Selasa, 10 Juli 2012

Mahalnya Pendidikan di Negeri ini


       “Kita tidak selalu bisa membangun masa depan bagi generasi muda, 
tapi kita bisa membangun generasi muda untuk masa depan.
( Franklin D Roosevelt)”.

Pendidikan di Indonesia rupa-rupanya cukup untuk menguras kantong. Pasalnya, setiap jenjang sekolah mulai dari taman kanak-kanak sampai bangku perkuliahan jauh dari kata “murah”. Nampaknya pendidikan yang diejawantahkan dan diwadahi dengan “sekolah” sudah semakin berat dan kurang terjangkau lagi oleh kaum akar rumput. Para orang tua merasa kewalahan dengan system anggaran yang diterapkan oleh pihak pengelola pendidikan.
Beberapa tahun lalu, terdapat iklan ditelevisi yang dikeluarkan oleh Dinas Pendidikan tentang sekolah gratis. Menggunakan setting di dalam angkot dan bahasa melayu. Percakapan antara sopir angkot dan para penumpangnya. Beberapa potong percakapannya kurang lebih seperti ini;


Sopir                     :  ” hah...! Wajib belajar, cari setoran aja sampe ngos-ngosan.”
Penumpang           : ”loh .., pak! Sekarang kan sekolah udah digratisin.(dengan nada melayu)”.
Sopir angkot          : ” Iya, gratis! Paling-paling juga kayak bapaknya, supir angkot.”
Penumpang           : ” Kalo ada kemauan, Biar bapaknya supir angkot anaknya bisa jadi pilot. .(dengan nada melayu lagi)”.
(Setelah itu ibu yang juga penumpang angkot melihat diluar kaca mobil ada seorang ibu naik becak dengan membawa banyak sayur mayur bersama anaknya yang memakai seragam SD .)
Penumpang       : ”Aaaah!..Lihat, Biar ibunya tukang sayur anaknya bisa jadi insinyur. .(dengan nada melayu)”
(Penumpang yang duduk di samping supir melihat tukang loper koran bersama anaknya yang berseragam SD .)
Penumpang    : ”Biar babaknya loper koran anaknya bisa jadi wartawan asalkan ada kemauan memanfaatkan sekolah gratis ni..!”. Karena perkataan sang ibu supir menjadi termenung memikirkan perkataan penumpangnnya tersebut.
(..dan supir termenung)
Penumpang       :  ” jadi gimana pak? Mau anaknya tetap seperti bapaknya?”, seraya membujuk pak sopir untuk menyekolahkan anaknya.
Ending..... ” Sekolah harus bisa!., Maukah? (dengan nada melayu)”

Begitulah kira-kira gambaran percakapan iklan tersebut. Nada profokatif dan sangat menarik. Nilai plus yang dapat dicerna adalah pentingnya pendidikan.

Tujuan pendidikan secara formal
Secara umum, tujuan dari pendidikan adalah proses ”humanisasi”, yakni memanusiakan manusia. Artinya bahwa pendidikan merupakan jalan menuju terbentuknya manusia untuk dapat menemukan hakikat manusia itu sendiri. Pendidikan mempunyai peranan penyadaran manusia untuk mengerti, mengenal realitas kehidupan yang ada. Melalui pendidikan juga, diharapkan manusia mampu menyadari akan potensi yang ada di dalam dirinya. Manusia diciptakan Tuhan sebagai makhluk yang paling sempurna. Perbedaan dengan makhluk lain adalah tidak terkecuali terletak pada akal. Manusia dimodali akal oleh Tuhan untuk berfikir yang akhirnya dengan proses tersebut manusia akan menemukan eksistensinya sebagai makhluk yang sempurna.
Akan sangat mudah manusia menerima pendidikan karena punya akal. Maka dari itu, otak yang terus diasah dengan berbagai ilmu tersebut akan menjadi tajam. Sehingga kata ”bodoh” dapat dikikis salah satunya dengan pendidikan. Sedikit uraian tentang pentingnya pendidikan tersebut, dapat diambil benang merahnya bahwasanya pendidikan itu sangatlah penting. Tidak terkecuali pendidikan formal, yakni bangku sekolahan yang juga sebagai sarana pencarian dan pembentukan eksistensi diri.  Pendidikan merupakan salah satu pilar dari kemajuan sebuah bangsa. Melalui pendidikan yang kuat, maka akan terbentuk masyarakat yang cerdas dan kritis pula.  

Sekolah Mahal
Jika ditilik dari segi kualitas dan harganya, sekolah-sekolah maupun bangku perkuliahan mempunyai  grade masing-masing. Orang jawa sering bilang ”ono rego, ono rupo”. Maksudnya, jika ada biaya yang cukup maka akan dapat menikmati fasilitas yang memadai pula. Hal tersebut dikandung maksud, kita dapat menikmati sekolah bagus nan berkualitas dengan biaya yang ”bagus” juga. Tidak ada bedanya, sekolahan negeri maupun swasta rata-rata sudah mengarah pada sekolahan elit. Sekolah mentereng itu selain persaingan yang ketat, identik dengan sekolah elit yang biaya yang ditangguhkannya pun tidak tanggung-tanggung (mahal-red). Hal itu sudah bukan rahasia khalayak umum lagi, baik tingkat perkotaan maupun perdesaan. Semua orang sudah paham dan meng-amin-inya.
Sebuah cerita sarat fakta, di desa yang notabene berpenduduk dengan penghasilan menengah kebawah dalah hal pendapatannya, rata-rata orang tua kebingungan dengan mencarikan sekolah anak-anaknya pada saat tahun ajaran baru dibuka. Jika dilihat dari perolehan nilai Ujian Nasional (UN) dan hasil rapor, anak tersebut sangat-sangat pantas untuk duduk di bangku sekolah favorit tersebut. Namun sekolah yang selau dan selalu memperbaiki diri dengan kualitas pasti sedikit demi sedikit bermetamorfosis menjadi RSBI (Rintisan Sekolah Bertaraf/ ’Bertarif’ International) dan SSN (Sekolah Standar Nasional). Perubahan tersebut tentunya membawa dampak, positifnya prestis dari sekolah tersebut naik dan mutu dari sekolah terus ditingkatkan. Sedangkan dampak lain yang menyertainya adalah biaya yang dimintakan pun ikut naik pangkat. Lalu dimanakah para orang tua yang pas-pasan ekonominya menyekolahkan anak-anaknya? Ada yang rela bekerja lebih keras untuk ke sekolah favorit, dan ada juga yang rela atau terpaksa melepaskan anaknya di sekolah pinggiran.
Sangat miris sekali satu gambaran dari sekian banyak puluhan, ribuan bahkan jutaan contoh tentang biaya pendidikan yang terus melejit. Sekolah-sekolah elit dan berkualitas hanya mampu dinikmati oleh para orang berpunya (kaya-red), sedangkan orang biasa harus rela dan lapang dada mengalah karena situasi yang belum memungkinkan. Padahal dari segi intelektual tidak kalah cerdasnya dan hanya nasib yang membedakannya. Adapun beasiswa yang diberikan oleh pemerintah atau instansi swasta lainya, namu hal itu belum mencukupi. Kita belum tahu tentang kapan ada pendidikan murah dan berkualitas di negeri ini? Pendidikan gratis atau murah hanya ada di sekolah-sekolah pinggiran yang haus murid, sedangkan di sekolah elit kata murah itu jauh dari percakapan.

Sebuah kritik (belum) solusi  
Kebanyakan orang nampaknya sudah sariawan membicarakan masalah pendidikan yang relatif murah. Apakah ini karena otak orang-orang indonesia sudah terkontaminasi sistem kapitalisme? Sehingga biaya pendidikan pun ikut dikomersilkan. Semuanya mencari keuntungan pribadi maupun kelompok. Tidak ada komitmen untuk memajukan para generasi penerus bangsa, kalau pun ada itu pun bisa kita hitung dengan jari. Pemerintah pun belum dapat menjawab argumen, mengapa biaya pendidikan mahal. Anggaran yang digelontorkan oleh pemerintah diambil dari APBN sebesar 20% hanya menjadi jargon politik semata. Praktiknya hanya beberapa persen saja yang keluar dan sisanya entah tak tentu kemana rimbanya. Pemerintah pusat hanya bertanggung jawab tentang pembiayaan pendidikan (education funding) dan pemerintah daerah atau kota memiliki otonomi. Hal ini yang membuat terjadinya ketimpangan kualitas pendidikan antar daerah.
Alokasi anggaran pendidikan di Indonesia yang hanya 20% nampaknya berbanding jauh dengan negara-negara seperti Malaysia sebesar 26% dari APBN, Australia 46%, Singapura 32%, dan Amerika Serikat 68%. Namun jika anggaran 20% bukan hanya cuma jargon politik saja, maka mungkin akan cukup untuk kemajuan pendidikan di Indonesia. Pemerintah dan DPR harus lebih serius menangani persoalan pendidikan, karena pendidikan merupakan investasi jangka panjang. Di beberapa negara lain, pendidikan merupakan sarana investasi untuk membangun sumber daya manusia (SDM) demi pembangunan ekonomi bangsanya.
Sesuai dengan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 60 Tahun 2011, sekolah tingkat SD dan SMP dilarang melakukan pungutan karena sudah ada dana BOS (Biaya Operasional Sekolah). Kenyataannya, sekolah berlabel RSBI melakukan pungutan untuk mengatasi kekurangan biaya sekolah. Belum lama disebuah portal berita online, mengabarkan tentang demo yang dilakukan para buruh pabrik di Gresik kepada Bupati tentang mahalnya pendidikan. Mereka menuntut pendidikan gratis betul-betul dilaksanakan, tidak hanya sekadar slogan. Beberapa daerah lain juga bergolak tentu saja tentang diskriminasi pendidikan. Belum lagi tentang biaya yang seharusnya digunakan untuk kemaslahatan pendidikan dan untuk mencerdaskan anak didik pun dikorupsi.
Gedung-gedung pemerintahan, kantor-kantor pemerintahan terus menerus dibangun megahnya. Tujuannya untuk kenyamanan para pejabat public dalam mengurusi Negara ini. Sedangkan di beberapa daerah, bangunan sekolah kondisinya pun sudah tidak layak pakai. Di atas sana (pemerintahan) sibuk dengan permasalahan laten dan pelik, yakni bagaimana memperkaya diri maupun kelompok dengan bertindak culas (korup), sedang di bawah sana para akar rumput berjuang membanting tulang demi terus berlangsungnya proses pendidikan formal anak-anaknya. Kadang untuk makan pun masih kebingungan. Ada apa ini? Berbanding terbalik dan sangat menyimpang.

Dampak yang ditimbulkan.
Biaya pendidikan yang selangit membuat banyak orang di negeri ini tidak mampu mengenyam atau merasakan bangku sekolahan. Factor penyebabnya antara lain adalah factor ekonomi dan kesadaran akan pentingnya pendidikan. Jika masalah kesadaran, hal tersebut dapat disadarkan dalam proses berjalannya. Akan tetapi jika sudah sampai pada factor ekonomi, permasalahannya menjadi pelik lagi. Banyak anak yang belajar “mentok” sampai tingkat Sekolah Dasar (SD) saja. Program wajib belajar 9 tahun yang dulu digalakkan oleh pemerintah tampaknya sudah usang. Kesadaran pentingnya pendidikan tinggi, tapi biaya pemenuh kebutuhan yang terbatas. Program pendidikan gratis seperti yang ada dalam iklan di atas tampaknya belum terealisasi sepenuhnya. Sekolah gratis hanyalah menjadi slogan, slogan dan slogan saja.
Rendahnya pendidikan yang hanya sampai pada tingkat SD  membuat mereka tergusur dari kancah persaingan kerja. Mereka melakukan apapun asal itu mendatangkan uang. Hingga akhirnya bermacam cara pun dilakukan, seperti menjadi pembantu rumah tangga di luar negeri. Tidak asing lagi kita dengar tentang penyiksaan yang dialami oleh para PRT pengadu nasib ke luar negeri, dari kondisi cacat sampai meninggal dunia. Masalahnya mereka tidak terbekali dengan pendidikan yang cukup. Selain itu, biaya sekolah yang mahal membuat meretas jalan pintas, sebagai pengamen, tukang Koran, bahkan sampai pencopet. Mereka berbuat seperti itu karena keadaan yang tidak bisa ditolak dan kebanyakan tidak peduli. Andaikata mereka sekolah juga tetap terkena beban biaya yang berat. Betapa buruknya pendidikan negeri ini yang system dan biayanya tidak membumi.
Salah satu penyebab dari kriminalitas yakni banyaknya pengangguran karena sulitnya lapangan pekerjaan. Pengangguran tersebut merupakan embrio dari rendah atau mahalnya pendidikan. Bahkan pendidikan yang terjangkau maupun tidak pun juga memasok pengangguran-pengangguran baru yang tiap tahun terus bertambah. Akan tetapi dengan modal pendidikan yang cukup setidaknya “mungkin” akan menghasilkan pekerjaan-pekerjaan baru atau semangat berwirausaha. Kita boleh bermimpi dan berandai-andai, tentang pendidikan berkualitas dan terjangkau, lapangan pekerjaan luas, system birokrasi yang kuat jauh dari korupsi, ekonomi berdikari yang kokoh, tercetak dari output pendidikan di Indonesia yang menghasilkan SDM berkualitas. Tidak ada sesuatu yang tidak mungkin di dunia ini. Namun jika tidak ada perubahan yang fundamental, maka hal tersebut menjadi utopis.
Seorang professor pernah berkata,”sekolahlah dimanapun, bekerjalan dimanapun, jika dasar orang itu sudah terbentuk karena tekad dan semangat (fight) dari orang tersebut, maka pasti akan sukses. Pada dasarnya sekolah dimanapun hasilnya akan sama saja, semua tergantung yang menjalaninya, ingin maju atau malah ingin terpukul mundur. Semua itu pilihan”.
Munggur, 11 Juli 2012
02:35 A.M
Hasby Marwahid

0 komentar:

Posting Komentar