Tampilkan postingan dengan label Sajak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sajak. Tampilkan semua postingan

Kamis, 25 Desember 2014

Akhir Desember


Hujan turun dalam dekap angin
Tempiasnya meneyejukkan bumi
Bunyi riuh rendah suara bising
..dan dingin yang begidik

Secangkir kopi dan sebait kata-kata
Lepas menakar aksara
Ada rindu jauh di sana
Tentang dunia yang menjadi lucu

Silih berganti orang bernyanyi
Melepas kesepian
Memecah keheningan
Tentang dunia yang menjadi lucu

Ada orang canda candi
Bercerita dan melamun
Terbahak dan merenung
Tentang dunia yang menjadi lucu

Ya.. lucu
Suara rindu yang tidak terbendung
Melepas bait-bait yang menjadi aksara
Berpikir akan jauh dan gelap


Depok Margonda, 25 Desember 2014
Rabu Sore di sebuah Cafe,


Hasby Marwahid

Minggu, 19 Agustus 2012

Jumat, 15 Juni 2012

APATISME


Di sudut gedung megah
Angin sepoi-sepoi menghembus
Rintik hujan menderu
Hilir mudik orang
Dengan sejuta aktivitasnya

Ku hempaskan diri,
Asap mengepul galau
Menunggu,
Jam bergerak tak kunjung usai

Di depan berkoar-koar..
Bak binatang lapar
Saling bertarung
Menyampaikan janji
Yah, janji lagi..

Tak peduli dalam kesepian
Setetes semangatku
Ku isi lagi

Selasa, 11 Oktober 2011

Dongeng Lalu


Temaram lampu kota mulai redup
Dikala malam berganti dini
Guyuran angin malam mulai sejuk menusuk
Berjejer keramain di gelap malam
Dengan sesuatu yang dirundung pilu
Ayam juga belum berkokok
Selintas teringat kabut silam
Di mana kami masih terlihat formal
Yah. . . putih abu-abu

Kejayaan mengangkang di atas kepala kami
Saat di mana mulai mengerti
Sahabat yang tak pernah abadi

Senin, 10 Oktober 2011

HURUF*


Wahai huruf,
Bertahun kupelajari kau
Kucari faedah dan artimu
Kudekati kau saban hari
Saban aku jaga
Kutatp dikau dengan pengharapan
Pengharapan yang tidak jauh
Dari hendak ingin dapat dan tahu

Tetapi ; kecewa hatiku
Kupergunakan lain
Menjadi senjata di alam kanan
Agaknya belum juga berfaedah
Seperti yang kuhendakkan
Selalu dikau kususun rapi
Diatas kertas pengharapan yang maha tinggi

Tetapi. . .
Bilalah aku diliputi asap kemenyan sari
Tak kuasa aku menyusun kamu
Hingga susunan itu dapat dirasakan pula
Oleh segenap dunia
Sebagai yang kurasa pada waktu itu
Alangkah akan tinggi ucapan
Terimakasihku; bilalah kamu
Menjadi buku terbuka
Bagi manusia yang membacanya

Kaulah aku direndam lautan api
Hendaklah kamu meredam pembacanya
Bilalah aku sendu pilu
Hendaknya kamu merana dalam hatinya

Huruf, huruf. . .
Apalah nian sebabnya maka kami
Belum tahu akan maksudku. . ?

Sadar No. 5 Th. 11,
10 januari 1947
*Dikutip dari Pramaoedya Ananta Toer, Menggelinding 1 (ed: Astuti Ananta Toer), Jakarta: Lentera Dipayana, 2004.

Rabu, 05 Oktober 2011

Ruang Hampa


Berseru-seru dia kepada kami
Berputar-putar
Melingkar-lingkar
Tahukan dia kami bermuram

Muka-muka kosong tak berdaya
Hati menyimpan, pikiran beradu
Menari-nari kami terhenyak
Di belakang kami mendendam

“Berputar-putar
Melingkar-lingkar”,

Apa tidak terpikir
Hanya rutinitas manfaat
Patah arang
Ini pembodohan
Semangatmu asli, palsu dimata kami
Lemah dan bosan

“Berputar-putar
Melingkar-lingkar”,

Kata paham semakin jauh
Bosan mendekat
Kapan berontak?
Professor terbang melayang
Di bawah bayang-bayang
Tentang masa kejayaan

Kolong Kelas 111
October, 06 2011
08:09 WIB

Senin, 03 Oktober 2011

Next?


Sajak-sajak pelan mengalir lembut
Mendadak membuncah
Sang Kholik sudah menitahkan
Waktu  duga dan tidak diduga
Tabir pembuka kejadian
Selaksa anak panah
Meluncur cepat
Tepat sasaran !

Mendung menutup langit
Seakan tidak rela
Angin semilir terasa syahdu
Sang juang dan gigih
Telah berpulang
Kapan kami menyusul?
Sekarang, lusa, esok,
Entah. . . .
End!

Monday, Okt 03, 2011.
12:12 AM
Munggur



Sabtu, 24 September 2011

Quo Vadis Kemalasan ?



Gagal. . .
Hari itu telah lewat
Batasnya sudah habis
Kesempatan itu, oh.. jauh sudah
Harapan itu telah melambaikan tangan. .
“selamat tinggal”,  sampai ketemu dikesempatan yang lebih baik
Tapi kapan? Pertanyaan retoris!
Keringat dan peluh bersatu
Maksimal telah melawan keteledoran
M A L A S ! !

Cahaya siang ini semburat
Ditengah pencakar langit yang gagah menantang
Di sudut ruangan yang kusut
Sebuah meja kerja yang lenggang
Oh. . dimanakah gerangan
Kutunggu dan terus kutunggu
Demi secarik kertas sarat makna
Buku ini sudah lusuh terbantai
Tidak juga terdengar datang
Gayung tak bersambut
Kertas tak bertuan
Sekali lagi, badan ini lunglai terkapar
Kesempatan oh kesempatan

Kupacu mesin menembus semak belukar
Kutatap matahari dengan panas membara
Tergelak, isak tawa dan tangis
Bersatu
Dentuman petir telah lewat
Yah, semua sirna sudah.
Kekonyolan ini..
Diri ini..
Tubuh ini..
Dan,
Kesempatan ini, konyol konyol dan konyol !!

“tidak !! pekikan keras itu menembus telingaku
Pundi-pundi cahaya itu masih ada
Gapaila, genggam dan pelukkah
Hari ini memang sia-sia
Tapi esok?
Menit, jam, hari, bulan, tahun
WAKTU !!
Jantung ini masih berdetak
Bumi masih bergetar
Elok pemandangan pelipur lara
Berlari ku mengitari hamparan
Luasnya dunia di sempitnya hati

Manusia-manusia licik itu.
Ya… Mereka !!
Menari-nari di atas lekukan mata ini
Disingkiri,  didekati. .tersingkir, terasing
Kompetisi dari munafiknya dunia
Dia ada didepan kita
Terlihat, terdengar dan terbaca
Lawan dan bantai
Langkah gontai lemah gemulai
Semilir angin tersenyum pelan.
Seraya terbisik “kamu pasti bisa”.

Munggur, 21/9/2011

Jumat, 12 Agustus 2011

Si Ceria yang Muram


Muka ceria tampak berubah seketika menjadi awan hitam
Langit mendung tapi tidak hujan
Matahari tertutup awan
Langit dengan bumi
Utara dengan selatan
Titik temu yang begitu jauh
Yah, jauh !
Kemana senyum yang dulu selalu berkembang ?
Bagai bunga yang mekar abadi
Bak biduan di pentas lakon sebuah “dagelan”
Mendadak mulut menyusut
Mata mengecil
Beuh ! MELAMUN
Si kotak hitam kemanakah kamu?
Kemarilah, temui juraganmu
Biar harinya berwarna lagi

Didedikasikan untuk teman saya yang kehilangan dompetnya. “Arfan Andriyanto”