Kamis, 21 Juli 2011

Tradisi Pesantren (sebuah resensi)


Resensi buku
Judul             : TRADISI PESANTREN
Pengarang     : Zamakhsyari Dhofier
Penerbit        : LP3ES
Kota             : Jakarta
Tahun           : 1982


TRADISI PESANTREN

              Buku ini merupakan kerangka sistem pendidikan tradisional dijawa dan perubahan-perubahan yang terjadi dalam lingkungan pesantren, dan juga menggambarkan semangat islam dari pesantren yang dikenal sebagai benteng pertahanan umat islam dan pusat penyebaran islam. Sebagai study intensif tentang pesantren sebagai lembaga-lembaga keagamaan, pendidikan dan kemasyarakatan, tetapi juga menyoroti peranannya dalam pelestarian dan pengembangan islam tradisional dijawa antara tahun 1875 samapai tahun 1976. Yang dimaksud dengan islam tradsional adalah islam yang masih terikat kuat dengan pikiran-pikiran para ulama, hadis, tafsir, tauhid (teologi islam), tasawwuf. Dari abad ke 13 sampai abad ke 19 sruktur dasar kehidupan keagamaan orang-orang islam telah mengalami perubahan yang mendalam, demikian pula dengan islam tradisional dijawa. Semakin besar pengikut para kyai sejak masuknya islam kejawa sampai dengan abad ini adalah merupakan salah satu bukti islam dijawa
meiliki vitalitas.
 Islam mulai memasuki area kehidupan orang jawa pada masa pertumbuhan dan perluasan kerajaan hindu majapahit, semakin kuat kerajaan majapahit maka makin intensif kontak antara orang-orang jawa dan orang-orang islam India. Sewaktu kerajaan majapahit pudar, islam menjadi senjata utama bagi proses berkembangnya kerajaan islam demak sehingga penduduk seluruh jawa dapat di islamkan, dengan perkembangan yang sangat lambat. Pada masa penjajahan belanda kontak antara islam di jawa dan Negara-negara islam yang lain sangat terbatas ini sebagai akibat politik belanda yang membatasi dalam bidang keagamaan sehingga islam tidak dapat memainkan peran politiknya di kota-kota di jawa maka pusat study islam dipindahkan ke desa-desa. Walaupun belanda mengadakan pembatasan-pembatasan tapi dalam kenyataannya islam justru menjadi daya tarik utama sebagai wadah perjuangan melawan penjajahan belanda
 Pesantren membentuk dan memelihara kehidupnan social, cultural, politik dan keagamaan orang-orang jawa dipedesaan. Kebanyakan gamabaran tentang kehidupan pesantren hanya menyentuh aspek kesederhanaan, cara hidup para santri, kepatuhan mutlak para santri kepada kyainya, dan dalam beberapa hal. Pelajaran-pelajaran dasar mengenai kitab-kitab ialam klasik, gambaran-gambaran yang ia berikan tentang pesantren dapat disimpulkan bahwa lembaga-lembaga pesantren telah menekankan pentingnya perjuangan poitik daripada yang lain. Walopun seletah Indonesia merdeka telah berkembang jenis pendidikan islam formal dalam bentuk madrasah dan pada tingkat tinggi IAIN, namun secara luas
kekuatan pendidikan islam dijawa masih berada pada system pesantren. Sebagai pusat-pusat pendidikan islam tingkat tinggi pesantren juga mendidik guru-guru madrasah, guru-guru lembaga pengajian, dan para kotib jumat. Keberhasilan pemimpin-pemimpin dalam menelorkan sejumlah ulama yang
berkwalitas tinggi adalah metode pendidikan yang dikembangkan para kyai, tujuannya untuk meninggikan moral, melatih dan mempertinggi semangat, menghargai nilai-nilai spiritual dan kemanusiaan, mengajarkan sikap dan tingkah laku yang jujur, dan menyiapkan para murid hidup sederhana dan bersih hati. Walaupun jumlah cabang pengetahuan yang dipelajari sangat terbatas tidak bisa disimpulkan bahwa pendidikan dipesantren mebatasi cara perfikir dan perhatian para murid. Dalam tradisi pesantren dikenal pula system pemberian ijasah berbentuk pencantuman nama dalam suatu daftar rantai transmisi pengetahuan.
 Metode utama system pengajaran di pesantren adalah system bondongan dimana sekelompok murid (antara 5 sampai 500) mendengarkan seorang guru yang menbaca, menerjemahkan, menerangkan, dan seringkali mengulas buku-buku islam dalam bahasa arab. System sorogan dalam pengajian merupakan bagian paling sulit dari keseluruhan system pendidikan islam tradisional. Pola umum pendidikn pesanteran sebelum tahun 60-an dikenal dengan nama pondok. Dalam periode sekarang sistem pengajian telah dilengkapi dengan bentuk sekolah formal yaitu madrasah, lembaga pengajian dan madrasah dijaman colonial berkembang dibiayai oleh masyarakat sendiri. Kebanyakan anak-anak belajar dapat mengerjakan sembahnyang dan baca al-quran yang tidak mereka ketahui artinya dan tidak dapat membaca buku-buku dalan bahasa arab. Namun zaman sekarang dengan tersedianya buku-buku tentang islam yang berbahasa Indonesia banyak diantara meeka yang kemudia menambah pengetahuan tentang islam.
Pendekatan yang dilakukan dalam penulisan buku ini adalah pendekatan intelektual dan teologi mana paar kyai sanagt terikat oleh ajaran-ajaran kaum sufi dan mengamalkan tarekat yang dianggap mengamalkan isalm yang salah, islam yang hanya mementingkan hidup akhirat dengan melupakan kehidupan duniawi. Di samping itu pendekatan lain yang digunakan adalah pendekatan sosiologis, karena islam tradisional dijawa menekankan aspek-aspek tradisional dan konservatif dan meremehkan kemampuan untuk mengembangkan diri dalam kehidupan modern. Buku ini juga menyodorkan laporan yang bersifat historis dan etnografis contohnya tentang pesantren tebu ireng dan tegalsari.  Penulisan buku ini bersifat deskriptif dan analistis, dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa data etnografis yang lebih banyak lagi dan analisa yang lebih imajinatif masih sanagt diperlukan untuk dapat lebih memahami masyarakat dan kebudayaan manusia. Kebanyakan study islam dijawa terpaku oleh pendekatan dekotomi tradisionalisme dan modernisme yang tidak dapat ditemukan yang menghasilkan penyederhanaan.

0 komentar:

Posting Komentar