Senin, 30 April 2012

Televisi: sarana pendidikan atau pembodohan ?


Selama ini jarang ada kursi belajar cepat rusak, yang cepat rusak kebanyakan kursi dan sofa di depan televisi (Prof. Suyanto, Ph.D)
Siapa yang tidak pernah melihat tayangan televisi di zaman modern ini? Rasa-rasanya semua orang lintas usia, baik dari kanak-kanak sampai kawak-kawak pernah menonton dan bahkan kecanduan televisi. Tidak dapat dipungkiri lagi televisi pada zaman ini adalah semacam candu yang berada pada setiap rumah-rumah dari penjuru kota sampai ke pelosok desa, semua tidak luput dari keberadaan televisi. Televisi menjadi sarana pencarian masyarakat akan informasi dan sekedar untuk refreshing dari penat pikiran setelah berkutat dengan aktifitas selama seharian.
Transfer informasi baik secara langsung maupun tidak langsung, TV pasti akan mempengaruhi masyarakat dari segi pola pikir maupun tingkah lakunya. Tayangan TV menyuguhkan life style (gaya hidup) yang terlihat dalam sinetron-sinetron, iklan-iklan, kegilaan akan music, berita-berita baik politik maupun kriminal sampai propaganda pemikiran. Yang terjadi adalah masyarakat seakan dibuat terhanyut dan duduk berlama-lama menyaksikan kenikmatan-kenikmatan duniawi yang dikemas sedemikan rupa oleh kotak yang bernama televisi. Stasiun TV baik swasta maupun negeri berlomba-lomba untuk membuat semenarik mungkin tayangan tersebut agar masyarakat tidak beranjak dari depan layar TV.
Membicarakan televisi memang tidak ada habisnya. Ditinjau dari segi negatifnya, tayangan TV telah menampakkan suatu propaganda yang merusak simbol akhlak dan moral yang ditampakkan dalam acara-acaranya. Yang pertama, Televisi menjadi pembawa maindset (pola pikir) masyarakat. Dengan melihat berbagai serial TV, seperti sinetron, gosip tentang selebriti, film-film barat yang sarat dengan kekerasan, dan berbagai tayangan lain yang sedikit (kurang) mendidik, kita yang dibuat betah berjam-jam untuk menyaksikan serial tersebut dan juga mengikuti apa yang telah kita saksikan. Seperti mode fashion (pakaian) yang terkesan kurang bahan (seksi-red) dan gaya hidup lainnya yang banyak menampakkan sifat hedonistik telah diikuti oleh berbagai kalangan khusunya anak baru gede (ABG) dan remaja kebanyakan. Selain itu, bisnis periklanan yang digalakkan oleh investor asing pun tidak luput menjamah televisi.

Kamis, 19 April 2012

Negeri Rotinesia; negeri salah urus?


Semua orang berpikir untuk mengubah dunia.. Tapi tak satupun berpikir untuk merubah dirinya sendiri... Leo Tolstoy (1828-1910)

 


Akhir-akhir ini banyak demonstrasi yang terjadi di negeri ini, Indonesia. Hal ini dikarenakan kebijakan baru dari pemerintah yang menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM). Tidak bisa dipungkiri sebuah kebijkan pasti akan menuai pro maupun kontra dari kalangan masyarakat. Kenaikan harga bbm pasti akan berimbas dengan kenaikan harga-harga, tak terkecuali harga sembako. Jika dilihat dari pusaran global, harga minyak dunia yang tiap tahun pasti naik membuat pemerintah harus menyesuaikan harga guna menghindari deficit. Masyarakat pun dibuat resah dengan hal tersebut, akan tetapi pemerintah kali ini menawarkan solusi, yakni bantuan langsung tunai sementara (blts). Secara kasat mata, kebijakan ini seperti memberi ikan kepada pemancing, bukan memberi kailnya untuk mencari ikan. Maksudnya, masyarakat kecil atau wong cilik diberikan subsidi untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Bantuan tersebut sejumlah 100-200 ribu kepada setiap kepala keluarga yang masuk kategori tidak mampu (miskin). Tanggapan dari berbagai pihak pun muncul, mulai dari pengamat kebijakan dan para akademisi. Mereka menganggap hal ini akan berdampak buruk, yakni ketergantungan masyarakat kepada bantuan tersebut. Menurut saya, alangkah bijaknya pemerintah untuk membuka dan mempermudah terhadap akses masyarakat untuk dapat semudah-mudahnya mendapatkan lapangan pekerjaan. Ini yang menjadi kendala, sulitnya lapangan pekerjaan menambah daftar tragis dari penderitaan rakyat. Pemerintah harus memfasilitasi hal ini. Jika tidak maka angka pengangguran yang ada dinegeri ini akan semakin naik dan terus naik. Padahal kita tahu bahwasannya pengangguran imbas dari sulitnya lapangan pekerjaan akan berdampak buruk terhadap kondisi social dan politik dimasyarakat. Seperti kriminalitas tentu menjadi buntut dari hal tersebut.
Bangsa Indonesia adalah bangsa yang kaya akan sumber daya alamnya. Jika mengutip dari salah satu bait lagunya Koes Plus pun “bukan lautan tapi kolam susu, kail dan jala cukup menghidupimu”. Ironis sekali melihat carut marutnya pengurusnya negeri ini dalam segala aspek. Bahkan ada yang menyebutkan negeri ini salah urus. Tapi apakah yang salah urus? Aspek mana? Sejauh mana salah urusnya? Tentu hal ini menjadi pekerjaan rumah yang besar bagi kita semua, yaitu pemerintah,masyarakat dan stake holder lainya. Negeri yang kaya tentu dapat mencukupi kebutuhan masyarakatnya. Coba kita tengok bangsa Jepang,bagaimana jepang berkembang menjadi macan asia. Dahulu Barat mencemooh bangsa berwarna, termasuk asia. Tetapi tekad jepang untuk