2009,
tepatnya saat bulan suci yang diagungkan oleh umat Islam, bulan Ramadhan. Bulan
di mana kebanyakan orang menjadi mendadak alim, masjid penuh, dan mereka
berlomba-lomba dalam kebaikan, dalam segala aspek. Puasa wajib dilakoni dengan
ikhlas demi mendapat ridho dari Tuhan semesta alam. Banyak sekali amalan yang
bersifat wajib maupun sunnah, seperti sholat tarawih dan sebagainya. Masjid
menjadi pusat kegiatan, mulai dari buka bersama, pengajian-pengajian, TPA, dan
lain sebagainya. Masjid menjadi makmur, bulan yang begitu suci, beramai-ramai
mereka datang meramaikan, bak lumut dimusim penghujan, suasana masjid begitu
menawan dengan masyarakat yang melingkupinya. Demikian juga hal ini terjadi di
sebuah desa disudut kota gudeg, Jogjakarta, sebuah didesa bernama sebut saja
desa Sidongawi. Sebuah makna kiasan untuk menuju menjadi sarat makna.
Desa
Sidongawi terletak tepatnya disudut timur kota Jogjakarta, masih masuk
kabupaten Bantul. Kondisi geografisnya begitu makmur, dengan deretan
gunung-gunung yang gagah menantang, sawah-sawah yang begitu asri ditanami
berbagai macam tanaman pangan oleh para si pembalik tanah, petani. Musim sudah
tidak bisa diprediksi, menurut prediksi seharusnya sudah masuk musim penghujan,
tapi musim kemarau dengan terik panas dan hawa kering masih mewarnai.
Hutan-hutan jati meranggas, menggugurkan daun-daun yang dulu sempat hijau asri.
Desa semi kota, ramai dan semakin padat penduduk. Bangunan makin lama makin
bermunculan dengan semi industrialisasi dan berbagai usaha
Selamat atas terpilihnya kader-kader terbaik dusun Mungur RT 01/02,
sebagai pengurus baru pada periode 2012-2014. Selamat atas dipercayainya kalian
semua memegang amanah sebegai penggerak pemuda di desa intelektual, agamis dan
berbudaya ini. Tidak ada istilah menyerah dalam perjuangan. Sabar, ikhlas dan
komunikasi intensif sesama anggota harus tetap dijaga. Seleksi alam dan
padatnya kegiatan kalian jangan jadikan sebuah keluhan, tapi sebagai peluang
untuk maju dan terus bergerak. Menguak makna dari Mahandika (Maju Hanya dengan
Do’a dan Ikhtiar karena Allah). Dari akar kata itu mengandung arti yang
mendalam dan cerdas. Sungguh kreatif pendahulu kita memberikan nama, karena
nama adalah do’a. Kita sebagai pewaris harusnya bangga akan hal itu dengan
melanjutkan perjuangan-perjuangan yang nyata.
Dalam teorinya A. J Toynbe, menjelaskan tentang pentingnya peran
kelompok minoritas kreatif. Maksudnya, bahwa peradaban itu dipengaruhi oleh
peran-peran kelompok ini. Peradaban itu lahir, berkembang, mencapai puncak dan
runtuh. Seperti siklus yang terus berjalan sesuai dengan kodratnya. Pengaruh
kelompok minoritas kreatif (KMF) dalam sebuah mayoritas itu sangat penting.
Seperti dalam teks-teks sejarah di bawah kolong langit ini, di dunia, khususnya
di Indonesia. Dalam sejarah Indonesia kita
Beberapa orang khalayak umum sering mengatakan pertantangan anatara
teori dan fakta. Sesungguhnya teori tidak bertentangan dengan fakta. Apabila
kita menghadapi suatu problem maka kita akan memgembangkan hipotesa berdasarkan
pengalaman yang dapat kita peroleh. Secara sadar atau tidak usaha memecahkan
suatu problem itu merupakan kegiatan berteori. Berteori adalah aktifitas mental
untuk mengembangkan ide yang dapat menerangkan mengapa dan bagaimana sesuatu
itu terjadi. Akan tetapi berteori tidak
sama dengan teori itu sendiri, karena berteori masih merupakan sebuah hipotesa
terhadap suatu problem. Jadi hipotesa adalah teori yang masih membutuhkan bukti-bukti
empiris lebih lanjut.
Jadi teori itu ibarat rumus. Maksudnya suatu permasalahan yang ada
bisa dianalisa dengan suatu teori. Misalnya, Ibrahim Alfian dalam desertasinya
tentang “perang di Jalan Allah”, yakni tentang perang Aceh. Ia menggunakan
pendekatan Collective Behavior yang menganalisa kenapa perang Aceh tersebut
sangat susah dipadamkan dan berlangsung cukup lama. Ada dorongan yang
mempengaruhi individu di Aceh waktu itu, yaitu doktrin agama, Jihad. Selain
itu, dalam menganalisa sejarah Indonesia secara umum terutama
Pengertian Sejarah menurut Bapak Sejarah, Herodotus adalah satu
kajian untuk menceritakan suatu perputaran jatuh bangunnya seseorang tokoh,
masyarakat dan peradaban. Memeperlihatan pola perkembangan dan kemerosotan.
Fase perkembangan dan kemerosotan dapat dijelaskan dengan dua cara. Pertama,
kemakmuran yang berkelanjutan memunculkan arogansi. Manusia yang arogan mudan
mengabaikan peringatan. Sekali melanggar batas-batas kemanusiaan mereka,
hukuman mengenai mereka adalah dalam bentuk keadilan dan retribusi. Kedua,
kemunculan dan kejatuhan Negara-negara dapat dijelaskan dalam istilah
kebudayaan lembek dan kebudayaan keras. Kebudayaan keras adalah kebudayaan yang
memiliki pemerintahan pusat, bebas dan terbelakang. Kebudayaan lembek adalah
kebudayaan yang kaya, rentan ditaklukan oleh kebudayaan dari luar dan
diperintah oleh seorang raja yang absolute. Herodotus juga memakai informasi
lisan dalam menyusun karyanya. Dalam karyanya tersebut dapat dibedakan mana
yang perkataan langsung dan yang tidak langsung. Pada yang pertama adalah
rekonstruksinya sendiri terhadap peristiwa-peristiwa dan dipakai untuk
menyatakan tema-tema, sementara yang berikutnya dipakai untuk mewakilio
intisari dari perkataan-perkataan langsung.
Thucydides
Dalam karyanya berjudul The Peloponnesian War, ia
menunjukkan ketelitian dan respek terhadap kebenaran dan bukti laiknya yang
diperlihatkan oleh para sejarawan modern. Thucydides berusaha meliput
peristiwa-peristiwa hangat, seperti halnya Herodotus. Ia mengatakan, dari bukti
yang ada, setiap orang tidak akan keliru siapa yang punya pandangan hingga
keadaan zaman purbakala yang molek nyaris seperti apa yang saya gambarkan, yang
tidak menaruh kepercayaan pada kata orang ; penyair mana yang bersyair dengan
lagu, yang memperindah dan memperjelas tema-tema mereka, disatu sisi. Dan
disisi lain, pembuat kronik mana yang mengarang dengan visi yang lebih
menyenangkan ketimbang mengungkapkan kebenaran,
Apa kabar teman ?masih sehat pastinya. Apakah kalian baik-baik
saja?Baiklah saya tidak perlu bertele-tele lagi, saya hanya meanyakan kabar
kalian. Lama kita tidak berjumpa, entah kalian sibuk dengan rutinitas dunia
yang berjubel, kuliah pastinya. Ada yang sudah kerja? Alhamdulillah selamat ber
part time ria, yang jelas jangan lupakan kuliah. Bulan april, mei, juni,
juli dan agustus silam berjuang bersama merajut cerita-cerita indah. Masih
ingatkah kaliah hey kawan?Secerca peristiwa di sudut Magelang?Di mana kampus
membersamakan kita untuk sebuah kehidupan atas angin, yah kebersamaan yang
berlawanan arus.Mari membicarakan makna, mengayam kata dan menarikan jari-jari
menjadi sebuah tulisan.Entah kenapa saya ingin mentafsirkan kalian satu-satu,
penafsiran yang maha subyektif dari saya.Kata “saya” di sini biar kelihatan
semi militer, eh maksudnya semi formal diganti dengan “Aku”.Baiklah sebaiknya
aku mulai dari komunitas kaum Adam dulu, middle, dan lanjut ke kaum hawa. Indramayu, Kota sejuta burjo-nan
*hey mas Muh. Murtafi’ul Afifi, nick name is Afifi, Fiul, Si Mur,
Afif, Murtaf atau entahlah, aku lebih suka memanggilmu Afifi. Si Afifi begitu.Titik. Hmm apa kabar mas
beroo? Apakah kamu tambah gendut? Dengar-dengar porsi makanmu berkurang, apa
gara-gara si Sawi(atau apa aku lupa)? Tentunya tidak, sampai detik ini aku
masih optimis dengan pola makanmu, tidak ada masalah sedikitpun kan? Manusia
dengan porsi makan dewa.Aku menyebutmu sang penghabis, the last man. Eh Apakah
kamu masih suka menyembunyikan pakaian kotor di pojokan kamar?Pas sekali kamu
dengan tipikal anak rantauan, si laundry menjadi solusi. Hey si lelaki yang
selalu terjaga dalam tidur, apakah dengkurmu sudah mengalahkan sang petir?
Rasanya belum ya.Sisi positif dari pola tidurmu teman-teman mengidolakanmu
menjadi satpam, artinya bunyi gerak kecilpun kamu bangun, bahkan semut-semut
yang berjalan pelan pun bisa membangunkanmu.
“aku
belum ngantuk kog”, katamu disaat kami asyik ngobrol.
“eh
fi, besok katanya mau turun ke Jogja, aku titip . . “, “he fii !!”,kataku dengan nada tinggi.
“grooooooookkk,
Zzzzzzzzz”, katamu sambil bersenandung dalam mimpi.
Itu lah, baru satu hal yang kuingat darimu..masih ada seribu lagi.
Hey mas Afifi, masih suka tidak mandi? Pastinya masih.Apa kabar cewekmu?
Kayaknya untuk pertanyaan ini tidak usah aku bahas, terlalu retoris.Semoga kamu
sukses ya dan ajari aku untuk hal yang satu ini.Kayaknya kamu guru yang baik
untuk berguru.Oia, gimana Valentino Rossi, eh maksudku kabar motormu?Apakah
masih suka balapan?Pertama kali aku dibonceng rasanya mau muntah gara-gara
keringatmu.Bukan itu maksudku, kecepatanya mengalahkan kereta Pramex Jepang
boy.Disitu aku dapat ilmu baru, bahwa kelincahan mengalahkan segalanya, tapi
nyawa diradang mata.Kalau yang satu ini tentunya kamu masih ingat, tentang
papan informasi yang jatuh tertiup angin. Mendadak muka kamu merah padam, bukan
marah tapi mati gaya. Kalau ini aku numpang ngakak aja ya gan , wkwkwk.
Sudahlan tidak baik membicarakan rentetan sudut negative dari orang, dosa.Eh
kalau kamu bukan orang to? Jadi ga papa yak.
Si kipper andalan dari UNY ini juga jadi pelatih. Apa kabar juga
team mu? Masih eksis bergulat dalam pertandingan? Sudah berapa piala yang kamu
rebut sekarang? Okelah pokoknya.Tetap semangat dan tetap berkarya kawan.
Sang
Penikmat Gorengan
*mas Arfan
ArdiYANTO.Aku lebih suka memanggilmu mendo, tapi lebih keren lagi Yanto. Kata
kamu itu nama dari Bapakmu. Ternyata masih ada orang yang sayang kamu, Bapak
Yanto dan Ibu Yanto, ehm.Tentunya Mbak Yanto alias mabk mu itu juga.Biarkan si
Desy eh D*sy (Sudah disensor)
melayang layang dengan si dia toh kamu masih punya keluargamu, tapi jangan
masukin aku ke daftar list mu lho, aku tidak MAHO. Hey apa kabar teman si murah/muram
senyum? Sudah stadium berapa otak kamu? Masih waras kan? Ya ya ya.Pernah dengar
ini pantun ini bos? ;
“ke malang mencari kutu, Macan itu nampak garang”
“Apapun usahamu, mbak Sarah tetap milik akang”
Masih kah tidak menyerah?Atau pura-pura tidak sadar? Terlalu capek
aku mengingatkanmu, kompetisi itu munafik harganya. Hanya sebuah hiburan mungil
ditengah peradaban tanpa hiburan.Betul tidak kawan? Eh ngomong-ngomong dompetmu
sudah ketemu belum hey si rupa masam? Benar-benar rentetan kesedihan yang
mendalam, tertawa pun kamu enggan.Hidup ga mau, tapi jangan mati dulu, dosamu
bos, bukan sebiji kurma, tapi setinggi mahameru.Hehehe. Hey lelaki penakut
kegelapan, seperti mukamu yang gelap padam, aku lupa bertanya kabar tentang mu?
Sejenak basa-basi tidak jelas, tapi ikhlas aku bertanya kabar dengan mu, apakah
Fine?Or ?semoga begitulah. Aku masih
ingat candaan tidak jelasmu, seperti hatimu yang tidak jelas ;
“Boos,
minuman opo nek diombe nyolok moto?”, katamu sambil mnyeringai.
“mbuh
fan, lah opo jawabane?”. Kata aku penasaran.
Lalu
kamu mempraktekan dengan bodohnya aku yang memperhatikan.Dalam hati menggenggam
palu dan melemparkan ke arah kamu.
“plaaakkk!!!”,
lamunanku terhenti ketika tanganku memukul mukaku sendiri.
“hehehe,
apek to booss”, jawabmu seakan tidak terjadi apa-apa.
Lalu
aku pura-pura mati saja.
Hey mas terjorok sedunia, aku tak bisa membanyangkan dan sorry ga
bakal tak banyangkan, seperti apa bentuk kamar kamu sesungguhnya. Aku masih
ingat ketika posko menjadi sarang jemuran kotor milikmu. Di bawah kasur, di
dekat pintu, di jendela etc. untuk pakainmu yang berada di dekat pintu, maaf
seribu maaf itu aku kira “welcome/alas/keset”.
Banyak teman-teman seperguruan menasbihkan seperti itu.Tapi aku akui, kamu
sesosok manusia unik menurutku. (ini bukan berarti aku suka lho, nanti dikira
MAho). Eh, gimana