Selasa, 07 April 2015

Dekonstruksi Globalisasi


Globalisasi yang terjadi dewasa ini tidak lepas dari persinggungan berbagai macam budaya antar negara. Globalisasi mengakibatkan lunturnya batas-batas budaya, negara, dan lain sebagainya akibat interaksi yang terus menerus dan frekuensi pergaulan antarnegara, antarbudaya, antarmanusia yang lebih tinggi. Globalisasi bukanlah proses yang statis, melainkan proses yang dinamis. Kadar pergaulan internasional meningkat dan batas antarnegara menjadi pudar karena besarnya interdependensi ekonomi. Sebenarnya, globalisasi bukan sekedar persoalan perekonomian saja. Menurut Benny Hood, globalisasi adalah gejala budaya karena terbentuknya dan tersebarnya “kebudayaan dunia” di berbagai negara. (Hoed: 2011). Hal ini tentu tidak lepas dari peran ekonomi dan teknologi yang tentu sangat penting dalam pengembangan sistem budaya ini. Kehadiran pasar intenasional seperti bank-bank, produk-produk, dan lain sebagainya secara disadari atau tidak telah membentuk gaya hidup metropolitan dan internasional terutama di kota-kota besar. Pendapat yang berkembang adalah mau tidak mau kita harus menerimanya dan menyesuaikan diri kita. Teori tentang gobalisasi menandaskan bahwa globalisasi dikhawatirkan melemahkan kedaulatan negara dan bangsa (nation-state).
Dekonstruksi Globalisasi
Terjadi perdebatan antara Derrida dengan de Saussure perihal lisan dan tulisan, tanda, dan makna. Menurut De Saussure bahasa tulis merupakan turunan dari bahasa lisan. Jadi, bahasa yang utama adalah bahasa lisan. Bahasa yang sebenarnya adalah bahasa lisan. Menurut Derida, konsep dari dekonstruksi adalah bahwa struktur makna suatu tanda bukan sesuatu yang obyektif dan bukan sesuatu yang subyektif. Begitu diucapkan atau ditulis, suatu tuturan akan hidup dan lepas dari penuturnya sendiri. Menurut De Saussure, mengenai tanda yang terdiri atas penanda dan petanda adalah suatu struktur yang statis. Derrida menjelaskan bahwa tanda adalah struktur yang dinamis yang mempunyai makna sendiri. Sedang, de Saussure mengatakan bahwa makna itu dihasilkan dari perbedaan antara satu tanda dengan tanda yang lain dalam sistem yang sama (difference), dan Derrida mengatakan bahwa makna itu dihasilkan dari suatu proses yang menghasilkan makna berbeda-beda menurut tafsiran setiap individu. Jadi, memahami globalisasi adalah pemahaman atas suatu struktur pikiran yaitu kata “globalisasi” itu sendiri.
            Inti dari dekonstruksi sendiri adalah suatu proses penafsiran yang sistematis oleh setiap individu atau kelompok masyarakat tertentu. Seluruh konsep isi dan makna yang berkaitan dengan globalisasi ditunda dan melihat makna dari globalisasi ditafsirkan berbeda dengan tafsiran mainstream dan dari para pencetusnya. Konsep dari dekonstruksi membantu kita untuk mencari hal-hal baru sesuai dengan perkembangan zaman dan lingkungannya. Pada jamaknya, kebudayaan dunia dipahami berasal dari negara-negara maju, bahwasanya dalam sejarah peradaban yang berperadaban maju dan tinggi pasti akan mempengaruhi wilayah disekitarnya dan bahkan yang berjarak jauh sekalipun. Kemajuan dalam bidang teknologi dan informasi, penguasaan media massa internasional maka negara-negara maju dapat mengalirkan kebudayaan dari “utara ke selatan”. Negara utara termasuk negara-negara Barat dan negara selatan termasuk negara timur, termasuk Indonesia. Utara menjadi pemasok dan selatan menjadi penerima (recipient). Ide dan konsep besar seperti demokrasi, modernisasi, dan liberalisasi menyebar keseluruh belahan peradaban di bawah kolong langit ini.
Ketimpangan-ketimpangan yang terjadi dari proses penerimaan konsep dari utara ke selatan ini masuk ke dalam beberapa aspek, termasuk dalam bidang pendidikan, politik, ekonomi, hukum dan sebagainya. Proses modernisasi yang sekarang telah terjadi adalah 99 persen menerima dan 1 persen penciptaan. Modernisasi tidak lain adalah penerimaan dan keterbukaan dari konsep utara ke selatan, utara memberi dan selatan menerima. Konsep-konsep globalisasi juga masuk ke dalam teori-teori ilmu pengetahuan. Hegemoni teori yang datang dari utara terasa jelas dan mainstream yang menjadi langue, yaitu pola berfikir, bertindak dan lain sebagainya dalam ranah kehidupan kita. Tekanan dari utara yang terus menerus terhadap selatan menyebabkan kita berfikir ulang tentang makna globalisasi. Menurut Benny Hoed, bahwa mendekonstruksi globalisasi harus dimaknai sebagai proses dialog yang terus menerus, bertahun-tahun dan dialog yang panjang tentang makna terbalik dari globalisasi.
Jika kita kembali ke masa lalu tentang bagamana globalisasi terjadi di negara kita Indonesia, khususnya pada budaya Jawa, konsep globalisasi ini menjadi menarik. Proses globaliasi terjadi di Jawa dengan adanya arus budaya India dengan Hindunya disebarkan lewat perdagangan. Banyaknya bahasa sansekerta yang terserap dalam bahasa Jawa dan dalam beberapa konsep budaya Jawa sendiri termasuk filsafat dan kesenian, menunjukkan bahwa kebudayaan Hindu telah masuk kedalam budaya Jawa tersebut. Pada akhirnya, hasil akhir menunjukkan bahwa kebudayaan Jawa tidak identik dengan kebudayaan India. Kebudayaan Jawa menyerap kebudayaan Hindu dan mengembangkan kebudayaannya sendiri disesuaikan dengan alam pikiran Jawa sendiri. Kemampuan masyarakat Jawa dalam mengembangkan dan memanfaatkan kebudayaan besar ke dalam dirinya melalui proses dekonstruksi telah terbukti dari menjelmanya kebudayaan Jawa menjadi kebudayaan yang besar pula. Mereka berhasil mengembangkan wacananya sendiri dan modernitas dengan kreativitas yang tampak itu telah membawa masyarakat Jawa memiliki kebudayaan yang canggih pula.
Globalisasi menyangkut berbagai aspek dalam kehidupan masyarakat dunia ini, baik yang memberi maupun menerima, utara ke selatan. Globalisasi harus kita tanggapi secara kritis dengan upaya membuka wacana baru yang datang dari dalam kebudayaan kita sendiri dan memilah unsur luar yang memang sesuai dengan alam pikiran kita, seperti seni, filsafat, budaya, politik, susastra, dan lain sebagainya. Proses degradasi moral dalam berbagai bidang telah merasuk kedalam alam pikiran masyarakat kita, baik dari anak-anak maupun kawak-kawak. Perkembangan arus budaya dan informasi seolah tidak ada filter menjadikan masyarakat semacam mengalami disorientasi. Masyarakat seolah kehilangan identitas dirinya dan lebih bangga dengan modernisasi dan globalisasi. Mereka seakan lupa bahwa nilai-nilai dan kearifan lokal yang lebih sesuai dengan alam pikiran kita itu lebih baik dan nilai-nilai luar yang masuk tidak sepenuhnya menimbulkan hal yang tepat. Harus ada filter yang kuat dalam menangkal arus negatif yang datang dari luar dengan cara menguatkan karakter lokal yang lebih arif, sehingga tidak kaget dengan arus luar yang begitu deras mengalir dan bahkan seakan tidak terbendung.
Analisa Partikular
Proses dekonstruksi terhadap makna-makna yang mainstream memang baik untuk mengetahui dan bahkan untuk menolak dan mengembangkan konsep yang jamak diikuti oleh orang. Setelah kita membahas lebih jauh bagaimana cara mendekonstruksi dari makna gobalisasi tersebut, bahwa mencoba melekatkan makna dibalik makna itu sendiri memang lebih tepat. Pasalnya, jika kerangka pola pikir anti mainstream tersebut dipakai, maka kita akan mudah mengembangkan konsep-konsep “tidak lazim” seperti apa yang dipikirkan orang. Dekonstruksi mengajarkan kita untuk mencoba membedah kembali makna dari balik makna umum itu sendiri. Mengulang kembali teori dekonstruksi dari Derrida, bahwa penanda tidak berkaitan langsung dengan petanda. Petanda dan penanda tidak berkaitan satu sama lainnya. Tanda dilihat sebagai struktur perbedaan sebagaian selalu tidak di sana, dan sebagian bukan yang itu. Penanda dan petanda selalu berpisah dan menyatu kembali dengan kombinasi-kombinasi baru. Derrida mengatakan bahwa ketika kita membaca suatu petanda, makna tidak semata-mata menjadi jelas. Penanda menunjuk pada apa yang tidak ada, maka dalam arti tertentu, makna tersebut menjadi tidak ada. Makna tersebut terus bergerak dalam mata rantai penanda dan kita tidak dapat memastikan posisi persisnya karena makna tidak pernah terikat pada satu tanda tertentu.
Tanda tidak dapat dipahami sebagai sebuah unit yang homogen yang menjembatani asal-usul (rujukan) dan tujuan (makna) karena tanda dibaca dalam pengertian lain dan selalu dimuati jejak tanda lain yang muncul secara tidak utuh dan pada dasarnya bahasa adalah proses yang temporal. Pada contohnya, ketika kita membaca kalimat, makna sering baru muncul setelah kalimat itu selesai dibaca dan bahkan makna tersebut dapat dimodifikasi oleh penanda yang muncul kemudian. Bahasa bukan alat yang kita ciptakan sendiri, melainkan alat yang paling mungkin kita gunakan sebagai akibat seluruh gagasan tersebut bahwa kita adalah entitas yang utuh dan stabil itu juga akan berubah menjadi sebuah bias dan tidak bermakna. Memang sedikit rumit pengertian disini, akan tetapi hal ini menegaskan kepada kita bahwa tidak ada yang tetap, dan semua bisa berubah menurut tafsiran masing-masing.
Jika konteks dekonstruksi diterapkan dalam bidang ilmu sejarah, maka hal ini menjadi sesuatu yang akan menarik sekali. Bahwa pengaruh posmodern dalam bidang sejarah adalah mencoba mempertanyakan segala hal yang telah tetap dan tentang obyektifitas. Ihwal tetap dan obyektifitas dalam sejarah ini menjadi perdebatan yang menarik karena hal utama dalam sejarah adalah terkait dengan obyektifitas fakta. Sejarah terkait dengan data-data pokok berupa arsip, catatan-catatan resmi, surat kabar sezaman, foto, dan sumber-sumber pendukung lainnya. Sejarawan punya otoritas penuh dalam menguak peristiwa sejarah berdasarkan data dan fakta yang dia peroleh. Interpretasi terhadap sumber-sumber ini tentu menjadi perdebatan jika kita kaitkan dengan metode dekonstruksi Derrida. Penelitian sejarah saling melengkapi atau bahkan membantah terkait dengan temuan para sejarawan dalam penelitian. Bahkan saat ini terjadi perdebatan dari para sejarawan sendiri terkait dengan gempuran posmodern yang mulai mempertanyakan teori-teori yang sudah tetap dan cara menginterpretasikan fakta-fakta yang ada. Terlepas dari itu, metode dekonstruksi dari Derrida bisa menjadi masukan baru dalam metodologi sejarah, bahwa tidak ada yang tetap dalam penafsiran teks. Masalah tentang subyektifitas dan obyektifitas yang selama ini menjadi perdebatan yang seakan tidak kunjung usai malah menjadikan khasanah dalam ilmu sejarah menjadi semakin menarik. Wacana dalam perkembangan ilmu sejarah terutama di Indonesia dewasa ini cenderung menerima sesuatu yang tetap dalam metodologi sejarahnya. Padahal perkembangan keilmuan yang semakin masif seharusnya membuka wacana-wacana baru yang akan menjadikan kajian sejarah sebagai kajian yang mengikuti arus baru perkembangan keilmuan.  Supaya ilmu sejarah tidak menutup mata dari perkembangan dan ketetapan dari metodoginya yang seakan sudahtaka tetap. Dekonstruksi mengantarkan pada penafsiran fakta-fakta menjadi dinamis dan tidak statis. Kekuatan kata-kata pada tafsiran dokumen-dokumen dan fakta-fakta dalam sejarah dibawa ke arah lepas dan tidak terikat, meski Derrida menyatakan bahwa sejarah itu adalah permainan kata-kata.


Depok.
Hasby Marwahid



Daftar Pustaka
Benny H. Hoed. 2011. Semiotika dan Dinamika Sosial Budaya. Depok: Komunitas Bambu.
Giddens, Anthony. 2003. The Third Way: Jalan Ketiga Pembaharuan Demokrasi Sosial. Yogyakarta: IRCiSod.
Madam Sarup (terj: Medhy Aginta). 2007. Postrukturalisme dan Posmodernisme; Sebuah Pengantar Kritis. Yogyakarta: Jendela.



Kekuasaan, Pengetahuan dan Kebenaran


Episteme itu bisa diartikan sebagai aparatus diskursif yang mengkonstruksi wacana, baik itu wacana ilmiah maupun non-ilmiah. Kita memperoleh pengetahuan sama dengan kita memperoleh bahasa, dan kesempatan kita untuk menolak pengetahuan tersebut sama kecilnya dengan kesempatan kita untuk tidak mau belajar bahasa tertentu dari semenjak lahir hingga dewasa. Ini tidaklah sama dengan kekuasaan represif (penggunaan kekuasaan untuk menghentikan kita untuk melakukan sesuatu). Ini terkait dengan penggunaan kekuasaan untuk membangun kemampuan kita sebagai manusia (tidak semata-mata hewan saja), dan memiliki pengetahuan tertentu untuk melekatkan makna pada pengalaman kita. Sebagai contoh seperti anak kecil yang baru mulai menjadi manusia seutuhnya malalui belajar bahasa tertentu, maka kita hanya akan mengetahui yang benar dan yang salah, sebagai hasil dari pengaruh wacana tertentu terhadap pikiran kita. Tapi tidak berarti dengan demikian kita dapat mengklaim sudah mengetahui sesuatu dengan pasti. Kita hanya akan dapat mengetahui kebenaran sesuai dengan yang diketahui dan fahami dalam wacana kita.
Seperti anak kecil yang tidak mengetahui bahasa mana yang harus dipelajarinya seiring bertambahnya usianya, kita pun juga tidak punya pilihan terhadap pengetahuan tertentu tentang dunia yang kita peroleh. Menurut Foucault melalui wacana lah yang mendominasi suatu waktu dalam sejarah dan suatu tempat di dunia sehingga manusia memiliki kerangka pikir atau pandangan tertentu. Cara pandang model seperti itu adalah seperti yang disebut oleh Foucault sebagai Episteme. (Pip Jones: 2010). Bagi Foucault, jika anda ingin memahami perilaku manusia pada waktu dan tempat tertentu, maka temukan wacana yang mendominasi pada tempat tersebut. Jika ingin mengapa wacana tertentu berkuasa, maka jadilah arkeolog sosial : mengetahui asal-usul cara mengetahui dengan melakukan dekonstruksi dan meneliti landasan yang pada kekuasaan tersebut itu berada dan dominan.
Pemikiran yang penting pada Foucault adalah arkeologi (archealogy), meski pada perkembangan selanjutnya dia lebih memilih menggunakan istilah geanologi. Istilah ini mengacu pada pencarian asal muasal dari kebenaran. Istilah ini digunakan untuk menjelaskan kebenaran mutlak atau kebenaran  akhir seperti asal usul segala sesuatu terjadi, seperti Tuhan, Idea, dan sebagainya. Namun, Foucault menolak tentang kebenaran filsafat dan ilmu pengetahuan yang universal dan mutlak sumbernya berasal dari metafisika. Bahwasannya manusia dan budayanya, rahasia alam, yang berada dalam ruang dan waktu tertentu merupakan sumber dari ilmu pengetahuan dan filsafat, merupakan bagian dari bagaimana cara manusia mengungkapkannya. Foucault menolak bahwasanya wacana ilmu pengetahuan dan filsafat  yang menyatakan dirinya universal dan obyektif melalui penelusuran terhadap teori dan konsep yang digunakan oleh ilmuwan. Pada perkembangannya budaya umat manusia berubah dari waktu ke waktu atau bersifat discontinue (Ahyar Lubis: 2014). Menurut Foucault ilmu pengetahuan (savoir) dapat dijadikan sebagai alat yang cukup ampuh untuk pendisiplinan dan pelatihan, dapat digunakan juga sebagai alat untuk menaklukan dan membuat orang patuh sebagaimana dikemukakan oleh para ilmuwan ahlinya.
Kritik yang dilontarkan oleh Foucault terhadap pandangan ilmiah modern adalah bahwa klaim dari ilmu pengetahuan sebagai kebenaran obyektif dan universal karena darinya kita mengerti benar dan salah (oposisi binair) sebagai wacana tertentu dalam pikiran kita. Maka dari itu pengetahuan tidak berarti kita telah mengetahui secara obyektif dan pasti. Bahwa pada suatu era ada episteme, pandangan dunia dan wacana dominan yang mempengaruhi cara berfikir ilmuwan. Foucault mengemukakan pentingnya memahami episteme yang tersembunyi dalam wacana ilmiah tersebut dengan suatu metode. Jika kita ingin mengetahui satu episteme yang dominan pada masa tertentu, langkah selanjutnya adalah menelusuri asal-usul dan dasar pemikiran episteme itu. Selanjutnya, dengan kita mengetahui episteme terebut kita bisa mengkritisi secara ketat kelemahan-kelemahan asumsi-asumsi epsitemologi dominan yang terjadi. Metode ini sebenarnya identik dengan model dekonstruksinya Derrida.
Foucault menyatakan ada empat hal dominan dimana diskursus dianggap membahayakan, yakni politik (kekuasaan), hasrat (seksualitas), kegilaan, dan apa yang dianggap benar atau salah. Point benar atau salah ini menurut Neitzche dimaksud kehendak untuk berkuasa. Bagi Foucault sendiri ini diidentikan dengan keinginan untuk berkuasa dan keinginan untuk mempertahankan status quo ilmu pengetahuan menjadi hegemoni. Geanologi disini diartikan sebagai hubungan historis antara kekuasaan dengan diskursus. Ilmu pengetahuan berperan membentuk manusia dan kekuasaan (aturan, politik) yang digunakan untuk mengatur subyek. Semua pengetahuan memungkinkan dan menjamin beroprasinya kekuasaan karena ingin mengetahui adalah proses dominasi terhadap obyek-obyek dan manusia. Pengetahuan ternyata merupakan cara bagaimana kekuasaan memaksakan sesuatu kepada orang lain tanpa memberi kesan berasal dari pihak tertentu. Pengakuan akan obyektifitas dan keilmiahan seakan impersonal atau bebas nilai tanpa disusupi kepentingan subyek tertentu.
Maka dari itu setiap wacana selalu mencari status ilmiah supaya dikaitkan dengan subyek tertentu sehingga tidak dicurigai membawa kepentingan atau nilai tertentu. Berfikir secara kritis sangat penting untuk menjawab tantangan atau menganalisa antara hubungan kekuasaan, pengetahuan dan kebenaran. Melalui cara membongkar hubungan kekuasaan yang disembunyikan maka akan mendorong munculnya perlawanan dan memperluas kebebasan akan berbagai hal. Pada lingkup ini memungkinkan kebenaran yang terpinggirkan akan terungkap. Kebebasan kita memungkinkan membuka kemungkinan-kemungkinan baru dalam bertindak. Orang tidak lagi terkungkung dalam nilai, norma, tradisi,  dan aturan yang cenderung melawan perubahan. Hanya dalam suasana perubahan ini dalam arti kebebasan yang membongkar dominasi-dominasi kuasa tersebut, maka dapat dimungkinkan menghasilkan pengetahuan untuk dapat melawan cara memerintah yang dominan. Bahkan bila pengetahuan itu memakai nilai luhur dan kebaikan didalamnya. (Haryatmono: 2010).
Hubungan antara Kekuasaan, Ilmu pengetahuan dan kebenaran menurut Foucault ini menarik jika dilihat dari perspektif sejarah. Arkeologi atau geanologi dari Foucault ini menggeser manusia dari posisinya sebagai subyek modernitas sebagai pelaku utama. Dari sudut pandang peradaban Eropa yang terkenal rasional dan serba logis ternyata dalam konteks sejarahnya banyak melenceng dari idealisme Eropa sendiri. Sejarah tidak selalu diciptakan oleh seorang aktor yang rasional logis yang dapat menjalankan roda sejarah secara linear dan bergerak maju. Malah justru sebaliknya, sejarah diciptakan oleh hasrat, keinginan, dominasi, kekuasaan yang tidak terkontrol, perselisihan pendapat dan diskontiunitas. Sejarah yang rasional dan dipadu subjek adalah sejarah yang dikonstruksi oleh epistemologi dan metodologi romantisme tentang dari kita sendiri sebagai pelaku yang rasional.


Depok.
Hasby Marwahid

Jumat, 27 Maret 2015

Membaca atau Mati


Buku mengisi jam-jam kita yang kosong dengan percakapan yang mungkin tak akan pernah selesai, tapi membuat kita tahu, kita hanyalah penafsir tanda-tanda, di mana kebenaran menerakan jejaknya. Itu sebabnya kata pertama yang menakjubkan adalah “BACALAH”. (Gunawan Mohamad)

Buku yang baik adalah buku yang dibaca, bukan hanya ditumpuk dan ditata rapi dalam sebuah rak. Ada beberapa banyak tipikal orang yang suka buku dan membaca. Pertama, orang yang suka membeli buku dan membacanya. Kedua, orang yang suka membeli dulu buku dan membacanya kapan dia senggang. Ketiga, orang yang suka membeli buku, mengoleksi buku, biar dikira dia kutu buku dan keren dimata kawan-kawannya. Keempat, orang yang suka membaca tapi tidak suka membeli buku, dia suka meminjam kepada kawan-kawannya yang punya banyak buku. Beberapa tipikal orang ini saya amati dan sering terjadi dilingkungan sekitar saya.
Memang, membaca merupakan kebutuhan setiap orang yang “melek huruf”. Pasalnya, sebuah perpektif keilmuan seseorang bisa dilihat dari buku-buku yang dibacanya. Karakter seseorang bisa terbentuk karena faktor sosialnya sepeti keluarga, pendidikan, lingkungan masyarakat, budaya dan lain sebagainya. Pandangan hidup seseorang juga kadang dipengaruhi oleh buku yang dibacanya. Memang sedikit streotipe mengatakan hal ini, namun terlalu naif pula jika mengatakan seseorang terbentuk karena faktor alamiah lingkungannya saja. Hal ini bisa sedikit saya contohkan bagaimana seorang kutu buku akan banyak punya wawasan dan cara berfikir yang meyakinkan daripada seorang pendongeng dengan wawasan kosong. Pun, demikian pada seorang yang punya kerangka pikir yang bagus biasanya terdapat dari buku yang dibaca atau pengalaman yang mengajarinya.
Sebuah persoalan yang sangat penting dewasa ini adalah, ketika banyak orang yang lebih mendekatkan diri dengan gadget daripada buku. Perkembangan tekonologi informasi, pun seiring dengan berkembanganya budaya dan pemikiran-pemikiran pula. Memang globalisasi tidak bisa kita pungkiri mempunyai dua sisi yang bergerak, yaitu membangun, merubah atau merusaknya. Arus utara maksudnya Barat sebagai pencipta, dan selatan seperti Indonesia sebagai penerima (recipient). Selatan lebih banyak menerima dari pada menciptakan. Pengaruh budaya Barat tersebut masuk jauh ke dalam sisi perubahan manusia Indonesia, hingga seolah budaya luhur kita mengalami disorientasi. Tapi, pengaruh budaya baca yang kuat di Barat belum mempengaruhi kebanyakan manusia Indonesia.
Jika kita lihat, orang Barat selalu tidak lepas dari sebuah bacaan, entah koran, majalah atau buku. Pada setiap waktu, seperti dikereta, bus umum, diruang tunggu, dan beberapa sarana publik pun tidak luput dari suasana orang-orang membaca. Berbeda tentu dengan kondisi yang ada di Indonesia. Setiap kita menemui suasana ruang publik seperti taman, halte, stasiun dan sebagainya, kita akan mendapati orang-orang asyik berbincang, sibuk dengan gadgetnya, tanpa aksara yang dibacanya. Kalau ditinjau dari tradisi tulisan, bangsa ini juga punya tradisi yang kuat dalam tulisan. Sebagaimana contoh, serat, babad, pupuh dan sebagainya masih tersimpan rapi dalam museum atau sudah ditafsirkan sedemikian rupa oleh para penulis. Sayangnya, tradisi membaca yang kuat kurang kita jumpai, bangsa ini lebih suka berbicara, mendongeng, dan berbincang-bincang.
Disadari atau tidak, membaca adalah kebutuhan setiap manusia yang tidak buta huruf. Pendidikan formal maupun informal di Indonesia telah mengajarkan kepada generasi bangsa untuk bisa membaca dan menulis. Bangku sekolah dasar sampai atas telah melancarkan seseorang mahir membaca. Bahkan jika ditambah dengan mengenyam pendidikan di Universitas. Pendidikan formal jaman sekarang “mudah” didapatkan dalam artian negara ini telah lepas dari jeratan penjajahan yang bertujuan mengekspolitasi hasil alam, juga membodohkan sumber daya manusia tanah jajahan. Pada dasarnya, tujuan pendidikan pada umumnya adalah mencerdaskan dan memanusiakan manusia. Membuat manusia memahami arti harfiah dan tujuan hidup manusia.
Bertolak dari itu, bahwa pendidikan yang ada sekarang telah mengajarkan masyarakat bisa baca dan tulis. Pada kenyataannya, budaya membaca baik saat senggang maupun saat lepas dari bangku pendidikan formal pun menjadi luntur. Ini terjadi tidak lain karena kebanyakan masyarakat lebih suka menghabiskan waktunya untuk berbincang-bincang daripada memegang dan memahami sebuah isi buku. Disadari atau tidak, buku adalah asupan bagi otak. Buku yang bagus adalah gizi bagi otak. Buku digolongkan bagus atau tidak semua tergantung dari pembacanya, karena setiap orang punya pendapat berbeda-beda setelah melahap sebuah buku. Yang menjadi pertanyaan grand question, sebelum perdebatan terkait isi buku tersebut adalah tentu saja dengan membacanya.
Membaca adalah sebuah “kewajiban” bagi setiap insan. Membaca bisa diwujudkan dalam berbagai hal dan berbagai cara. Kenapa orang masih enggan membaca? Sebuah pertanyaan bukan pernyataan, sebagai sebuah refleksi bagi kita semua bahwa membaca itu sangat penting. Bukan perkara koleksi buku yang berlimpah, bukan perkara sok-sok an, tapi perkara pemahaman dan sudut pandang. Memaca adalah sebuah keharusan bagi insan yang melek huruf. Masyarakat masih dilanda “buta huruf” di zaman yang sudah serba kemerdekaan dan modern seperti sekarang. Sejarah telah membuka mata kita, bahwa bangsa yang berperadaban maju tidak lepas dari kuatnya tradisi membaca dan menulis.
Proses ini kemudian dilanjutkan dengan mencipta dan memajukan. Buku adalah media dimana arus pengetahuan masuk secara visual dan meresap ke dalam otak. Kecerdasan emosional dan intelektual bisa dibangun dengan cara apapun, tentu salah satunya dengan membaca. Membaca dan buku adalah dua sejoli yang tidak terpisahkan dan saling kait mengait. Mari menggalakkan kembali budaya membaca sebagai identitas insan yang utama. Manusia yang berfikir, berpengetahuan luas, dengan membaca. Membaca. Apapun itu. Apapun!

Depok, 27 Maret 2015.
Hasby Marwahid.

Kamis, 25 Desember 2014

Akhir Desember


Hujan turun dalam dekap angin
Tempiasnya meneyejukkan bumi
Bunyi riuh rendah suara bising
..dan dingin yang begidik

Secangkir kopi dan sebait kata-kata
Lepas menakar aksara
Ada rindu jauh di sana
Tentang dunia yang menjadi lucu

Silih berganti orang bernyanyi
Melepas kesepian
Memecah keheningan
Tentang dunia yang menjadi lucu

Ada orang canda candi
Bercerita dan melamun
Terbahak dan merenung
Tentang dunia yang menjadi lucu

Ya.. lucu
Suara rindu yang tidak terbendung
Melepas bait-bait yang menjadi aksara
Berpikir akan jauh dan gelap


Depok Margonda, 25 Desember 2014
Rabu Sore di sebuah Cafe,


Hasby Marwahid

Jumat, 12 Desember 2014

Kejayaan Bahari Indonesia


“tak ada yang lebih sia-sia daripada kekecilan, kekerdilan. Raja kecil dengan kerajaan kecil, apalah artinya dilihat oleh burung-burung dari langit dan ular di darat? Burung segan hinggap dan ular pun segan untuk melantai, untuk tempat bercengkerama pun kerajaan itu tidak aman. Bukankah kalian tahu juga: rawa kecil hanya menghasilkan ikan kecil? Tapi raja besar dan kuat menguasai tanah untuk merebut laut. Bila tanah telah dikuasainya, musuh takkan menikam dari belakang, apalagi dari depan[2]”.

Pidato kebudayaan yang diprakarsai oleh Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) merupakan puncak dari serangkaian acara untuk memperingati hari ulang tahun dari Taman Ismail Marzuki (TIM). Pidato ini cukup menarik dikarenakan membahas dan mencoba menjawab persoalan-persoalan aktual bangsa. Berawal pada tahun 1988 pasca reformasi, DKJ mencoba mengundang tokoh-tokoh nasional dari berbagai latarbelakang. Sejak tahun tersebut hingga sekarang (1998-2014), pidato tersebut selalu membahas masalah aktual bangsa dan memberikan solusi atau hipotesa terhadapnya sesuai dengan zeitgeist (jiwa zaman) yang melingkupinya. Banyak tokoh yang sudah memberikan kontribusinya, sebut saja seperti W.S Rendra, Ali Sadikin, Sri Sultan Hamengkubuwono X, Amien Rais, Umar Kayam, Syafii Maarif, dan sebagainya. Pada tahun 2014 ini, pidato kebudayaan dibawakan oleh Hilmar Farid, aktivis sekaligus sejarawan Indonesia.
Pada pidato kebudayaan tahun ini, tema yang dibahas adalah wacana mengembalikan pada kejayaan lampau mengenai laut. Hal ini seiring dengan pidato Presiden terpilih Indonesia, Ir. Joko Widodo, yakni “kita telah lama memunggungi samudera, laut, selat, dan teluk. Maka mulai hari ini, kita kembalikan kejayaan nenek moyang sebagai pelaut pemberani. Menghadapi badai dan gelombang di atas kapal bernama Republik Indonesia”. Memang kita semua sudah mafhum bagaimana dulu negara kita ada sangat mashur dan kuat dalam kemaritiman. Pada petikan sebuah lagu saat kita masih dibangku kanak-kanak pun jelas mengatakan “nenek moyangku seorang pelaut”. Jika kita meneroka jauh kebelakang, nenek moyang kita bangsa Indonesia ini adalah seorang pelaut yang memanfaatkan laut sebagai mata pencaharian, untuk berhubungan dengan daerah lain, dan denyut kehidupan multiaspek pun terjadi dengan perantara laut.
Membicarakan mengenai laut tidak sesederhana itu, ada banyak hal yang cukup menarik untuk dikaji kembali. Kerajaan Sriwijaya maupun Majapahit adalah kerajaan maritim nusantara yang begitu sohor sebelum datangnya koloni dari Barat. Tome Pires, penulis sekaligus bendahara dari Portugis yang menulis catatan pelayarannya berjudul Suma Oriental (Dunia Timur). Buku ini penting untuk mengetahui informasi berharga tentang nusantara pada abad ke-16. Sebuah kutipan dari buku Pires ini secara jelas menggambarkan kebanggaan ketika Portugis menguasai Malaka pada tahun 1511, yakni “Barangsiapa menguasai Malaka bisa mencekik Venesia. Sejauh Malaka dan dari Malaka ke Cina dan Cina ke Maluku, dan Maluku ke Jawa, dan dari Jawa ke Malaka dan Sumatra, semuanya sudah berada dalam kekuasaan kami”. Pada kutipan tersebut sangat jelas tergambar kebanggaan dan keberhasilan dari Portugis menguasai Malaka. Portugis memahami bahwa jantung perekonomian nusantara waktu itu berada di selat Malaka. Artinya, Portugis bisa menetukan supply dan demand, menguasai sumberdaya alam yang diperdagangkan dan distribusi dari barang tersebut. Sedangkan kata mencekik ini ditafsirkan sebagai persaingan sesama negara “koloni” dari Barat seperti Inggris, Spanyol, Belanda, maupun pedagang dari Timur seperti Persia, Gujarat dan sebagainya.
Jatuhnya Malaka ditangan Portugis membawa dampak yang cukup besar bagi jalur perdagangan di Nusantara. Namun, perubahan itu tidak diartikan sebagai kemunduran dalam maritim di Nusantara. Banten menjadi jalur baru dan kemudian menjadi sangat ramai setelah Malaka. Pesatnya perdagangan dan perekonomian di Banten saat itu, menjadikan pelabuhan Banten sebagai bandar yang ramai dikunjungi pedagang dan pelaut dari nusantara maupun “atas angin”. Meski pada akhirnya Banten jatuh juga ditangan kolonial VOC dan hegemoni Banten dilumpuhkan. Selanjutnya, tidak kalah membanggakan sekaligus menyedihkan, tentang bagaimana kekuatan maritim dari Makasar yang begitu kuat pada akhirnya takhluk juga. Hal ini tidak lain dikarenakan jatuh bangunnya kerajaan maritim di nusantara dan disisi lain kekuasaan dari kolonial yang begitu represif dan tamak tersebut merubah peta sejarah nusantara, dalam hal ini adalah sejarah Indonesia.
Kajian mengenai maritim di Indonesia tidak bisa dilepaskan oleh seorang guru besar bernama A.B Lapian. Bisa dibilang beliau adalah nakhoda sejarawan maritim di Indonesia. Beliau telah meletakan pondasi yang cukup penting dari studi kemaritiman di nusantara. Disertasinya mengenai kawasan laut di Sulawesi pada abad ke-19 ini memberi pengaruh cukup besar bagi penelitian selanjutnya, baik bagi sejarawan maupun yang tertarik pada isu maritim[3]. Bagaimana beliau secara teliti membahas mengenai silang bahari nusantara dan yang melingkupinya, antara seperti pelabuhan, perompakan, pelayaran dan sebagainya. Pelabuhan pada waktu itu bukan hanya sekedar tempat untuk berlabuh, melainkan tempat berkumpul untuk berdagang. Dengan kata lain, pelabuhan merupakan penghubung antara dunia seberang laut dengan daerah pedalaman. Ihwal perompakan malah banyak pakar berpendapat bahwa perompakan tersebut adalah merupakan bentuk kuno dari perdagangan. Sebab, sebelum manusia memperoleh barang kebutuhannya dari luar lewat pertukaran atau perdagangan, pada masa awal mereka cenderung merampas barang yang diperlukannya.
Sedangkan mengenai pengetahuan tentang laut dan pelayaran dimasa lampau dan sekarang, pelayaran merupakan suatu ketrampilan yang dipelajari secara turun temurun dalam tradisi masyarakat bahari atau bahkan diperoleh secara alamiah oleh suasana kelautan tersebut. Namun, bagi pelaut yang berpengalaman, keahlian berlayar lebih merupakan suatu seni yang khusus. Pengetahuan tentang sistem arus dan angin  pada suatu tempat dan waktu tertentu, peredaran bintang di langit untuk dijadikan petunjuk arah saat berlayar, ketrampilan membelokkan atau meluruskan layar pada saat yang tepat, juga pengetahuan geografis dan oseanografis untuk mengenal daerah-daerah yang dilintasi. Menurut A.B Lapian, hanya pelaut tertentu saja yang menghayati keahlian berlayar sebagai suatu seni disamping akal juga memerlukan rasa. Bagi pelaut yang demikian, samudera bukan sekedar suatu bentangan air yang sangat luas,sebab setiap perubahan warna, pola gerak air, bentuk gelombang, jenis burung dan ikan disekelilingnya adalah penunjuk yang khas untuk menentukan arah perjalanan. Berada ditengah laut yang luas sekalipun tidak akan pernah kehilangan  akal karena daya dan rasanya kuat untuk mengambil keputusan dalam keadaan apapun.[4]
 Poros maritim dan juga pidato kebudayaan dari Hilmar Farid ini tidak serta merta dinilai secara politis saja, namun ada tujuan besar dibalik itu, yakni merintis kembali apa yang dulu pernah ada dan jaya. Jika kembali lagi kepada karya A.B Lapian, tentang pelayaran dan perniagaan di nusantara pada abad ke-16 dan 17, ada dua poin penting yang patut diperhitungkan dalam rangka kebijakan pembangunan ke depan. Pertama pengetahuan dan teknologi, kedua adalah masalah teritori wilayah nusantara[5]. Relevansinya dengan masa sekarang adalah, pengetahuan dan teknologi modern ala Barat  menuai keberhasilan dan juga kegagalan. Indikator dari pembangunan model Barat adalah pembangunan harus sejalan lurus dengan pertumbuhan ekonomi. Pembangunan yang berorientasi terhadapa pertumbuhan ekonomi telah mendorong kegiatan eksploitasi sumber daya alam secara berlebihan, baik yang terbarukan maupun tidak.[6] Hal ini berdampak pada sumberdaya alam yang dieksploitasi dan lingkungan lokasi tersebut dengan konflik-konflik sosial yang cukup rumit. Marjinalisasi nelayan kecil terjadi karena mereka harus berkompetisi dengan teknologi yang lebih efektif, misalnya penangkapan ikan secara tradisonal dikalahkan dengan model pukat harimau yang lebih efektif dan destruktif.
Mengenai masalah teritorial sendiri juga menjadi perbincangan yang cukup ramai meski sudah dibahas, ditetapkan, dan diakui dalam undang-undang  Internasional mengenai batas-batas kelautan Indonesia. Persengketaan laut dengan ditandai nelayan nelayan asing (Vietnam, Filipina, Malaysia) atau nelayan Indonesia yang dituduh “mencuri” ikan di wilayah teritori negara lain, sampai sekarang seperti permasalahan yang tidak kunjung selesai. Beberapa waktu lalu, kebijakan membakar kapal nelayan asing yang masuk keperairan Indonesia dilakukan sebagai tindakan “tegas” atas hegemoni laut Indonesia. Namun, dengan begitu permasalahan akan selesai begitu saja? Secara historis, orang Bugis sudah terlibat dalam eksplorasi dan ekspolitasi perairan yang sekarang diklaim milik negara tetangga tersebut. Orang Bugis-Makasar sejak abad ke-17 atau bahkan sebelumnya sudah sampai di belahan utara Australia. Bahkan mereka tidak hanya menyambangi wilayah tersebut tetapi juga mengolah hasil tangkapan berupa tripang di daratan utara Australia, tepatnya  di Merege (Teluk Carpentaria) dan Kaju Djawa (Pantai Kimberley)[7]. Maka dari itu, sejarah adalah sumber dan rujukan dalam menyelesaikan sengketa tersebut, supaya didapatkan jawaban yang lebih bijak dan diterima kedua belah pihak.
 Pada akhirnya, sejarah bisa mengungkapkan kembali hal-hal yang pernah kita punya. Hal yang tersembunyi karena perubahan arus zaman yang terus bergerak maju. Namun jika dikaji kembali, peristiwa sejarah tersebut bisa menjadi pelajaran berharga untuk masa kini dan untuk better future. pelaksanaan pembangunan dalam segala aspek, akan lebih bijak dan berhati-hati jika kebijakan diambil dengan menilik kebelakang sebagai pertimbangan. Pidato kebudayaan dari Hilmar Farid sesungguhnya tidak lepas dari keprihatinan hal ihwal maritim yang dulu pernah ada dan jaya. Kenapa kita sekarang seakan “memunggungi” laut? Sebagai seorang sejarawan dan murid dari A.B Lapian, dia mencoba melihat kembali potensi kejayaan negara Indonesia jika sektor maritim diperhatikan dan bukan dipandang sebelah mata. Mengapa pula negara kita seolah lupa lautan dan sadar daratan? Ini merupakan bahasan yang cukup menarik jika membalik arus kebudayaan dari negara Indonesia dengan menatap laut sebagai sektor yang penting. Pidato tersebut membahas cukup detail mengenai magnum opus kemunduran kejayaan maritim nusantara dari laut menjadi masuk ke pedalaman (daratan). Pembahasan dari sudut pandang sejarah dengan dikaitkan kebudayaan, mencoba memberi solusi mengembalikan cara pandang baru tentang proyeksi ke depan. Suara jernih dari Cikini ini patut disimak, direnungkan, dan dipikirkan demi kejayaan Negara kesatuan Republik Indonesia supaya semakin jaya. Jalesveva Jayamahe!














[1] Telaah Awal dari Pidato Kebudayaan Hilmar Farid di TIM

[2] Pramoedya Ananta Toer, Arus Balik. Jakarta: Hasta Mitra, 2002., hlm. 472.
[3] Lihat Adrian B. Lapian, Orang laut, Bajak laut, Raja Laut: Sejarah Kawasan Laut Sulawes Abad XIX. Jakarta: Komunitas Bambu, 2011.

[4] Tulisan A.B Lapian dalam Taufiq Abdullah, dkk (ed), Sejarah Indonesia: Penilaian Kembali Karya Utama Sejarawan Asing. Depok: Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Budaya UI, 1997., hlm.  26-27.

[5] Lihat Adrian. B. Lapian, Pelayaran dan Perniagaan Nusantara Abad ke-16 dan 17. Jakarta: Komunitas Bambu, 2008.

[6] Bondan Kanumoyoso, dkk (ed), Kembara Bahari: Esei Kehormatan 80 Tahun Adrian B. Lapian. Depok: Komunitas Bambu, 2009.,  hlm. 110-111

[7] Adrian B. Lapian, Pelayaran.. hlm. 46-50.

Senin, 01 September 2014

Merantau itu..


Sudah beberapa hari berada di Depok, Jawa Barat, ada beberapa hal baru yang saya alami. Di sini kata “saya” lebih banyak digunakan dari pada “aku”(biar terkesan formalistik shit). Satu hal yang masih sampa detik ini dirasakan adalah “blank”. Pelik memang, di daerah perantauan kita harus survive entah apapun bentuknya. Mulai mengeja dari satu tempat ke tempat yang lain. Asyik memang, kesan seperti backpacker an tapi bukan. Mungkin beberapa tahun ke depan akan mencoba menetap di sini, mencecap betapa ramainya Depok. Secara geografis, depok berada di dekat Jakarta dan Bogor. Dekat dengan kota besar dan metropolis berdampak pada daerah sekitar. Ramainya, padatnya, dan mahalnya biaya hidup di sini, saya baru merasakan bagaimana rasanya merantau.
Kita semua tahu, Yogyakarta adalah kota yang ‘ramah’, kota pendidikan katanya. Bakunya, Yogyakarta adalah magnum opus dan di sana saya merasakan nyaman. Mulai menginjak Depok, saya merasakan hampir tidak jauh dengan suasana Jakarta,  padat, crowded. Ini masih pandangan awal seorang perantau akan daerah domisili barunya. Rasa-rasa perbandingan dengan daerah asal masih kuat terasa. Hal ini tak lepas karena saya hampir seperempat abad ini belum pernah mengalami perantauan, jika pun itu jauh paling hanya vakansi.
Ramainya kota Depok mungkin didominasi oleh orang perantauan di Jakarta yang bertempat tinggal di sini selain penduduk asli. Ditambah lagi dengan adanya kampus UI menambah mesranya kota Depok. Beberapa kali masuk di daerah Kampus UI di Depok rasanya besar sekali. Pasalnya saya hanya jalan kaki mengitari seperempat kampus yang memang sangat besar dan asri. Jika di bandingkan dengan kampus yang ada dijogja, mungkin di UI masih banyak daerah hijau dengan pepohonan yang cukup besar-besar. Meski di Jogja juga banyak kampus yang memiliki lahan hijau, namun beberapa sudah dibabat dan ditanami dengan beton-beton yang menjulang ke langit. Entahlah, itu mungkin penilaian saya yang subyektif.
Jika kita berbicara kenyamanan antara Jogja dan Depok, itu relatif. Sudut pandang kenyamanan yang mana yang akan dituju. Saya mengamati, transportasi publik di Depok-Jakarta sudah lumayan bagus dibanding dengan transportasi publik yang ada di Jogja. Jika ditanya masalah fasilitas yang lain, saya juga belum faham, belum adanya transportasi pribadi membuat saya belum bisa ‘klayapan’ ke kota Depok dan sekitarnya. Jadi sudut pandang perbandingan ini masih berada dalam tataran yang sangat sempit sekali. Di sini saya harus pandai-pandai menemukan rasa nyaman itu sendiri,  entah bagaimana caranya. Tapi, senyaman-nyaman tempat adalah kampung halaman kita sendiri.
Menginjak daerah Jawa Barat, saya dan teman-teman sekalian yang dari daerah Jawa Tengah ke timur harus siap di panggil ‘Jawa’. Jika ada orang yang bertanya “asalnya dari mana mas?, dari Jogja?”. “Oh.. dari Jawa. Entah asal muasalnya dari mana kurang faham. Mungkin itu gegara penyerangan yang dilakukan oleh Mahapatih Gajah Mada terhadap rombongan Maharaja Linggabuana. Sebelumnya, Hayam Wuruk raja dari Majapahit ingin memperistri anak dari Raja Sunda, Dyah Pitaloka, untuk mempererat hubungan dan memperkuat politik. Namun apa daya, ambisi dan perbedaan pendapat antara Gajah Mada dan Hayam Wuruk berimbas pada diluluhlantahkannya rombongan raja, permaisuri beserta anak perempuannya.
Mungkin ini logis juga, pasca pertistiwa itu anak satu-satunya Raja yang masih tersisa (Prabu Siliwangi) menerapkan semacam politik isolasi. Memutuskan hubungan dengan Majapahit dan melarang warganya “larangan estri ti luaran” semacam tidak boleh menikah dengan orang Majapahit. Nah, pada masa kontemporer ini pun jika kita vakansi atau lewat di beberapa daerah Jawa Barat, kita tidak pernah akan menemukan nama jalan, atau nama tempat, universitas etc, yang berhubungan dengan Majapahit atau ‘Jawa’. Begitu juga sebaliknya. Meski sudah bhineka tunggal ika, tradisi ini terus dilestarikan, terutama penyebutan orang timur dengan Jawa. Beberapa kali saya bercakap dan berkenalan dengan banyak orang pasti menyebut daerah saya dengan “Jawa”. Meski secara geografis, pulau yang kita tinggal ini adalah pulau Jawa. Ah, ambisi dan perselisihan Gajah Mada menua dan menurun sampai detik ini. Sebenarnya bukan apa-apa, hanya lucu saja.
Sebagai orang yang masih merah tentang perantauan, maka saya harus membiasakan diri dengan lingkungan dan adat-istiadat sekitar. Kita harus hati-hati dengan ini, pasalnya beberapa hari yang lalu di Jogja terjadi sebuah tragedi. Ya, menurut saya itu tragedi. Kasus seorang perantauan yang mencaci maki kota Jogja dalam sebuah jejaring sosial dan menuai kritikan, bully, dan berujung penahanan mungkin. (sampai detik ini kasus masih dalam proses). Sebagai orang Jogja saya memang emosi membaca statment beliau, tapi bagian dari masyarakat Jogja saya memaafkan, meskipun dari sebagian itu tidak terima dan mempermasalahkan. Tuhan saja Maha Pemaaf. Kita ambil hikmah saja dari pelajaran tersebut, bahwasanya kita harus lebih berhati-hati dalam berperilaku. Itu saja. Pepatah mengakatan ‘di mana bumi dipijak, di situ langit dijinjing. Jikalau pun kita tidak suka dan emosi sekalipun, kita curahkan emosi ditulis dalam tulisan pribadi. Biar dikata tidak up to date, mencari selamat lebih utama daripada sekarat. Media sosial memang kejam dibandingkan dengan perasaan kita yang bertepuk sebelah tangan terhadap seseorang. Apalah, Absurd!
Maka dari itu, tips merantau saya belum ada karena masih baru. Tapi tips yang paling ampuh mungkin mulai memanajemen diri, waktu, dana, dan cinta. Oia lupa, saya pernah membaca sebuah buku dan ada potongan nasihat dari Imam Syafii tentang merantau yang sempat saya tulis ulang ke dalam catatan. Kurang lebih seperti ini ; “Orang berilmu dan beradab tak kan diam di kampung halaman. Tinggalkanlah negerimu dan merantaulah ke negeri orang. Merantaulah, kau akan mendapatkan pengganti dari kerabat dan kawan. Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang. Aku melihat air menjadi keruh karena diam tertahan. Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak akan keruh menggenang. Singa jika tidak tinggalkan sarang tak akan dapat mangsa. Anak panah jika tak tinggalkan busur tak akan kena sasaran. Biji emas bagaikan tanah sebelum digali dari tambang. Kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa jika di dalam hutan”. Jika kita cermati ada benarnya juga, tapi tidak masalah. Rezeki, Jodoh, dan Mati itu ada ditangan Tuhan. Kita hanya mengusahakan yang terbaik. Jadi merantau atau tidak merantau menurut saya adalah pilihan. Tabik!
Entah ini substaninya apa saya juga bingung, yang jelas supaya blog saya ini kembali makmur dengan tulisan yang terkesan absrud-absurd ini. Hahahahah
Depok, 1 September 2014
01:27 Ante Meridiem (AM)
Dini Hari
Hasby Marwahid


Senin, 14 Juli 2014

Iktikaf AMM Piyungan 1435 H

Mari sila dan ikuti dan semarakkan Iktikaf AMM Piyungan Angkatan V


Iktikaf Cahaya Ramadhan Angkatan Muda Muhammadiyah Piyungan Angkatan V
Tempat : Masjid Al Mustaghfirin, Munggur, Srimartani, Piyungan, Bantul, Yk.

No.
Hari, Tanggal
Tema
Pemateri
0
Rabu,
16 Juli 2014
Kajian Pembukaan Iktikaf:
Muhammadiyah Membangun Karakter Bangsa
Ustadz dr. H. Agus Taufiqurrahman, M. Kes, Sp. S.
(Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah DIY)

1
Kamis,
17 Juli 2014
Menjadi Muslim yang Sebenar-benarnya
Ustadz Drs. Muhsin Haryanto, M. Ag. (Dosen tetap FAI-UMY dan Dosen tidak tetap STIKES Aisyiyah Yogyakarta)
2
Jum’at,
18 Juli 2014
Tiada Islam Tanpa Jamaah
Ustadz H. M. Muchlas Abror (BPH UAD)
3
Sabtu,
19 Juli 2014
Manhaj Tarjih Muhammadiyah
Ustadz H. Wawan Gunawan Abdul Wahid, Lc. M.Ag.
(Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah)
4
Ahad,
20 Juli 2014
Gerakan Tajdid Muhammadiyah
Ustadz Dr. H. Khoiruddin Khamsin, M.A. (Ketua LPPI UMY/ Majelis Tarjih dan Tajdid P.P Muhammadiyah )
5
Senin,
21Juli 2014
Muhammadiyah dalam Arus Pergerakan Islam Indonesia
Ustadz Nugroho Noto Susanto, S. Ip. (MPK P.P Muhammadiyah)

6
Selasa,
22 Juli 2014
Islam Konservatif, Liberal, dan Modernis
Ustadz Dr. H. Andi Darmawan, M.Ag. (Majelis Tabligh P.P Muhammadiyah)
7
Rabu,
23 Juli 2014
Diskusi Panel:
Peran Pergerakan Islam dalam Membangun Umat
(Muhammadiyah, Salafi, dan Pengamat Pergerakan Islam)
Ustadz Hilman Latief, S. Ag, M.A, Ph. D.  (Dosen UMY)

Salafi

Ustadz Dr. Yayan Suyatna, M.Ag.
(Pengamat Pergerakan Islam)
8
Kamis,
24 Juli 2014
Peta Pergerakan Islam Transnasional di Indonesia
Ustadz Dr. Sidik Jatmika, M. Si. (Dosen Isipol UMY)
9
Jum’at,
25 Juli 2014
Problematika Umat Menuju Rohmatan lil’alamin
Ustadz dr. H. Agus Sukaca, M.Kes.
( Ketua Majelis Tabligh P.P Muhammadiyah)
10
Sabtu,
26 Juli 2014
Sumbangsih Gerakan Islam di Indonesia
Ustadz H. Suwandi Danu Subroto (LPCR Pimpinan Daerah Muhammadiyah Bantul)


Cp : 08985111426 (Hasby)

PAMFLET

Unduh Pamflet disini 
Ditunggu partisipasinya.. ajak kerabat dan mari berdiskusi membuka mata, hati dan pikiran. Menambah wawasan keilmuan dan cakrawala pengetahuan tentang Islam, dakwah, sejarah, sosial, dan politik.