Kamis, 10 Mei 2012

Sapere Aude



Berpikir benar belum tentu bertindak benar.
Berpikir tepat belum tentu bertindak tepat.
Benar sudah pasti benar.
Tapi benar belum tentu tepat.
Tepat disini adalah kontekstual.
Kontekstual juga belum tentu benar.
Itu hanya kebijaksanaan (wisdom).
Jadi benar belum tentu kontekstual.

Sapere Aude artinya berani berpikir sendiri atau beranilah mengambil keputusan sendiri. Dalam berpikir benar belum tentu bertindak benar. Argument-argumen sering dikeluarkan akan tetapi belum tentu apa yang kita ucapkan bisa terlaksana dengan baik. Kadang kata dihianati oleh laku, maksudnya apa yang kita katakan tidak sesuai, bahkan bertentang dengan kelakuan. Banyak kasus yang terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari. Misalnya pelarangan judi, miras, prostitusi, tapi yang melarang malah melakukan dibelakangan. Selain itu pejabat yang getol dengan jargon Anti Korupsi, tapi dianya sendiri tersandung kasus maling (korupsi). Selain itu ada undangan rapat atau acara yang diselenggarakan, misalnya kita menjadi penyelenggara, pelaksana, teman kita atau kita sendiri sering bilang “Insya Allah”, tapi pas hari H, batang hidungnya tidak kelihatan. Sehingga Insya Allah sering dimaknai “tidak pasti” dan menjadi multi tafsir. Astagfrullohaladzim.
Berpikir benar belum tentu tepat. Tepat disini diartikan sebagai kontekstual sedangkan hal yang kontekstual itu belum tentu benar. Contohnya Rosulullah pernah ditanya oleh seorang pezina dan pemabuk, apakah Islam itu? Rosulullah menjawab “Islam Itu jujur!”. Akhirnya orang tersebut harus jujur ketika ditanyai Rosulullah hingga ia menjadi malu dengan perbuatannya. Akhirnya orang ersebut menjadi shaleh berkat kejujurannya. Maka apakah

Senin, 30 April 2012

Televisi: sarana pendidikan atau pembodohan ?


Selama ini jarang ada kursi belajar cepat rusak, yang cepat rusak kebanyakan kursi dan sofa di depan televisi (Prof. Suyanto, Ph.D)
Siapa yang tidak pernah melihat tayangan televisi di zaman modern ini? Rasa-rasanya semua orang lintas usia, baik dari kanak-kanak sampai kawak-kawak pernah menonton dan bahkan kecanduan televisi. Tidak dapat dipungkiri lagi televisi pada zaman ini adalah semacam candu yang berada pada setiap rumah-rumah dari penjuru kota sampai ke pelosok desa, semua tidak luput dari keberadaan televisi. Televisi menjadi sarana pencarian masyarakat akan informasi dan sekedar untuk refreshing dari penat pikiran setelah berkutat dengan aktifitas selama seharian.
Transfer informasi baik secara langsung maupun tidak langsung, TV pasti akan mempengaruhi masyarakat dari segi pola pikir maupun tingkah lakunya. Tayangan TV menyuguhkan life style (gaya hidup) yang terlihat dalam sinetron-sinetron, iklan-iklan, kegilaan akan music, berita-berita baik politik maupun kriminal sampai propaganda pemikiran. Yang terjadi adalah masyarakat seakan dibuat terhanyut dan duduk berlama-lama menyaksikan kenikmatan-kenikmatan duniawi yang dikemas sedemikan rupa oleh kotak yang bernama televisi. Stasiun TV baik swasta maupun negeri berlomba-lomba untuk membuat semenarik mungkin tayangan tersebut agar masyarakat tidak beranjak dari depan layar TV.
Membicarakan televisi memang tidak ada habisnya. Ditinjau dari segi negatifnya, tayangan TV telah menampakkan suatu propaganda yang merusak simbol akhlak dan moral yang ditampakkan dalam acara-acaranya. Yang pertama, Televisi menjadi pembawa maindset (pola pikir) masyarakat. Dengan melihat berbagai serial TV, seperti sinetron, gosip tentang selebriti, film-film barat yang sarat dengan kekerasan, dan berbagai tayangan lain yang sedikit (kurang) mendidik, kita yang dibuat betah berjam-jam untuk menyaksikan serial tersebut dan juga mengikuti apa yang telah kita saksikan. Seperti mode fashion (pakaian) yang terkesan kurang bahan (seksi-red) dan gaya hidup lainnya yang banyak menampakkan sifat hedonistik telah diikuti oleh berbagai kalangan khusunya anak baru gede (ABG) dan remaja kebanyakan. Selain itu, bisnis periklanan yang digalakkan oleh investor asing pun tidak luput menjamah televisi.

Kamis, 19 April 2012

Negeri Rotinesia; negeri salah urus?


Semua orang berpikir untuk mengubah dunia.. Tapi tak satupun berpikir untuk merubah dirinya sendiri... Leo Tolstoy (1828-1910)

 


Akhir-akhir ini banyak demonstrasi yang terjadi di negeri ini, Indonesia. Hal ini dikarenakan kebijakan baru dari pemerintah yang menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM). Tidak bisa dipungkiri sebuah kebijkan pasti akan menuai pro maupun kontra dari kalangan masyarakat. Kenaikan harga bbm pasti akan berimbas dengan kenaikan harga-harga, tak terkecuali harga sembako. Jika dilihat dari pusaran global, harga minyak dunia yang tiap tahun pasti naik membuat pemerintah harus menyesuaikan harga guna menghindari deficit. Masyarakat pun dibuat resah dengan hal tersebut, akan tetapi pemerintah kali ini menawarkan solusi, yakni bantuan langsung tunai sementara (blts). Secara kasat mata, kebijakan ini seperti memberi ikan kepada pemancing, bukan memberi kailnya untuk mencari ikan. Maksudnya, masyarakat kecil atau wong cilik diberikan subsidi untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Bantuan tersebut sejumlah 100-200 ribu kepada setiap kepala keluarga yang masuk kategori tidak mampu (miskin). Tanggapan dari berbagai pihak pun muncul, mulai dari pengamat kebijakan dan para akademisi. Mereka menganggap hal ini akan berdampak buruk, yakni ketergantungan masyarakat kepada bantuan tersebut. Menurut saya, alangkah bijaknya pemerintah untuk membuka dan mempermudah terhadap akses masyarakat untuk dapat semudah-mudahnya mendapatkan lapangan pekerjaan. Ini yang menjadi kendala, sulitnya lapangan pekerjaan menambah daftar tragis dari penderitaan rakyat. Pemerintah harus memfasilitasi hal ini. Jika tidak maka angka pengangguran yang ada dinegeri ini akan semakin naik dan terus naik. Padahal kita tahu bahwasannya pengangguran imbas dari sulitnya lapangan pekerjaan akan berdampak buruk terhadap kondisi social dan politik dimasyarakat. Seperti kriminalitas tentu menjadi buntut dari hal tersebut.
Bangsa Indonesia adalah bangsa yang kaya akan sumber daya alamnya. Jika mengutip dari salah satu bait lagunya Koes Plus pun “bukan lautan tapi kolam susu, kail dan jala cukup menghidupimu”. Ironis sekali melihat carut marutnya pengurusnya negeri ini dalam segala aspek. Bahkan ada yang menyebutkan negeri ini salah urus. Tapi apakah yang salah urus? Aspek mana? Sejauh mana salah urusnya? Tentu hal ini menjadi pekerjaan rumah yang besar bagi kita semua, yaitu pemerintah,masyarakat dan stake holder lainya. Negeri yang kaya tentu dapat mencukupi kebutuhan masyarakatnya. Coba kita tengok bangsa Jepang,bagaimana jepang berkembang menjadi macan asia. Dahulu Barat mencemooh bangsa berwarna, termasuk asia. Tetapi tekad jepang untuk

Senin, 05 Maret 2012

Bismillahirohmanirohim

BULAN INI SAYA MULAI, SEMOGA SEMUANYA DIBERI KELANCARAN, KEMUDAHAN DAN KESUKSESAN. JIKA SUDAH MULAI, TIADA KATA MENYERAH (MALAS_red). AMIN.
ALLAH BERSAMA ORANG-ORANG YANG SEDIKIT TIDUR. :D

A. Membaca

 B. Menulis

Jumat, 24 Februari 2012

Matahari

Demi matahari dan cahayanya di pagi hari.
By the Sun and his (glorious) splendour;

Dan bulan apabila ia mengiringi
By the Moon as she follows him;

Dan siang apabila menampakkannya,
By the Day as it shows up (the Sun's) glory;

dan malam apabila menutupinya,
By the Night as it conceals it;

dan langit serta pembinaannya,
By the Firmament and its (wonderful) structure;

dan bumi serta penghamparannya,
By the Earth and its (wide) expanse:

dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya),
By the Soul, and the proportion and order given to it;

maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya,
And its enlightenment as to its wrong and its right;-

sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu,

Truly he succeeds that purifies it,

dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.
And he fails that corrupts it!

QS. asy-Syams (91) 1 - 10

Senin, 20 Februari 2012

Memoar Kemajuan Jaman (unfinished)

-->
2009, tepatnya saat bulan suci yang diagungkan oleh umat Islam, bulan Ramadhan. Bulan di mana kebanyakan orang menjadi mendadak alim, masjid penuh, dan mereka berlomba-lomba dalam kebaikan, dalam segala aspek. Puasa wajib dilakoni dengan ikhlas demi mendapat ridho dari Tuhan semesta alam. Banyak sekali amalan yang bersifat wajib maupun sunnah, seperti sholat tarawih dan sebagainya. Masjid menjadi pusat kegiatan, mulai dari buka bersama, pengajian-pengajian, TPA, dan lain sebagainya. Masjid menjadi makmur, bulan yang begitu suci, beramai-ramai mereka datang meramaikan, bak lumut dimusim penghujan, suasana masjid begitu menawan dengan masyarakat yang melingkupinya. Demikian juga hal ini terjadi di sebuah desa disudut kota gudeg, Jogjakarta, sebuah didesa bernama sebut saja desa Sidongawi. Sebuah makna kiasan untuk menuju menjadi sarat makna.
Desa Sidongawi terletak tepatnya disudut timur kota Jogjakarta, masih masuk kabupaten Bantul. Kondisi geografisnya begitu makmur, dengan deretan gunung-gunung yang gagah menantang, sawah-sawah yang begitu asri ditanami berbagai macam tanaman pangan oleh para si pembalik tanah, petani. Musim sudah tidak bisa diprediksi, menurut prediksi seharusnya sudah masuk musim penghujan, tapi musim kemarau dengan terik panas dan hawa kering masih mewarnai. Hutan-hutan jati meranggas, menggugurkan daun-daun yang dulu sempat hijau asri. Desa semi kota, ramai dan semakin padat penduduk. Bangunan makin lama makin bermunculan dengan semi industrialisasi dan berbagai usaha

Rabu, 11 Januari 2012

Yang Muda, Yang Berkarya


Teruntuk para pengurus Mahandika yang baru
Selamat atas terpilihnya kader-kader terbaik dusun Mungur RT 01/02, sebagai pengurus baru pada periode 2012-2014. Selamat atas dipercayainya kalian semua memegang amanah sebegai penggerak pemuda di desa intelektual, agamis dan berbudaya ini. Tidak ada istilah menyerah dalam perjuangan. Sabar, ikhlas dan komunikasi intensif sesama anggota harus tetap dijaga. Seleksi alam dan padatnya kegiatan kalian jangan jadikan sebuah keluhan, tapi sebagai peluang untuk maju dan terus bergerak. Menguak makna dari Mahandika (Maju Hanya dengan Do’a dan Ikhtiar karena Allah). Dari akar kata itu mengandung arti yang mendalam dan cerdas. Sungguh kreatif pendahulu kita memberikan nama, karena nama adalah do’a. Kita sebagai pewaris harusnya bangga akan hal itu dengan melanjutkan perjuangan-perjuangan yang nyata.
Dalam teorinya A. J Toynbe, menjelaskan tentang pentingnya peran kelompok minoritas kreatif. Maksudnya, bahwa peradaban itu dipengaruhi oleh peran-peran kelompok ini. Peradaban itu lahir, berkembang, mencapai puncak dan runtuh. Seperti siklus yang terus berjalan sesuai dengan kodratnya. Pengaruh kelompok minoritas kreatif (KMF) dalam sebuah mayoritas itu sangat penting. Seperti dalam teks-teks sejarah di bawah kolong langit ini, di dunia, khususnya di Indonesia. Dalam sejarah Indonesia kita