Kamis, 27 Agustus 2015

Refleksi Kemerdekaan



            Peringatan hari kemerdekaan, tepatnya pada tanggal 17 Agustus beberapa waktu lalu telah dirayakan oleh seluruh elemen masyarakat. Gegap gempita  rakyat Indonesia dalam rangka meneruskan, menghargai jasa pahlawan dan mengisi hari kemerdekaan dengan pelbagai macam kegiatan. Mulai dari kajian-kajian ilmiah sampai perayaan-perayaan lain seperti lomba-lomba. Momen hari kemerdekaan menjadi semacam pesta rakyat dari lintas usia, mulai dari kakek nenek sampai anak-anak kecil.
            Tepatnya 70 tahun sudah Indonesia merdeka dan lepas dari cengkeraman kuku kolonialisme yang sudah menancap terlalu dalam. Bahwa bangsa Indonesia telah dijajah sekian abad, silih berganti “tuan” yang terus menerus mengeruk, merampas kekayaan dan hak-hak rakyat Indonesia. Terdapat polemik seberalam sebenarnya kita dijajah oleh bangsa-bangsa barat, banyak masyarakat awam setuju dengan diktum bahwa Indonesia telah dijajah oleh bangsa Barat selama 350 tahun atau sekitar 3,5 abad lamanya. Terdapat generalisir dan pemahaman yang kurang tepat terhadap hal ini. Menurut G.J Resink, Indonesia dijajah bukan selama 3,5 abad dengan alasan bahwa Aceh baru berhasil dikuasai oleh Belanda pada awal abad ke-20 an.
            Terlepas dari itu, bangsa Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya tepat pada tanggal 17 Agustus 1945. Melalui sebuah jalan yang berliku dan berdarah-darah, dalam bentuk fisik dan perdebatan-perdebatan sengit. Seperti pertentangan yang terjadi antara golongan muda yang diwakili antara lain Sayuti Melik, Syahrir dan golongan tua seperti Soekarno, Hatta dan lain sebagainya.
            Sebelum kolonialisme berkembang di Eropa dengan gold, glory, gospelnya, pada abad ke-17 an, nusantara telah mengalami perkembangan peradaban yang cukup maju. Dimulai dengan bentuk-bentuk kerajaan, sistem pemerintahan, armada militer, dan perkembangan teknologi lainnya. Taruhlah seperti Sriwijaya dan Majapahit sebagai kerajaan yang kuat dalam segala hal dan beberapa kerjaan Islam sebagai bukti bahwa Nusantara ini pernah memiliki jejak sejarah peradaban yang maju.
            Hubungan dan jaringan ekonomi pun pun tidak terbatas dalam lingkup kawasan nusantara saja, melainkan meluas ke wilayah cakupan teritori Asia bahkan dunia. Nusantara yang sangat subur dan kaya akan sumber daya alam pun mengekspor hasil-hasilnya ke pelbagai daerah di jaringannya, seperti India, Cina. Bahkan menurut penelitian arkeologis dan sejarah , hubungan antar Mesir dengan nusantara sudah terjalin sejak zaman Amenhotep (raja Mesir_red). Hal ini terlihat dengan adanya hubungan perdagangan Barus (sebuah tempat yang berada di Sumatera)dengan Mesir perihal barang untuk mengawetkan mayat (mumi).
            Jatuh bangun peradaban nusantara, mulai dari dinasti-dinasti atau kerajaan-kerajaan Hindu, Budha, Islam mendapatkan perubahan sejak datangnya negeri-negeri dari “atas angin” (Barat). Wilayah “Hindia” tercium oleh bangsa-bangsa Eropa lewat hasil-hasil buminya yang tersebar di benua tersebut melalui jaringan perdagangan yang meluas. Hasil-hasil rempah-rempah dan sebagainya didapatkan dari pedagang-pedagang Asia yang sumbernya berasal dari Nusantara. Hal ini mendorong bangsa-bangsa Eropa untuk melakukan perdagangan langsung dengan pusatnya, yakni nusantara.
            Datangnya bangsa-bangsa Barat kemudian seolah mengubah pelbagai macam aspek kehidupan di Nusantara. Di tambah konsep kolonialisme dari Eropa yang mencari daerah-daerah koloni baru untuk kepentingan negara induk. Pada awalnya, tujuannya adalah murni untuk berdagang rempah-rempah. Setelah melihat potensi nusantara yang begitu menguntungan, mereka kemudian melakukan proses infiltrasi-infiltrasi kepada kerajaan-kerajaan (penguasa) lokal yang ada di nusantara. Sebut saja kompani dagang dari Verenigde Oostindische Compagnie (VOC) yang mempunyai hak istimewa (hak oktroi) seperti  melakukan monopoli perdagangan, membuat perjanjian dengan pemerintah setempat, membangun benteng-benteng pertahanan, mempunyai pasukan, menyatakan perang,  mengangkat dan menurunkan pemerintahan setempat, dan  menyelenggarakan administrasi pemerintahan. Kompani dagang ini melebarkan sayapnya untuk menekan dengan hegemoninya terhadap penguasa-penguasa lokal. Politik devide at impera (pecah belah)pun dilakukan untuk memandulkan kekuatan dan menjadikan boneka penguasa-penguasa lokal yang ada di nusantara.
            Proses-proses kolonialisme dengan segala bentuk infiltrasinya yang cukup kuat menyebabkan perubahan yang cukup signifikan dalam pelbagai ranah kehidupan dan habit di nusantara. Pengaruh Barat (kolonial) cukup kuat dalam “mengubah” dan seolah “memodernisasikan” tatanan yang sudah mapan. Pengenalan sistem-sistem Barat di nusantara yang berlangsung lama sejak masa kolonialisme bisa dilihat dan dirasakan sampai pada masa kini. Seolah hampir terjadi bias-bias pengaruh yang sudah tanpa sekat-sekat dan garis demakrasi yang jelas.
            Pemahanan tentang idedan konsep tentang sejarah Indonesia pada masa kolonial cukup penting untuk melihat Indonesia pada masa kini. Peristiwa-peristiwa yang terjadi pada masa kini tidak bisa dilepaskan dari apa yang terjadi pada masa lalu. Pada kesimpulannya, sejarah itu berulang, selalu berulang, mengacu pada konsep Hegel dan Ibn Khaldun. Sebagaimana dengan konsep peradaban yang lahir, tumbuh, berkembang, mencapai puncak kejayaan dan pada akhirnya jatuh dan runtuh digantikan dengan yang baru. Begitu juga dengan konsep sejarah yang berulang, baik pola dan kejadiannya yang sama hanya temporalnya saja yang berbeda. Marx dengan materialisme historime bahkan lebih pedas lag, bahwa sejarah ini digerakkan oleh faktor perut (ekonomi) dan kepentingan yang berkelindan satu sama lain.
            Tidak dapat kita pungkiri, bahwa pada abad milenium ini globalisasi teknologi, pengetahuan dan pengaruh global semakin berkembang pesat. Dunia seolah tanpa ada batas-batas yang kuat dan jelas. Apalagi dengan berkembangnya teknologi informasi seperti internet, batas-batas global itu menjadi semakin mudah diakses dan bias. Orang bisa mengakses sudut dan belahan dunia manapun tanpa harus menunggu waktu yang lama, hanya sepersekian detik saja semua dapat diketahui. Kemajuan teknologi dan informasi yang semakin masif pada perkembangan selanjutnya sudah masuk ke pelbagai lapisan masyarakat. Hal ini menjadikan seolah terjadi hal yang disebut sebagai “disorientasi”. Masyarakat cepat melupakan hal-hal yang terjadi sebelumnya, seakan terjadi amnesia. Semisal, peristiwa kekerasan, korupsi, dan sebagainya datang silih berganti dan terus menerus berulang dan tertutup. Artinya, kejadian yang sama berulang dan tertutup oleh kejadian-kejadian baru dan pada selanjutnya berulang kembali. Begitu seterusnya berputar-putar pada model yang sama dan masyarakat cepat lupa. Hal yang telah berlalu seolah hanya lewat begitu saja secara sadar atau tidak tanpa dapat merefleksikan, memanggil dan memikir ulang peristiwa tersebut untuk kepentingan masa depan. Bangsa ini seolah dan seakan terjebak dan berulang dalam sebuah lingkaran yang terus berputar-putar.
            70 tahun kemerdekaan Indonesia yang setiap tahun diperingati dan dirayakan oleh pelbagai elemen masyarakat baik secara sadar atau tidak seakan hanya ritus-ritus formal yang berulang. Refleksi kemerdekaan dalam arti sesungguhnya belum begitu menyentuh ke dalam ranah yang fundalmental. Terjebak dalam persaingan dan ego yang masih berkelindan dalam seputaran itu-itu saja. Sebut saja korupsi, yang sampai detik inipun masih sulit untuk ditanggulangi karena berhubungan dengan sistem yang mengakar kuat. Pelbagai cara sudah dilakukan untuk memberantas penyakit ini dan sampai saat ini masih menuju dalam ranah yang menggembirakan. Setidaknya sudah banyak cara untuk memberantas hal tersebut. Cara-cara memerdekakan (mensejahterakan) rakyat Indonesia yang menyeluruh memang masih dalam proses yang berlangsung terus menerus.
            Melihat bangsa yang terus berproses menuju kemajuan ini menarik untuk melihat kembali kebelakang, mengutip dua statment  dari salah satu  founding father Republik ini, Soekarno. Pertama, “perjuanganku lebih mudah karena aku melawan kolonialisme, sedangkan perjuangan kalian akan lebih berat karena kamu akan melawan bangsamu sendiri”. Kedua, dalam sebuah pidato Soekarno mengatakan “Jas Merah, Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah”. Kedua statment ini masih cukup relevan untuk melihat dan merefleksikan kembali apa arti perjuangan dan kemerdekaan yang sesungguhnya dari bangsa Indonesia ini.
            Teradapat perjuangan dalam mempertahankan kemerdekaan antara masa lalu dan masa kini yang sangat berbeda. Jiwa zaman (zeitgesit) jelas membedakan hal tersebut. Lantas bagaimana generasi penerus bangsa ini meneruskan dan mengisi kemerdekaan setelah 70 tahun lepas dari jerat kolonialisme? Apa saja perjuangan nyata yang telah dilakukan dalam mempertahankan dan mengisi kemerdekaan ini? Hal ini menjadi dua pertanyaan yang cukup berat untuk dijawab sendirian. Pertanyaan ini harus dijawab dengan langkah nyata oleh kita semua sebagai generasi penerus bangsa dalam rangka menjalankan amanat kemerdekaan yang telah diraih dengan penderitaan dan pengorbanan. Tugas kita adalah bagaimana untuk mengisi kemerdekaan dengan cara-cara mencerdaskan masyarakat, mengingat sejarah panjang republik ini dan kemudian merefleksikannya ke dalam bentuk nyata untuk masa depan bangsa yang lebih baik dan menuju ke arah kemerdekaan yang sesungguhnya. Merdeka! Historia Magistra Vitae!. Tabik!

Sebuah tulisan pengantar diskusi.
Jakarta Barat, 24 Agutus 2015
di pinggir danau Universitas Esa Unggul 12:05 PM


Hasby Marwahid.


0 komentar:

Posting Komentar