Minggu, 10 Februari 2013

Aku (nya) Chairil Anwar


Kalau sampai waktuku

‘Ku mau tak seorang kan merayu

Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang

Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku

Aku tetap meradang menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari

Berlari

Hingga hilang pedih peri

Dan aku akan lebih tidak perduli

Aku mau hidup seribu tahun lagi

Maret 1943


Sumber : Chairil Anwar, Aku Ini Binatang Jalang ; Kumpulan Puisi, (Jakarta : Gramedia, 1993).

Puisi yang menurut saya memendam sebuah makna yang mendalam, dan sangat menginspirasi..

Munggur, Yogyakarta
11 Februari 2013


Hasby Marwahid

Jumat, 01 Februari 2013

Pelajar dan Degradasi Moral

“Belajar adalah rekreasi terbesar dalam hidupku”
            Sebuah potongan kata indikasi tujuan bagi para pelajar yakni belajar. Pelajar dan belajar menjadi satu rangkaian yang “harusnya” tidak dapat dipisahkan. Belajar mempunyai makna yang cukup luas, bukan hanya sekedar tentang mengerjakan pekerjaan rumah (PR), menuntut ilmu dengan rutinitas sekolah, berorganisasi, membaca buku dan sebagainya, akan tetapi merujuk kepada yang lebih dalam, belajar memaknai hidup. Jika hal tersebut tidak di pikirkan secara filsafati, mungkin bisa menjadi bias dan kehilangan makna. Mencoba mengartikulasikan makna pelajar yang sebenarnya dengan segala dinamikanya yang semakin hari menguap terdegradasi seiring berlalunya jaman.

Senin, 21 Januari 2013

Banjir yang Menyejarah


                Tayangan televisi pada akhir-akhir ini sedang marak menyuguhkan berita tentang banjir di mana-mana, khususnya di ibukota Indonesia, Jakarta. Mulai dari pusat kota, pinggiran sungai, sampai istana kepresidenan pun tidak luput dilanda banjir. Kondisi tersebut menimbulkan efek yang begitu mendalam, seperti pengungsian, jalanan macet sampai pada aktifitas perekonomian yang hampir “mandek”. Jalannya pemerintahan pun juga terancam terganggu dengan adanya musibah rutin musiman ini. Tidak bisa kita pungkiri, banjir selalu dan selalu saja seperti menjadi hal yang wajar terutama di ibukota.
                Kita sering melihat, bagaimana pemerintah selalu mencarikan solusi untuk musibah rutin musiman ini. Pergantian pemimpin dari waktu-kewaktu ternyata belum juga mampu mengurangi sampai menuntaskan tragedi banjir. Kondisi tersebut membuat kita menjadi prihatin atas keseringan musibah yang berdampak

Mukadimah Anggaran Dasar Muhammadiyah (Latar Belakang Sejarah)


Oleh : Hasbi Marwahid
            Pada periode Ki Bagus Hadikusuma (1950-1953), Muhammadiyah telah berhasil membentuk Muqadimah Anggaran Dasar. Ki Bagus Hadikusuma  melihat betapa pentingnya rumusan Mukadimah bagi sebuah anggaran dasar, sebab dalam Mukadimah ini akan memberikan gambaran kepada dunia luar tentang pandangan hidup serta tujuan luhur yang dicita-citakan oleh Muhammadiyah. Sebenarnya, hasil rumusan Ki Bagus Hadikusuma tentang Mukadimah ini pertama kali diperkenalkan dalam Muktamar Darurat tahun 1946. Selanjutnya pada Muktamar ke-31 di Yogyakarta tahun 1950, konsep Mukadimah Anggaran Muhammadiyah hasil dari pemikiran Ki Bagus Hadikusuma tersebut, dibahas dan disahkan secara resmi.

Warisan K.H. Ahmad Dahlan (studi Muhammadiyah masa awal)


Oleh : Hasbi Marwahid
Muhammadiyah merupakan organisasi sosial keagamaan yang didirikan oleh K.H Ahmad Dahlan pada tanggal 8 November 1912. Sejak dua belas tahun berdirinya Muhammadiyah, yakni pada tanggal 23 Februari 1923, tepat pada usia yang ke-55, K.H Ahmad Dahlan meninggal dunia. Beliau meninggalkan Muhammadiyah dalam keadaan yang sudah mapan dan sudah mempunyai dasar-dasar yang kuat. Pada periode kepemimpinan K.H Ahmad Dahlan, Muhammadiyah mengalami masa pembentukan dan peletakan dasar-dasar organisasi yang memberikan arah bagi perkembangan organisasi di masa-masa selanjutnya.
Infra struktur organisasi Muhammadiyah yang dibentuk pada masa K.H Ahmad Dahlan terdiri berbagai macam bagian, menurut Alfian, ia membagi menjadi tujuh macam bagian, yaitu: (1) Bagian Tabligh/Dakwah; (2) Bagian Sekolahan; (3) Bagian ‘Aisyiah (4) Bagian Penolong Kesengsaraan Umum, disingkat PKU; (5) Bagian Hizbul Wathan; (6) Bagian Taman Pustaka; dan (7) Bagian Penolong Haji. Masing-masing bagian tersebut di atas dalam perkembangannya menjadi badan-badan tersendiri dalam

Rabu, 26 September 2012

Keselarasan dan Kejanggalan..


…..Tetapkanlah langkahmu, setelah itu mendekatkah pada Nya, lalu berbahagialah, kemudian tenanglah. Tidak ada kata istirahat bagimu, yang ada hanya menyusunkekuatan kembali. veel succes.. dank je all. Percayalah, bahwa setiap kesulitan pasti ada kemudahan, setiap kesulitan pasti ada kemudahan. Permasalahan pasti ada jalan keluar. Tetapkan langkahmu, sekarang, lagi, dan terus. Bekerjalah, menulislah, membacalah, berfikirlah dan berdoalah. Demi sebuah keselarasan, ego, prestis, dan masa depan. Habis gelap, pasti terbitlah terang....

Yogyakarta, 26 September 2012 
 Hasbi Marwahid

Senin, 03 September 2012

Pesan Ki Bagus Hadikusumo untuk para Pemimpin


              Kalau engkau hendak mencari pemimpin sejati ikhlas lahir batin, perhatikanlah dahulu dapur rumahnya dan cara hidupnya sebelum memperhatikan dia penuh dari segi-segi lainnya. Jika engkau lihat dapurnya penuh santapan yang enak dan cara hidupnya yang mewah, hentikanlah penyelidikanmu karena sudah jelas dia bukan pemimpin sejati. Sebab pemimpin sejati tidak mungkin suka hidup mewah. Banyak pemimpin yang mengatakan bahwa kemegahan dan kemewahan itu perlu untuk menjaga standing bangsa dan negara kita di mata dunia internasional, tetapi perkataan itu adalah alasan yang dibuat-buat, sebab di rumah tangga yang terpisah dari dunia internasional mereka suka mewah dan megah juga.