Senin, 20 Februari 2012

Memoar Kemajuan Jaman (unfinished)

-->
2009, tepatnya saat bulan suci yang diagungkan oleh umat Islam, bulan Ramadhan. Bulan di mana kebanyakan orang menjadi mendadak alim, masjid penuh, dan mereka berlomba-lomba dalam kebaikan, dalam segala aspek. Puasa wajib dilakoni dengan ikhlas demi mendapat ridho dari Tuhan semesta alam. Banyak sekali amalan yang bersifat wajib maupun sunnah, seperti sholat tarawih dan sebagainya. Masjid menjadi pusat kegiatan, mulai dari buka bersama, pengajian-pengajian, TPA, dan lain sebagainya. Masjid menjadi makmur, bulan yang begitu suci, beramai-ramai mereka datang meramaikan, bak lumut dimusim penghujan, suasana masjid begitu menawan dengan masyarakat yang melingkupinya. Demikian juga hal ini terjadi di sebuah desa disudut kota gudeg, Jogjakarta, sebuah didesa bernama sebut saja desa Sidongawi. Sebuah makna kiasan untuk menuju menjadi sarat makna.
Desa Sidongawi terletak tepatnya disudut timur kota Jogjakarta, masih masuk kabupaten Bantul. Kondisi geografisnya begitu makmur, dengan deretan gunung-gunung yang gagah menantang, sawah-sawah yang begitu asri ditanami berbagai macam tanaman pangan oleh para si pembalik tanah, petani. Musim sudah tidak bisa diprediksi, menurut prediksi seharusnya sudah masuk musim penghujan, tapi musim kemarau dengan terik panas dan hawa kering masih mewarnai. Hutan-hutan jati meranggas, menggugurkan daun-daun yang dulu sempat hijau asri. Desa semi kota, ramai dan semakin padat penduduk. Bangunan makin lama makin bermunculan dengan semi industrialisasi dan berbagai usaha
kreatif masyarakatnya. Di samping itu, Toko-toko mulai berjejal menawarkan menjadi pelaku konsumerisme dan instan. Kemajuan jaman semakin pesat, desa pun mau tidak mau harus menjadi bagian dari korban kapitalisme dan liberalism akut.
Cukup termashur dikecamatan Sekarwangi, kiprah dari desa Sidongawi. Mayoritas penduduk beragama Islam yang terkenal taat. Dari sini bermunculan para ulama, kyai dan ustadz dengan berbagai keahliannya dan bidangnya masing-masing. Seseorang yang menjadi panutan masyarakat karena tinggi ilmunya dalam hal agama, Islam. Dari masa ke masa memunculkan rentetan kader yang belajar ilmu agama walaupun tanpa atau tidak harus melalui jalur pesantren, walaupun sebagaian juga ada. Banyak aktifis yang lahir untuk pejuangan Islam yang berkelanjutan. Perbedaan antara yang tradisional dan yang mengaku modern tidak menjadi masalah, karena kehidupan dan aktifitas keagamaan ataupun kemasyarakatan berjalan secara harmonis. Masyarakat yang cukup maju, didukung peran pemuda yang kritis dan kreatif dalam menggerakkan dan memajukan desa. Ilmu yang didapat dalam jalur formal maupun informal tidak disia-siakan, diterapkan dan disesuaikan dengan kondisi masyarakat yang ada. Semua berjalan secara sinergis dengan semangat gotong royong dan keakraban.
****
“kriiiiingg…”, dering suara HP tiba-tiba berbunyi menggetarkan kamar.
“Hallo, Sorry mas aku ketiduran”, jawabnya sambil berusaha sekuat tenaga mengumpulkan kembali nyawanya.”sebentar mas, sebentar, maaf”, tambahmu.
“oke! Ga masalah, santai saja, kalau udah langsung ke sini ya, sudah ditungguin”, jawab seorang paruh baya.
“Oke mas!”, jawabmu. Telfon tertutup.”tuuuuutttt.. tuuttttt”.
Di Sebuah mesin pengembang pengetahuan di seberang desa Sidongawi, Warnet, sudah terlihat ramai pengunjung. Dengan beberapa motor Nampak saling berhimpitan, tanda siang itu sibuk sekali. Saat itu waktu menunjukkan pukul 13.00 siang dengan terik matari yang membakar kulit. Waktu juga menunjukkan pergantian shift kerja.
“Piye jo? Tumben koe telat. ?”, kata juragan trersebut
“Hehehe, iyo mas, kepalaku rodo mumet ki mas”, jawabnya dengan mencoba masih berusaha mengumpulkan energy yang tersisa.
“Yowis, Gapapa, nyante wae lek”,tambah sang juragan.
Yah, inilah sesosok orang yang menyandang nama Bejo, Nama lengkapnya sebenarnya hasil dari akulturasi budaya likal dan barat “Johan Berbudi”. Entah dari mana asal kata Bejo tersebut, mungkin dari singkatan Be=Berbudi, Jo= Johan. Dia adalah salah satu operator (OP) dari warnet tersebut.seseorang yang dibilang cukup ahli dalam bidang Teknologi Informasi (IT), tentang informatika gitu. Dia adalah otodidiak sejati. Pencari ilmu dan gratisan sampai kapanpun. “kuliah tidak penting, yang penting bisa ilmunya”, jelasnya, kepada tiap orang yang bertanya. Maka dari itu, kuliah D3 nya sampai sekarang belum lulus juga, padahal banyak sekali teman yang mensupportnya.
Sesoarang yang berperawakan sedang, tidak gendut, muka sedikit berjerawat dengan ditambah warna kulit sawo matang. Tiper-tipe orang asli Indonesia, khususnya Jawa. Pada tangannya tidak pernah lepas dengan mengutak-atik sebuah HP. Internet menjadi makanan sehari-harinya, entah apapun, yang jelas Bejo akan mati gaya bila tidak ada internet. Kata teman-teman yang lain, dia adalah rajanya “apus-apus”, semacam tukang tipu tapi dalam hal bercandaan. Tidak sedikit teman yang sudah jadi korban keganasannya. Bejo suka berpetualang sendiri dengan bekal tas berisi peralatan mandi, baju ganti dan sebagainya. Selain itu, bejo juga aktif dalam organisasi Islam tertentu, yang juga menjadi aktifis kampong.
Disudut lain; Sidongawi, pukul 12.00WIB.
Suara kakek, mengumandangkan adzan memecah teriknya siang hari. Suaranya terdengar parau disertai dengan batuk-batuk. Walaupun usianya sudah lanjut, tapi semangatnya masih mengalahkan anak-anak muda di kampung itu. dia dikenal dengan nama Mbah Coker. Nama yang cukup gaul untuk kalangan yang sudah berumuran lanjut.
“tok-tok-tok”, suara pintu diketok disertai dengan gedoran.”tangi le, uwes adzan kae, yuk gek neng masjid”, kata seorang ibu-ibu.”mosok kalah sama mbah Coker”, tambahnya.
Pintu kamar pelan-pelan terbuka, seperti kamar anak muda yang lain, keadaannya cukup memprihatinkan. Laiknya Kapal pecah yang terkena tsunami dan badai tropis. Masih juga ditambah dengan gempa bumi. Seperti apa bentuknya, jangan sekali-kali membanyangkan. Parah. Dia keluar kamar dengan terbata-bata, mata masih mengatup, dengan mulut terbuka mengeluarkan racunnya.
Allahu Akbar. .Allahu Akbar….”, suara Iqomah berkumandang. Ia lalu bergerak cepat, mengambil sarung dan baju batik kesayangannya yang kebetulan menggelantung didekat meja makan. Tanpa cuci muka dan lupa pakai sandal, ia berlari dengan tergesa-gesa. Rambut sedikit acak-acakan ditutup kopiah putih yang menjadi penutup mustakanya.
Rudy. Sosok tinggi besar dan kurus dengan kaca mata terpasang dimukannya. Seorang mahasiswa D3 yang rajin menimba ilmu. Kebetulan satu kampus dengan si Bejo, satu jurusan pula. Entah, dua orang ini memang kebetulan atau apa. Seperti seorang soulmate, tapi bedanya ini laki-laki versus laki-laki. Rudy Sujarwo, nama Indonesia modern dipadu dengan unsure Jawa. Mungkin orang tuannya dulu memberi nama itu supaya namanya selalu update, alias tidak ketinggalan jaman tapi masih melestarikan budaya. Rudy kebetulan memimpin organisasi kepemudaan dengan basic masjid di desa Sidongawi. Risma. Oraganisasi yang cukup maju dan banyak kegiatanya. Pria berkaca mata ini juga sosok yang sangat sayang kepada keluarganya. Ia anak bungsu dari 4 bersaudara, semua kakaknya sudah menuju kejenjang pernikahan. Selain itu ia juga punya rutinitas positif, yakni tidur. Manusia tukang tidur ini laiknya seperti kerbau dengan jatah tidur seperti beruang kutub di musim salju tiba. Tapi disisi lain, dia punya semangat yang hebat untuk melakukan hal-hal yang luar biasa.
Malam itu ku hidupkan computer rumah, sebuah computer yang sudah usang tapi menolongku dalam segala hal, untuk mengerjakan tugas dan tentu saja bermain game. Ku ambil modem dan mengeklik tombol connect. Yahoo Mesenger yang tiap hari menemani ku buka. Dalam daftar list friend ku cari namanya. Lalu;
“BUZZ”,
“BUZZ”,
“bos ?”,
“min, ntar malem denger-denger ada pertandingan sepakbola”, tanyaku kepadanya.
“Iyo boy, jam 21.00, chesea vs Manchester united”,katanya. “Siap-siap kalah !!”, ejeknya.
“wah, oke. Kita buktikan nanti malam”, jawabku .
Kuamati sejenak percakapan via YM tersebut. Kemudian aku mulai membuka situs detik.com. sekilas membaca tentang berita olah raga khususnya sepakbola. Ku lihat pada klasmen semetara Manchester United menempati urutan kedua setelah Manchester City. …dan Chelsea berada pada urutan ke empat. “Masih jauh di bawah, ejekku dalam hati”.
Sesosok lelaki berperawakan tinggi dan kurus ini bernama mimin . dia adalah seoang yang cerdas dan otodidak. Dia mengenyam sekolah formal yang cuma sebentar, dikarenakan sesuatu hal. Karakteristik lelaki ini sedkit pendiam untuk hal-hal tertentu, tapi cukup cerewet jika kita memancingnya dengan sebuah topic. Sosok lelaki yang tidak pernah tidur (entah kapan ia tidur) ini juga rekan sepekerjaan dengan bejo. Dalam bidang computer dan teknologi informasi, kemampuannya tidak diragukan lagi, semua berkat ke-otodidakannya. Mengkin pedoman “experience is the best teacher” melekat padanya. Dari semua teman ikut juga membenarkan hal demikian. Lelaki panang berolahraga karena memang ia tidak suka, olahraga yang digandrunginya adalah olahraga tangan, yaitu menari-nari dalam joystick dan bermain PES. Pemikiran-pemikiran hebat dan kreatif suka keluar dari otaknya disaat teman yang lain buntu. Tapi pemikiran yang jauh kedepan kadang membuat ia sendiri pesimis sama idenya, dan sering menjadi provokator atas pikirannya tersebut. Anak bungsu dar 5 bersaudara ini sangat tertutup dalam hal-hal cinta, kadang kami mengintrogasinya dan tak jarang ia hanya membalas dengan senyum masam sambil berusaha mengalihkan ketopic lain.
               Sebuah penceritaan yang belum selesai, untuk para teman-teman penceritaku, sahabat kecil, rekan seperjuangan. Mencoba menulis sebuah cerita, tidak selesai karena dirundung waktu dan beberapa data yang hilang (lupa di save). 2009 yang lalu, berlalu begitu saja, tapi cerita itu membekas.. Baru beberapa teman yang ku sebut, masih kurang, semua jumlahnya ada enam.. enam.. yaa memoir kemajuan jaman. Begitu saya menyebutnya. Salam.
DI Ilustrasikan dari kejadian yang sulit diterima.. penokohan di atas adalah nama samaran..
 To be continued..maybe.?


0 komentar:

Posting Komentar