyak merajut mimpi-mimpi setelah seharian lelah mengarungi kehidupan Jakarta yang memang begitu melelahkan. Diambilnya secangkir kopi yang ada di meja. Diseruputnya kopi yang sudah menjadi dingin. Diseruputnya lagi. Hingga tinggal endapan kopi yang sudah nampak begitu pekat, pahit. Diletakkannya cangkir itu dimeja lagi. Kemudian menatap suasana luar dari bilik-bilik jendela. Cahaya lampu masuk menembus dari celah-celah jendela kamar. Melamun.
Diambilnya rokok, dibakarnya satu batang rokok. “fhhhhhhhhhhhh...” Ia menghempaskan asapnya yang kemudian membumbung tinggi. Dihisapnya lagi dan lagi. Dimatikan rokoknya. Kemudian melamun lagi. Ia tutup jendela kamar dan menjatuhkan lagi badan di atas kasur. Menatap langit-langit kamar dengan pikiran yang serba kacau. Ia merasakan, betapa menderitanya. Seolah ia adalah orang yang paling menderita di dunia. Cinta. Pikirannya berkecamuk dan melayang-layang akan hari depan. Matanya mendadak mengeluarkan air mata lagi dan lagi. Betapa hebatnya kekuatan cinta yang membuat orang menjadi bahagia dan menderita dalam taraf yang tidak bisa diukur. Menjadikan semangat dan bahkan menjadikan gila sekalipun. Memang betul, orang tidak siap untuk menderita karena cinta, yang dipikirannya hanya bahagia dan senang. Hanya tawa dan canda tanpa sadar dibaliknya ada duka yang mengintip.

Ia seka air matanya dengan tangan. Lalu mengambil handphone. Dibukanya galeri tentang foto-foto saat mereka bersama-sama. Bermain dan berkunjung ke tempat-tempat jauh. Dilihatnya masa-masa romantis yang tertinggal dalam foto-foto itu. Ia tersenyum disertai tetesan air mata yang mengalir lagi. dipandangnya foto-foto itu. Semua foto yang menunjukkan kesenangan. Foto-foto yang sangat bahagia. Dimana berdua tertawa lepas dan ikhlas. Dimana belum ada penderitaan dan penghianatan. Dimana, masih satu cita-cita dan satu pikiran bersama. Dimana rencana-rencana ke depan sudah disusun dengan rapinya. Tapi, semua lenyap dalam hitungan detik,menit dan jam. Lewat percakapan telepon yang tidak tuntas dan tanpa sebab musabab yang masuk akal. Tapi, cinta memang tidak punya akal barangkali. Hanya punya tawa dan tangis tanpa ada akal. Pikiran Botam terus berkecamuk dan menjadi-jadi. Satu foto ia pandangi dengan lama. Matanya membulat bagai burung hantu. Tajam. Urat-urat didahinya  berkerut. Lalu, tangisnya meledak lagi. Dilemparkannya handphone itu. Ditutupnya muka dengan bantal dan berteriak menjadi-jadi.

Foto itu, foto terakhir barangkali. Sejak keberangkatan pertama ke Jakarta untuk memenuhi panggilan pekerjaan yang memaksa harus meninggalkan Yogyakarta. Ia memenuhi panggilan untuk bekerja disebuah perusahaan di Jakarta. Saat itu diantar oleh Syifa ke Stasiun Tugu sampai ke dekat peron. Mereka mengambil foto bersama dengan meminta bantuan oleh orang yang lewat. “Mas, bisa minta tolong, fotoin kita ya mas”, ucap Botam sembari menyerahkan handphone kepada orang tersebut. “Terimakasih mas”, sambungnya sembari melisan salam.

“Mas, besok kalau sudah di Jakarta jangan macam-macam. Jangan kepincut dengan cewek sana. Kan di sana ceweknya cantik-cantik dan gaul-gaul. Banyak artis juga kan disana. Gedungnya tinggi-tinggi, nanti mas temangsang dengan gadis jakarta, gimana dong”, ucap Syifa dengan sayu dan polosnya. Memang polos, wanita ini dilahirkan dari daerah pedesaan pedalaman di Jawa Tengah. Desanya diapit dua Gunung yang raksasa yaitu Gunung Merapi dan Gunung Merbabu. Dua gunung diantara beberapa gunung yang menjadi pakubhumi dengan begitu kokohnya.“Jangan lupa terus memberi kabar ke aku ya, besok kalau pulang aku masakin deh, aku masakin sayur asem, sambel terasi sama ayam goreng. Asin gakpapa, yang penting kamu kan tetap setia”, lanjut Syifa dengan polosnya wanita desa.
“Tenang, aku tidak macam-macam kok, aku kerja kan buat masa depan kita nanti. Buat modal menikah, buat modal melamar kamu”, Botam mengatakan sembari memegang kepala Syifa. “ Aku tidak lama kok dek, besok aku akan coba mengurus untuk pindah dikantor cabang yang di Yogya, supaya bisa dekat dengan kamu terus”, rayu Botam sambil terkekeh.
“Ah, semoga, semoga, semoga. Amin Ya Allah”.
“Iya, semoga Tuhan melancarkan cita-cita kita dan mengabulkan harapan-harapan kita, kan?”
“Aamin.”
“Oiya, salam ya buat kedua orang tuamu, aku berangkat berjuang di Jakarta dulu, yang sabar ya dek, jangan nakal. Terus memberi kabar juga. Jaga dirimu baik-baik. Besok aku sering-sering menelpon ya.”
“Iya mas, hati-hati mas. Nanti aku salamin sama orang tua ku.”Syifa berkata lirih dan pasrah. Botam mengecup dahinya dan memeluknya beberapa detik. Syifa menguatkan rekatan pelukannya dan tangisnya mengucur deras dari matanya. Terisak-isak. Akan rindu yang akan dirawatnya untuk beberapa bulan ke depan.

Kereta sudah meraung-raung. Bunyi mesin sudah memanas. Suara dari operator stasiun mengingatkan kepada para penumpang segera masuk ke dalam gerbong karena kereta sebentar lagi akan berangkat. Botam melepaskan pelukannya dan mulai mengambil tas dan barang bawaanya masuk kedalam gerbong dibantu oleh Syifa sampai ke tempat duduknya. Mereka bersalaman dan berpelukan sekali lagi. “Yang sabar dan kuat ya dik! Aku tidak lama, besok kalau dapat cuti pasti aku akan pulang. Tunggu kepulanganku beberapa bulan ke depan. Jagalah rindu kita dengan doa-doa khusuk. Tuhan tidak tidur, sayang.” Botam mencoba menenangkan dan menguatkan. Isak tangis kecil keluar dari mata dan mulut Syifa sembari berjalan mundur untuk keluar dari gerbong kereta api. Pintu kereta di tutup. Syifa mendekati jendela tempat duduk Botam. Menatap sayu dan mata yang berkaca-kaca. Kereta berjalan dengan pelan-pelannya. Lambaian tangan kedua pasangan itu menyiratkan makna perpisahan dan rindu yang mendalam. Barangkali, perpisahan yang sebenar-benarnya barangkali. Botam memasang muka tegar dan tersenyum sembari terus melambaikan tangan. Dan Syifa lama-kelamaan menjadi kecil, kecil, seiring bergeraknya kereta dan kemudian hilang diganti dengan bunyi berisik kereta yang bergerak dengan cepat.

“Foto itu… ‼” kembali Botam terbuyar dari lamunannya. Memandangi kembali foto itu dalam-dalam. Foto terakhir bertemu. Dan ini menyiratkan apakah terakhir benar-benar bertemu. Perpisahan yang sebenar-benarnya. Tidak. Tidak.   Apakah ini yang disebut perpisahan seperti dalam film drama-drama memuakkan itu? Atau, ini yang disebut sebagai drama sandiwara dan penghianatan. Begitu meradangnya dia, pikirannya masih kacau dan malam masih terlalu dini untuk tidur. Pikirannya yang seperti ini sepertinya tidur bukan dan belum mampu untuk menyelesaikan masalah. Jam dinding sudah menunjukkan pukul 01:00. Pagi kah? Kenapa ini disebut pagi? Apa ukuranya? Hari masih gelap dan dimanapun pasti pagi  ditandai dengan terbitnya matari. Berarti juga menunjukkan terang bukan gelap. Kenapa pembagian waktu jadi membingungkan seperti ini. Bingung seperti perasaanku yang diaduk-aduk. Lebih dari pukul 00:00 pasti disebut dini hari. Banyak orang mengatakan sudah pagi. Jam 02:00 pagi misalnya. Bagaimana logikanya? Bukankah pukul segitu langit masih gelap? Jam 02:00 malam lebih tepatnya karena langit masih gelap. Nah, pagi kan diukur dari terangnya langit sampai tenggelamnya matari di ufuk Barat.” Pikiran Botam terus berkecamuk dan melamunkan hal-hal lain, mencoba-coba mengalihkan masalah.

“Apa dia sudah lupa pada janji? Atau ada lelaki lain selain aku? Atau ada yang kurang dari aku?” Ia mencoba meraba-raba duduk soal yang abu-abu ini. Betapa mudahnya manusia lupa pada janji yang sudah disepakati. Pada cita-cita yang diamini bersama. Tanpa paksaan tanpa penindasan. Mengamini janji yang sudah diikrarkan dengan senyum dan pengharapan-pengharan di depannya. Betapa mudahnya manusia goyang pada godaan. Rubuh pada harapan lain yang hanya kelihatan indah, sesaat. Ah, apa arti hakiki seorang manusia jika dibandingkan dengan hewan. Jika rumah, hewan juga punya kandang atau sarang. Jika pakaian, hewan juga punya pakaian yang indah, bulu-bulu. Mulut, hewan juga punya mulut untuk makan dan berkicau. Lantas, hanya kata-kata yang tidak dipunyai hewan. Kicauan, auman, atau yang lain sebagaianya itu bahasa yang hanya dimengerti hewan sejenisnya. Pun demikian dengan manusia. Manusia itu kan yang dipegang adalah mulutnya, kata-katanya, janjinya. Jika itu tidak bisa, lalu apa yang berharga dari manusia. Perusakannya, pembunuhannya terhadap sesama. Ah, mungkin manusia itu seperti hewan yang bercelana, diberi gincu-gincu supaya menarik.” Botam mencoba mengurai-urai dengan langkah nostalgik akan kisah-kisah yang dibangunnya beberapa bulan silam dengan Syifa. Ia berdialog dengan imajinasinya. Terus dan terus.

Lantas, apa yang menyebabkan ia berubah drastis seperti ini. Tidak ada tanda-tanda, tidak ada angin, awan gelap kenapa tiba-tiba hujan. Tidak ada sebab musabab kenapa dia berkata seperti itu tadi ditelepon?” mencoba menerka-nerka, Botam seakan kehabisan akal untuk berfikir dengan jernih. “kalau aku salah, aku salah apa? Kalau ada masalah, masalahnya apa?” dirinya dicecar pertanyaan sendiri yang harus dijawabnya sendiri. Seorang diri.

Diambilnya handphone yang terkulai lemas dikasur seperti badanya, tapi bukan pikirannya. Pikirannya malah semakin menjadi-jadi. Disulutnya rokok. “Pffffffffffffffhhhhh……” asap tebal keluar dari mulutnya. Seakan asap rokok menjadi pelipur lara dan inspirasi akan jawaban dari pertanyaan yang dibuat oleh kalut pikirannya sendiri. Dibukanya beberapa media sosial dan mencari-cari tentang kabar terbaru Syifa di dunia maya. Facebook, twitter, instagram, dan path. Tangan dan pikirannya terus bekerja dan terjaga supaya tetap terus waras.
“Ah…… ‼” pekiknya tiba-tiba.
“Siapa dia?”
“Galih Strong Heart…‼” tanyanya lirih.
“Ahhh .. ‼” nafasnya naik turun dan sesak. Perasaannya campur aduk, antara penasaran, marah, emosi, entah. Pikirannya tertuju pada satu nama itu dan tangan serta akalnya terus menyelidik dengan seksama.

Dia membuka dan menjelajahi satu nama, Galih Strong Heart yang menjadi nama di media sosial itu. Instagram. Tidak di gembok akunnya. Dia telanjangi satu-satu foto dalam akun itu sampai habis. Rasa penasarannya belum juga reda. Dia ketik di mesih pencarian google ihwal satu nama itu. “Ketemu! ternyata” ujarnya sembari tertawa puas. Sementara hatinya seperti hampir mendidih akan hal ini dan sekaligus badannya menjadi lemas seketika.

Ada sebuah komentar balas komentar dan berujung makan bersama. Dia mengamati dengan seksama foto terutama komentar yang ada di instagram Syifa. Foto sebuah makanan dengan disertai sebuah tempat kuliner yang terkenal di Yogyakarta, taman kuliner. Bukan foto dan tempatnya yang menjadikan dada Botam menjadi sesak dan lemas, akan tetapi terdapat pada komentar-komentarnya.
“Very delicious. Yummy ‼” penjelasan gambar yang berada di Foto tersebut.
“Assyik, enak sif? Boleh dong nyobain.” Komentar Galih di foto tersebut.
“Cobain aja sendiri, di taman kuliner Condong Catur, lih!”
“Aku kan rangerti tempatnya. Hehehe.”
“Cari di mbah google lah.”
“Yook, sama kamu dong, malem minggu ya?! Gas!”
“Eciyeeee…” komentar Sutra, teman Syifa kuliah.
Opo sut, biasa wae lah.”tulis Syifa dikomentarnya.

Dibacanya berkali-kali komentar di akun instagram Syifa itu. Pikirannya terus menyelidik. Nalurinya berubah menjadi seolah seorang detektif yang mencoba membongkar teka-teki janggal ini. “Ah, kalau seperti ini, apanya yang aneh?” Batinnya mencoba menolak itu tapi akal sehatnya terus curiga. Dibuka lagi akun instagram dari Galih Strong Heart itu. Dilihatnya semua foto-foto dia di “love” oleh Syifa. “Hmmmm.. ini tidak ada yang aneh. Kembali lagi ke foto-foto di Instagram Syifa, dan pun demikian, banyak foto Syifa yang di “love” oleh Galih. “Lalu, apa yang aneh?” Botam terus menyelidik penasaran.

Matanya terus begidik, dadanya tiba-tiba menjadi sesak lagi. Lebih sesak dari foto tadi. Badannya terkulai lemas. Tapi masih menduga-duga. Ia luput pada satu foto di Instagram Galih. Sebuah foto makanan dengan tanggal 09 November.
“Sedaaap! Makasih kamu.” Judul dari foto di akun Instagram Galih Strong Heart. Komentar keduanya menyesakkan, dengan memberi mention kepada Syifa. “Terimakasih @Syifa_Beautiful, sudah mau menemani makan malam.

“Pie Painya enak @galihstrongheart?”komentar Syifa.
“Cie… clbk niii yeee.” Sebuah komentar dari Arif teman Galih Strong Heart.
“Apaan sih” Syifa menimpali komentarnya.
“Doain ya Rif.. heheheheh.” Komentar penutup dari Galih Strong Heart yang membuat nafas Botam naik turun dan emosi menyala-nyala, berkilat-kilat.
Dibukanya media sosial lain, Path. Botam menemukan kejanggalan. Update-an Syifa di taman kuliner meskipun tanpa “with” terjadi pada jam yang sama dan tempat yang sama dengan instagram tadi. “ Ada apa ini?” Jurus otak atik gathuk disertai akal sehat mulai digunakan oleh Botam. Kalau ini memang benar mereka malam minggu makan malam bersama, lantas? Oh mereka jalan bareng? Lalu? Apa salahnya?” bertanya-tanya ada keanehan. Kejadian itu terjadi pukul 20:00, setelah kejadian memilukan lewat telepon tadi. Tidak puas dengan itu, dia mencoba membuka Facebook dari Syifa. Dia buka foto-foto, album demi album yang dia upload. “Benar! Ternyata benar! Tidak salah lagi.” Lirih Botam mengucapkan kata-kata dengan lemas.

Ada beberapa foto yang luput dihapus di Facebook Syifa. Foto berdua dengan lelaki yang tidak lain adalah yang disebut Galih Strong Heart itu. Ternyata namanya aslinya adalah Galih Pambudi. Foto itu masih menggunakan seragam putih abu-abu dengan berlatar sebuah kelas. Duduk berdua dengan muka yang seolah-olah memang polos. Duduk berdempetan dan tangan Galih merangkul pundak Syifa dan menyandar di dada lelaki itu. Betapa nafas Botam naik turun menjadi-jadi. Peluh dan tangis pun meledak perlahan. “Ah benar, cinta lama bersemi kembali.”Botam membatin kata-katanya. Tidak ada lawan bicara atau teman saat ini yang bisa mendengarkan tumpahan rasa emosi dan duka laranya. Syifa kembali lagi ke hatinya yang dulu. “Syifa kembali dengan kekasihnya saat SMA. apa yang kurang dari aku? Padahal mukaku tidak jelek. Apa masih ada, dizaman sekarang cinta hanya menandaskan pada muka. Memandang cinta pada tampilan fisik, bukan dibalik fisik ada ketulusan, pengorbanan, dan perjuangan. Lalu bisa disebut apa cinta yang seperti ini? Mencintai lahiriah, tapi menafikkan hati. Seperti mencintai patung, indah di fisik, tidak bernyawa dan dan tidak punya perasaan.

Jika alasannya fisik, sepertinya itu terlalu naif. Ada musabab lain pasti. Tapi apa?” Botam terus berfikir dan matanya menyelidik. Matanya mendadak tajam menatap langit-langit kamar yang tidak bersuara. Dinding-dinding kamar pun juga tidak memberikan jawaban. Sedang malam semakin larut. Masih belum juga mendapat jawaban yang bernas. Hati masih kalut mencari musabab yag masuk akal. Cara merajut-rajut fakta-fakta yang ada dalam foto-foto itu dianalisanya perlahan. Berdasarkan tanggal kejadian, komentar yang ada, sedikit bumbu imajinasi dan akal sehat. Sebenarnya jawaban sementaranya sudah masuk akal dengan bukti kuat foto di Facebook Syifa. Bahwa Galih adalah kekasihnya sejak masa SMA. Botam berulang-ulang lagi mencari kekurangannya. Dan, manusia adalah gudangnya kekurangan, jauh dari kesempurnaan, dan mencoba seolah-olah terlihat sempurna. Memaksa menjadi sempurna itu menyakitkan, apa lacur manusia hanya makhluk lemah yang mencoba kuat. Bahwa mereka sebenarnya memang tidak pernah sempurna. “Lantas, materi atau bendawi? Ah, meski aku belum punya apa-apa, aku punya tekad untuk itu. Dengan bekerja lalu menabung.”Ia terus bertanya-tanya dan terus. Begitu. Bertanya dan bertanya pada diri sendiri.

“Jarak? Apa benar ini karena jarak.” Pikirannya mulai menyelidik lagi. Berapa jauhnya Jakarta dengan Yogyakarta. Hanya beberatus kilometer dan itu bisa direkatkan dengan adanya teknologi yang semakin mutakhir. Bahwa jarak jauh atau dekat itu adalah bagaimana setiap manusia meihat sisinya. Bukan pada angka nominal beratus atau bermil. Jarak itulah yang menciptakan manusia, dan manusia harus membuat jarak untuk hati-hati, lebih waspada dan didalam jarak ada kerinduan. Begitu? Jika kurang komunikasi nampaknya bukan ini masalahnya. Apa dia terlalu kanak untuk mengerti pikiranku? Bahwa jarak ternyata mengikis pelan-pelan rasa sayang dan komitmen yang dibuat, disepakati bersama. Tanpa rasa tertekan dan pura-pura.” Matanya berkaca-kaca lagi dan isak tangisnya sesenggukan perlahan terdengar. Mengalun perlahan memantul pada dinding dan atap kamar. Senyap.
“Hmmmmmmffffhhhh….” Dihempaskan nafasnya kasar.
“Ah, hubungan yang berjarak. Apakah ini yang dinamakan oleh orang-orang dengan cinta layu karena jarak?” mencoba berdialog mengurai tanda tanya. Barangkali, pertemuan yang berlanjut di meja makan itu sebab musababnya. Ketemu. Sekarang ketemu masalahnya. Bukankah, dialog di meja makan dua insan yang berbeda kelamin itu sarat bahaya. Jika salah satunya sudah menjalin tali kasih kepada yang lain. “Hmmmmmmmm..” gumamnya bebarengan nafas-nafas emosional. Yang ditakutkan bukan pertemuannya, tapi obrolan dan setelah pertemuan itu. Setelah pertemuan pasti ada rasa. Yang dulu masih mengendap. Pertemuan mencairkan rindu atau rasa yang mengendap. Mungkin kisah mereka belum selesai. Hanya berjeda. Tapi, kenapa aku yang masuk ke dalam jeda kisah Syifa. Kenapa! Dan, kisahku berakhir di sini, dijeda yang menyesakkan ini? Oh, Tuhan! Pertemuan yang kebetulan, dan perpisahan yang disengajakan. Kenapa harus ada pertemuan kalau setelah itu ada perpisahan? Apalagi seperti ini. Kenapa Tuhan menciptakan hati. Hati dan jiwa-jiwa. Karena dua itu manusia merasakan sedih senang, setia dan berkhianat.
“Brakkkkk…braakk…braaakkkk‼” dibenturkannya kepala di dinding samping kasur. Pening, pusing. Frustasi.

Diambilnya sebatang rokok dan disulutnya kembali. Asap membumbung tinggi memantul pada atap ruangan. Ditaruhnya rokok menyala itu di sebuah asbak ukiran kayu oleh-oleh dari Kalimantan. Dipandanginya rokok yang menyala, asapnya meliuk-liuk ke udara.
“Aku terlalu kekanak-kanakan kah bersikap seperti ini?” tanyanya dalam tatapan kosong memandangi nyala rokok yang belum juga padam. Dewasa bukan berarti tidak menangis. Senjata manusia saat terdesak adalah menangis. Seolah menangis adalah jawaban dari masalah-masalah yang mendera. Menangis seorang diri di kamar sampai air mata kering pun juga tidak ada yang peduli. Seolah aku merasa sendiri di dunia yang begitu ghalib ini. Kesepian, kebosanan akan menghinggapi hari-hari depanku kah? Bahwa yang pelik didunia ini adalah kesepian. Bukan kebosanan. Kesepian adalah kerabat dekat penderitaan. Kering, hampa, kedap akan cinta. Cinta. Mencintai. Dicintai. Nista sekali pikiran menjerumus seperti ini. Kehilangan kekasih seperti kehilangan masa depan. Bukan?! Betapa bodohnya manusia yang bunuh diri ihwal perkara lawan jenis. Sampai mengakhiri hidup yang sedemikian indah untuk dinikmati. Dinikmati, nikmat dan mati. Jika dipenggal maka nikmati itu menjadi kematian. Kematian atau kenikmatan. Itu pilihan. Aku ingin menikmati hidup. Aku tidak mau mengakhiri nikmat itu dengan mati pikiran-pikiranku. Hidup terlalu singkat untuk sedih perkara-perkara seperti ini.” Matanya berkaca-kaca. Ada semangat yang timbul pelan-pelan dalam jiwanya. Tubuhnya menjadi ringan dan nafasnya tidak lagi sesak. Senyum mengembang perlahan-lahan.

“Hahahahahaha…” Botam tertawa dengan ritme perlahan. Dia terus tertawa. Tertawa menjadi obat sementara dari tangis-tangis berderai sejak tadi. Tertawa disertai tangis, antara semangat dan hati yang tertusuk sembilu. Bukan tangisan yang murung dengan mata mengatup menutup harapan. Tapi, tangisan yang membawa pengharapan-pengharapan akan hari esok. Setelah tangis ada tawa, setelah gelap ada terang, setelah hidup ada kematian, dunia berkelindan pada dua kutub itu. Dan terus menerus sampai dunia tidak ada lagi.

Ada seberkas cahaya, ada sebuah jalan, ada masalah pasti ada jalan keluarnya. Tergantung mau mencari jalan keluarnya atawa tidak. “Aku tidak ingin seperti ini terus, besok biarlah besok. Aku mau masalah ini mencair saja bukan mengedap. Seperti ampas kopi yang mengendap. Pahit. Biarlah kalau kelak ini menjadi kenangan, menjadi kenangan yang mencair, bukan kenangan yang mengendap. Aku tidak mau masalalu yang mengendap, pahit. Tapi masalalu yang mencair. Biar manis hidup ini.” Batin Botam dengan senyum pengharapan.

Malam semakin melarut dan kalut mendekati pagi. Suara-suara ayam ibu kos sudah berkokok-kokok. “Aku akan menghubungimu besok, atau besoknya lagi. Aku tunggu waktu seminggu, biar gelombang perasaan ini menjadi tenang. Biar akal dan rasa bekerja. Bukan amarah.  Apa gunanya menyelesaikan perkara dengan orang yang masih emosi dan hati yang kalut. Seperti mengadu dua gelas kaca, pasti akan pecah. Biar seminggu besok aku menghubungimu, Syifa. Meski besok kamu tetap menjadi gelas, aku bukan gelas lagi, aku menjadi busa atau apalah yang lunak saja. Meski besok kita berdebat, aku sudah melunak, atau mungkin kamu sudah bukan gelas lagi yang berpikir cerdas dan jernih. Terkait Galih, aku tidak peduli. Aku ingin permasalahan ini selesai dengan jelas dan cerdas. Meski entah, selesai dan kemudian mengikat tali dalam janji lagi, atau selesai sebenarnya. Selesai yang benar selesai dan masing-masing dari kita melangkah masing-masing di jalan yang sudah dipilih. Aku tidak tahu.” Pikir Botam sembari memainkan telepon genggamnya dan memandangi nomor telepon dari Syifa. Sekilas ia lihat foto mereka berdua. Lagi. Sekali lagi.

Dan, sayup-sayup adzan subuh bertalu-talu. Samar-samar dan kemudian menjadi jelas dan keras. Kantung matanya sudah kering karena tangis tadi dan memang benar-benar mengantuk. Badan masih terasa lelah dan lemah. Jam dinding menunjukkan pukul 04:15. Besok pagi harus menuju kantor untuk terus mengumpulkan pundi-pundi uang untuk terus berderap di perantaun ini. Masalah jawaban dari permasalahan, terserah sang waktu yang menjawab, tentu dengan usaha. Kalau usaha sudah maksimal dan tidak bisa disatukan lagi, biarlah. Untuk apa menangisi orang yang tidak bisa diajak menjaga janji dan komitmen. Untuk membangun masa depan bersama-sama. Buat apa. Masih ada banyak jawaban-jawaban di luar sana. Dunia menawarkan pelbagai opsi. Cerdas-cerdas memilih saja. Tuhan, tenangkanlah jiwaku, pikiranku, dan pejamkanlah mataku” Dalam kantuk setengah mati Botam berdialog samar-samar. Matanya tertutup sayu. Biarlah esok yang menjawab. Tuhan…….


Depok-Kalibata-Tanah Abang. 29-30 November 2015
Hasby Marwahid.


 Sekedar mencoba bercerita. Hanya fiktif belaka. Jika terdapat kesamaan nama dan alur cerita, percayalah. Ini hanya kebetulan semata.






















0 komentar:

Posting Komentar